Yogyapos.com (SLEMAN) - Pemicu terjadinya angin kencang dan hujan es disebabkan oleh awan konvektif, yaitu awan yang dihasilkan oleh proses konveksi akibat pemanasan yang cukup tinggi. Itu cenderung terjadi disiang hari dan menyebabkan cuaca ekstrem. Kondisi seperti itulh yang terjadi di wilayah Kabupaten Sleman belakangan ini saat peralihan musim hujan ke musim kemarau.
“Jadi jam 10.00 WIB ini mulai membentuk, kemudian naik-naik dan kejadian prosesnya sampai dua jam. Nanti masuk bisa terjadi hujan yang cukup tinggi pada siang menjelang sore. Jadi, awan konvektif akan terbentuk saat siang menjelang sore,” jelas Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogya, Warjono di Komplek Kantor Bupati Sleman, Jumat (31/3/2022).
Menurut dia, cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini lantaran banyak pembentukan awan Cumulonimbus sebagai akibat udara hangat di sekitar lereng Gunung Merapi. Secara topografi daerah Sleman di seputar lerang Gunung Merapi berdampak pada pola angin, pembentukan awan diseputar Muntilan dan Borobudur cenderung bergerak ke arah Sleman. Pembentukan awan ini lazim terjadi saat peralihan musim atau pancaroba.
“Pertumbuhan awan Cumulonimbus di sisi kanan dan kiri lereng Gunung Merapi, angin dari barat laut dan utara masuk ke sini (wilayah Sleman-red), maka akan berpotensi angin kencang dan hujan es,” ungkapnya.
Berbeda saat dimusim kemarau, lanjut dia, adanya pegunungan di wilayah Gunungkidul cenderung membuat awan hujan meski tidak terlalu berbahaya dibandingkan pada waktu musim peralihan saat ini.
“Sedangkan potensi kejadian ditengah malam, kejadianya di laut, makanya nanti saat tengah malam dampaknya ada di pesisir selatan, seperti di Kulonprogo, Bantul dan Gunungkidul,” jelasnya.
Terkait masa pancaroba dari bulan Maret sampai dengan Mei 2022, pihaknya menyatakan masih ada potensi sebagai dampak cuaca ekstrem.
“Kami sudah merillis untuk waspada cuaca ekstrem dibulan Maret sampai bulan Mei. Jadi sekarang di bulan April masih proses pancaroba, yaitu munculnya awan-awan singel artinya tidak banyak tapi dia menjelang tinggi dan berpotensi menjadi hujan yang sangat lebat, angin kencang dan petir termasuk adanya hukan es yang durasinya tidak panjang, biasanya sekitar 15 menit,” pungkasnya. (Opo)
