Yogyapos.com (SLEMAN) - Kekesalan dilontarkan oleh peserta sosialisasi rencana konstruksi Jalan Tol Solo - Yogyakarta - NYIA Kulonprogo Seksi II paket 2.1 segmen Purwomartani-Maguwoharjo oleh PT Daya Mulia Turangga (DMT) yang digelar di Pendopo Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Rabu (11/9/2024).
Pasalnya, PT DMT selaku pelaksana proyek tidak mampu menjawab sejumlah pertanyaan secara detail, terkait permasalahan yang dihadapi warga terdampak proyek strategis nasional tersebut.
Eko Candra warga Padukuhan Ringinsari RT 12 RW 52 Kalurahan Maguwoharjo Kapanewon Depok Sleman || YP-Eko Purwono
“Saya kecewa dengan sosialisasi ini, engak ada jawabannya, belum terjawab pertanyaan saya?,” ujar Eko Candra warga Padukuhan Ringinsari RT 12 RW 52 Maguwoharjo usai acara.
Eko mengungkapkan, pihak pemrakarsa mengklaim bahwa sebelumnya sudah dilakukan kajian publik namun menurutnya peserta yang diundang saat itu dinilai tidak representatif.
“Kalau kita baru pertama kali ini diundang dan itu tadi penjelasan kurang jelas, saya tegaskan proyek strategis nasional kok presentasi cuman 10 lembar, tiangnya dimana juga gak bisa jawab, jalannya dimana juga tidak terjawab,” ungkap Eko.
Dirinya menegaskan, pelaksanaan proyek boleh dikerjakan dengan syarat pihaknya mendapatkan keterangan detail dari kontraktor. Diantaranya terkait jalan dan rekayasa lalu lintas karena warga mengeluhkan lantaran trase jalan tol memotong wilayah RT 12 termasuk hilangnya sejumlah jalan. Imbas pembangunan ini pun diprediksi meluas ke satu padukuhan, bahkan bisa ke satu kalurahan juga kabupaten.
“Jadi yang mau ke masjid menjadi tertutup proyek, tadi katanya masih akan dikaji, warga menuntut konsultasi publik ulang yang bisa dipertanggungjawabkan, analisa dampak lingkungan seperti apa?, kalau pun ada sosialisasi ulang pastikan sudah ada jawaban detail,” timpalnya.
Keresahan lain dilontarkan Paryono warga Padukuhan Pugeran Maguwoharjo, dirinya menyampaikan kegundahan terkait nasib bangunan tempat ibadah Masjid Latifah Al Jabbar.
Deputy Project Manager PT.DMT proyek Jalan Tol Solo - Yogyakarta - NYIA Kulonprogo paket 2.1, Arvi Zulham || YP-Eko Purwono
“Kami butuh kepastiaan terkait Masjid Latifah Al Jabbar. Kalau mau dipindahkan dipindahkan kemana?, siapa yang memindahkan, itu yang menjadi pemikiran, selama ini saya ngak bisa tidur,” sebut Paryono.
Sedangkan Deputy Project Manager PT DMT proyek Jalan Tol Solo - Yogyakarta - NYIA Kulonprogo paket 2.1, Arvi Zulham menjelaskan bahwa sosialisasi digelar fokus untuk kepentingan persiapan pekerjaan konstruksi, selain hal tersebut di luar kewenangannya. Agenda sosialisasi ini adalah satu kewajiban untuk mempublish sebelum melakukan proses konstruksi.
“Sosialisasi ini terkait dengan lokasi pekerjaan konstruksi, bukan terkait sosialisasi lingkungan ataupun Amdal, sehingga kapasitas kami untuk menjawab proses pekerjaan konstruksi yang akan kami lakukan dan dampak yang timbul, kami menerima aspirasi masyarakat yang akan kami evaluasi,” jelas Zulham.
Terkait warga yang terdampak pembangunan, sebelum memulai pekerjaan konstruksi, pihaknya akan memberikan waktu kepada para dukuh untuk melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat.
“Jadi tim akan melakukan identifikasi terhadap rumah-rumah yang terdampak, termasuk yang tidak terdampak langsung,” katanya.
.jpg)
Bagi warga terdampak yang telah dibayarkan uang ganti kerugian atau bebas lahannya, dipersilahkan oleh PPK pengadaan untuk membongkar secara mandiri, sehingga material yang sekiranya masih bisa dimanfaatkan bisa dipergunakan kembali.
“Kalau kami melakukan pembongkaran menggunakan alat berat,” ujarnya.
Pihaknya menandaskan tidak akan memberikan bentuk kompensasi, namun tidak menutup kemungkinan tetap mengakomodir jika ada warga yang terimbas pembangunan, seperti getaran dan sebagainya.
“Kita akan menyikapi hal itu, jika ada warga yang melakukan komplain dampak pekerjaan konstruksi jalan tol, monggo bisa hubungi kami melalui humas di lapangan,” sambungnya. (Opo)
