JPW Dukung Rencana Dirikan Sekolah Khusus Remaja Klitih

share on:
Baharuddin Kamba || YP-Ismet

KASUS kejahatan jalanan, di mana, pelaku dan korbannya dominan yakni para remaja/ di bawah umur (akrab masyarakat Yogyakarta menyebutnya klithih) menjadi persoalan serius yang harus segera ditangani baik oleh pemerintah kabupaten/kota maupun propinsi selain aparat kepolisian dan lembaga pendidikan.

Aksi klithih dalam dua pekan terakhir  ini mendapat banyak sorotan dari masyarakat pasca meninggalnya Daffa Adzin Albasith seorang pelajar SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta, pada Minggu (3//4/2022) lalu.

Hingga kini Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta sedang menggodok sekolah khusus untuk menampung remaja pelaku kejahatan jalanan atau klithih. Para pelaku klithih ini nantinya ditampung yakni para remaja yang sulit ditangani oleh pihak sekolah maupun keluarganya. 

Sekolah khusus bagi pelaku klithih akan berada di Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, DIY ini tak hanya menitik beratkan pada sisi akademik namun  perubahan perilaku.

Jogja Police Watch (JPW) mendukung semua langkah pemerintah baik kabupaten/kota maupun propinsi termasuk pihak kepolisian serta lembaga pendidikan dalam rangka meminimalisir bahkan memberantas aksi-aksi kejahatan jalanan atau klithih, yang selama ini dapat mencoreng citra Yogyakarta sebagai kota pelajar, kota budaya dan kota wisata. Semua langkah yang telah, sedang maupun akan dilakukan oleh pemerintah propinsi maupun kabupaten/kota termasuk pihak kepolisian serta lembaga pendidikan pasti mempunyai niat dan tujuan yang baik.

JPW menawarkan beberapa cara (mensoundingkan) kepada pemerintah dengan harapan dapat memutus mata rantai kejahatan jalanan atau klithih ini.

Pertama, melakukan pemetaan dan pendataan para "alumni" atau senior yang tentunya berpengaruh di geng sekolah atau geng pelajar. Kedua, pemerintah setempat melakukan pengenalan atau silaturahmi kepada para alumni atau senior ini. Tentunya pengenalan ini butuh waktu yang tidak sebentar dan tidak ujug-ujug. Ketiga, setelah melakukan pengenalan atau silaturahmi yang lama, pemerintah setempat dapat menawarkan atau membuka lowongan pekerjaan bagi para "alumni" atau senior ini. Keempat, disela-sela memberi pekerjaan bagi para "alumni" atau senior ini, pemerintah setempat ngobrol dari hati ke hati agar para "alumni" atau senior ini membantu pemerintah untuk menekan aksi-aksi klithih di Yogyakarta. Dipastikan kedua belah pihak merupakan orang lokal Yogyakarta. Kelima, monitoring dan  evaluasi atau monev secara berkala. 

Alasan kenapa para senior atau alumni karena bisa jadi para pelaku kejahatan jalanan atau klithih selama ini lebih takut, lebih patuh dan lebih manut sama para senior atau alumni ketimbang pada orangtua atau sekolah. Selain itu salah satu penyebab munculnya aksi klithih adalah adanya peran alumni atau senior  di sekolah. (Baharuddin Kamba, Aktivis JPW)

 


share on: