Setelah memberikan kenang-kenangan kepada Korps Marinir TNI Angkatan Laut berupa Gending Gati Marinir pada November 2020 lalu, Sri Sultan Hamengku Buwono X memberikan hadiah spesial kepada TNI AU berupa dua buah perangkat gamelan bernama Kyai Dirgantara dan Kyai Madyantara.
Selain itu, Sultan juga menghdadiahkan Gending Gati Dirgantara yang diciptakan secara khusus untuk TNI AU. Penyerahan gamelan dan gending dilaksanakan Sabtu (9/4/2022) bertepatan dengan Hari Bhakti (Ulang Tahun) TNI AU ke-76.
Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro selaku Penghageng KHP Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat tidak menjelaskan perihal dua perangkat gamelan yang dihadiahkan kepada TNI AU. Tetapi untuk Gending Gati Dirgantara tersebut ditegaskannya berbeda dengan Gending Gati Marinir yang dihadiahkan ke Korps Marinir yang terdahulu. Sebab, Gending Gati Marinir merupakan Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono VII, sementara untuk Gending Gati Dirgantara Laras Pelog Pathet Barang ini merupakan karya Sri Sultan Hamengku Buwono X dan baru diciptakan awal tahun ini. Gending ini diciptakan secara khusus untuk dihadiahkan ke TNI Angkatan Udara.
“Terciptanya Gending Gati Dirgantara Laras Pelog Pathet Barang berawal dari Dhawuh Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono .Pada Januari 2022, Ngarsa Dalem berkenan untuk menciptakan sebuah gending Gati yang akan diberikan kepada Angkatan Udara Republik Indonesia,” ujar Notonegoro seperti dikutip dari rilis yang diterima yogyapos.com dari Tepas Tandha Yekti Keraton Yogyakarta, Minggu (10/4/2022)
Ditambahkan Gusti Noto, kata Dirgantara berarti awang-awang, langit, angkasa, atau ruang udara di atas bumi. Gending Gati Dirgantara ini berkarakter gagah, penuh semangat, dan sangat identik dengan dunia kemiliteran. Berbeda dengan gending Gati lain yang pernah ada di Keraton Yogyakarta, Gending Gati Dirgantara memiliki beberapa keunikan diantaranya terdapat jenis kendangan khusus yang merupakan ciri khas dari Gending ini. Keunikan kedua terletak pada permainan instrumen tambur dan Piatti yang berbeda dengan teknik yang biasa digunakan pada gending Gati lainnya. Selain itu, pada bagian akhir, permainan balungan dibuat ngracik (cepat) dan nada instrumen tiup berakhir pada nada tinggi.
Sedangkan jalinan nada yang tersusun dalam Gending Gati Dirgantara ini, terinspirasi dari gerak pesawat tempur yang terbang gagah di angkasa dengan gerak meliuk-liuk, naik-turun dan bermanuver, untuk menjaga kedaulatan bangsa Indonesia. Dengan terciptanya Gending Gati Dirgantara tersebut, Keraton Yogyakarta berharap agar Angkatan Udara Republik Indonesia semakin profesional, modern, tetap teguh pada visi dan misi, serta terus memberikan yang terbaik dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selanjutnya Gusti Noto berharap, Gending Gati Dirgantara ini bisa menjadi kenang-kenangan yang menambah semangat teman-teman TNI AU dalam menjaga kedaulatan NKRI, sekaligus menjadi tanda persahabatan dan kerja sama yang telah terjalin selama ini antara Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, khususnya Kawedanan Kridhamardawa dengan rekan-rekan Angkatan Udara Republik Indonesia. (*/Sulistyawan Ds)
