Yogyapos.com (SLEMAN) - Upaya melestarikan budaya bangsa terus dilakukan dengan pendekatan kreatif oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Salah satunya melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk ‘Pemberdayaan Seni Rupa Bersumber dari Wayang Kulit dalam Kisah Mahabarata’ yang di Pendapa Cepit, Soropadan, Condongcatur, Depok, Kabupaten Sleman, Minggu (28/6/2026).
BACA JUGA: Pelajaran Keamanan Pangan dari Sebuah Perjalanan Wisata
Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, yang bertujuan mengenalkan seni dan budaya wayang kepada generasi muda melalui metode pembelajaran yang edukatif, interaktif, dan menyenangkan.
Pengenalan wayang dan kisah Mahabarata || YP-Ist
Tim pengabdian dipimpin oleh Dr Sn Dona Prawita Arissuta SSn MHum dengan anggota Prof Dr Narsen Afatara MSn, Dr Sigit Purnomo Adi SSn MSn, Dr Dyah Yuni Kurniawati SSn MSn, dan Fika Khoirun Nisa SPd MSn. Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa Program Studi Seni Rupa FSRD UNS, yakni Nurohman, Nawla Najwan Rafida, Rangga Mas Syahid, dan Putri Nur Rizki sebagai pendamping peserta.
BACA JUGA: Korban Pelatihan Calon Manajer KDMP Bertambah, Gus Hilmy: Hentikan Dulu Programnya dan Investigasi
Sebanyak 40 anak usia Sekolah Dasar mengikuti workshop yang diawali dengan pengenalan tokoh-tokoh wayang Mahabharata oleh Anang Suwondo dari Sanggar Joglo Kinasih. Selama kurang lebih satu jam, peserta dikenalkan berbagai karakter wayang seperti Pandawa Lima, Punakawan, Kurawa, beserta sifat, filosofi, ciri khas, hingga teknik dasar memainkan wayang kulit.
BACA JUGA: Presiden Terima Lencana Emas KTNA, Diakui Berpihak pada Petani dan Nelayan
Suasana berlangsung hidup dan interaktif. Anak-anak tampak antusias menyimak materi, menjawab pertanyaan narasumber, hingga mencoba memainkan wayang sebelum memasuki sesi praktik mewarnai.
Peserta workshop || YP-Ist
Dalam penyampaiannya, Anang Suwondo menegaskan bahwa wayang merupakan identitas budaya Indonesia yang patut dibanggakan.Kisah Mahabharata, berasal dari India, tetapi seni pertunjukan wayang telah berkembang, diadaptasi, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Indonesia.
BACA JUGA: Menyelami Laut Kerinduan dalam 'Gelombang Laut Ibu' Karya Ulfatin Ch
Wayang bukan sekadar hiburan, melainkan media pendidikan karakter yang mengajarkan kejujuran, keberanian, kebijaksanaan, kesetiaan, dan tanggung jawab.
Karena itu, sudah menjadi tugas kita bersama untuk menjaga, melestarikan, dan mengenalkannya kepada generasi muda agar warisan budaya bangsa ini tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
BACA JUGA: Puisi Aprinus Salam: Indonesia Sedang Berjalan Ke Mana
Setelah menerima materi, peserta mengikuti praktik mewarnai tokoh-tokoh wayang Mahabharata menggunakan cat akrilik pada media wayang berbahan kardus. Tim FSRD UNS memberikan pendampingan mengenai teknik dasar pewarnaan agar menghasilkan perpaduan warna yang harmonis sekaligus melatih kreativitas, ketelitian, dan rasa percaya diri anak.
BACA JUGA: Teman Hebat Records Rilis 15 Lagu Penyanyi Berkebutuhan Khusus
Ketua Tim Pengabdian, Dr Sn Dona Prawita Arissuta SSn MHum, mengatakan seni dapat menjadi media efektif untuk membangun karakter generasi muda sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya bangsa
BACA JUGA: Ikatan Pelajar Muhammadiyah SMA Muhi Yogya Resmi Buka MONACO #11 2026
"Kami ingin anak-anak belajar dengan cara yang menyenangkan. Melalui kegiatan ini mereka tidak hanya mengenal tokoh-tokoh wayang, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur seperti kejujuran, keberanian, kerja sama, dan tanggung jawab yang terkandung dalam kisah Mahabharata. Harapannya, mereka tumbuh menjadi generasi yang kreatif sekaligus bangga terhadap budaya Indonesia," ungkap Dona.
Salah satu peserta menujukkan tokoh wayang kesayangannya || YP-Ist
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Mereka mengikuti setiap sesi dengan penuh semangat hingga berhasil menyelesaikan karya wayang masing-masing.
BACA JUGA: Kemenhaj Gelar Seleksi Terbuka Jabatan Administrator dan Pengawas
Wayang sendiri telah diakui oleh UNESCO sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity sejak tahun 2003, sebagai pengakuan atas nilai budaya, filosofi, dan perannya dalam membentuk identitas masyarakat Indonesia. Pengakuan tersebut semakin menegaskan pentingnya upaya pelestarian wayang melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, seniman, pemerintah, dan masyarakat. (Agn)
