Warga Nglarang Bimbang, Belum Ada Kejelasan Proyek Tol Yogya-Solo

share on:
Imam Sutadi || YP-Eko Purwono

Yogyapos.com (SLEMAN) - Warga Dusun Nglarang, Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati yang terimbas pembangunan trase Jalan Tol Yogya-Solo makin bimbang. Pasalnya sejak dipasang sejumlah patok koordinat setahun silam, hingga kini belum diperoleh kepastian proses pembebasan lahan akan direalisasikan.

Disisi lain, sebagian warga menggantungkan turunnya uang ganti kerugian (UGM) yang telah dijanjikan oleh pihak terkait yang disampaikan ketika digelar sosialisasi di Kantor Kalurahan Tlogoadi beberapa waktu lalu.

Pernyataan kebimbangan tersebut diontarkan oleh Imam Sutadi (45) warga Dusun Nglarang RT 04 RW 29. “Keberadaan patok Jalan Tol Yogya-Solo itu sudah hampir satu tahun lebih, saya sebagai warga terdampak masih bingung, kok lama sekali, dari awal pemasangan patok belum ada  tindak lanjut dari Pemerintah,” ungkap Imam dalam perbincangan dengan yogyapos.com di kediamannya, Jumat (13/8/2021).

Kondisi ini, membuat dirinya tak berani melangkah untuk mencoba mencari lahan pengganti, sedangkan  seluruh tempat tinggalnya bakal tergusur  oleh proyek strategis nasional ini dan itu merupakan aset satu-satunya untuk menopang kehidupan dengan keluarganya.

“Rumah tempat tinggal dan lahan yang terdampak totalnya mencapai 980 meter persegi, ada sebagian yang tidak kena itu apakah bisa tercover pihak terkait, itu yang belum tahu, kita mau melangkah itu ragu-ragu, kecuali  jika sudah ada pembayaran ganti rugi, saya kan belum punya lahan tempat berpindah hanya mengandalkan pembayaran ganti rugi,” kata pria wiraswasta ini.

Dirinya berharap, warga terimbas proyek jalan tol diberikan informasi yang jelas dan transparan sehingga tidak memicu keresahan yang berlarut-larut.

“Kami berharap segera ada kejelasan informasi, warga tidak diombang-ambingkan, kita maunya ada informasi yang lebih jelas lagi, sehingga kita lebih nyaman dan tenang, dan berharap nila ganti untung nanti lebih dimanusiakan,” tuturnya.

Ketua RT 04 RW 29 Padukuhan Nglarang, Suhindarto mengaku bahwa warga terdampak di wilayahnya mendukung pembangunan jalan tol, menurut dia ada sekitar 35 KK dan sebanyak 60 unit rumah yang akan tergusur, dirinya berharap segera ada realisasi proses pembebasan lahan.

“Saya selaku RT sering ditanya oleh warga, warga gelisah, kapan akan dilakukan proses pembayaran ganti untung, lha saya terus terang tidak bisa menjawab. Sampai saat ini belum pernah ada tim yang turun terkait proses pembebasan lahan, semoga pemerintah memperhatikan nasib kami,” ungkapnya. (Opo)

 


share on: