PIKNIK atau wisata adalah momen yang dinanti banyak orang. Bersama keluarga, sahabat, atau rekan kerja, kita menikmati perjalanan, keindahan alam dan berbagai macam sajian kuliner yang menggugah selera. Namun, di balik kenikmatan tersebut, ternyata dapat menyimpan sebuah risiko yang kadang kita tidak sadari, yaitu keracunan makanan (foodborne illness) yang timbul akibat mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh mikroorganisme.
BACA JUGA: Menuju HANI 2026, BNNK Sleman Sambangi Panti Asuhan Daarul Ilmi
Kejadian seperti ini sebenarnya tidak jarang terjadi. Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami mengapa satu jenis makanan dapat menyebabkan banyak orang sakit dalam waktu hampir bersamaan.
BACA JUGA: Aklamasi, Yanuar Nur Rohman Kembali Terpilih Ketua Umum KB PII Jateng 2026-2030
Makanan menjadi sumber penyakit
Sesungguhnya makanan merupakan sumber energi dan nutrisi bagi tubuh. Akan tetapi, makanan dapat menjadi sumber infeksi karena berperan sebagai sarana bagi mikroorganisme patogen untuk masuk ke dalam tubuh manusia. Bahkan, Hipokrates (460 SM) telah menyatakan bahwa terdapat hubungan yang erat antara makanan yang dikonsumsi dan timbulnya penyakit pada manusia. Kuman bawaan pangan (foodborne pathogens), seperti virus, bakteri, maupun parasit, merupakan kuman yang dapat menyebabkan penyakit melalui makanan.
BACA JUGA: Razia Narkoba di Lapas Narkotika Kelas II A Yogyakarta, Ini Hasilnya
Penyakit yang disebabkan makanan dapat disebabkan melalui dua mekanisme, yaitu:
- Foodborne infection: merupakan infeksi bawaan makanan yang terjadi ketika seseorang menelan makanan yang mengandung mikroorganisme patogen hidup (seperti bakteri, virus, atau parasit). Patogen tersebut kemudian menetap dan biasanya berkembang biak di dalam tubuh manusia. Karena bakteri memerlukan waktu untuk berkembang biak setelah masuk ke dalam tubuh, biasanya terdapat masa inkubasi, sehingga gejala baru muncul beberapa waktu setelah makanan dikonsumsi. Pada infeksi ini biasanya tubuh akan mengalami demam sebagai respons awal imun. Contoh kuman: Salmonella spp., Campylobacter spp., dan Listeria monocytogenes
- Foodborne intoxication: Pada keadaan ini, kuman telah berkembang biak terlebih dahulu di dalam makanan dan menghasilkan toksin. Ketika makanan tersebut dikonsumsi, toksin langsung masuk ke tubuh sehingga menimbulkan gejala. Karena toksin sudah terbentuk sebelum makanan dimakan, gejala intoksikasi umumnya muncul jauh lebih cepat dibandingkan dengan gejala yang disebabkan oleh infeksi bawaan makanan. Biasanya, gejala yang muncul adalah muntah-muntah hebat yang sering terjadi segera setelah mengonsumsi makanan. Contoh kuman: Staphylococcus aureus (menghasilkan enterotoksin) dan Clostridium botulinum (menghasilkan neurotoksin botulinum).
BACA JUGA: Menteri Jumhur Hidayat Sampaikan Salam Presiden Prabowo kepada Raja Charles di Istana St James
Ada juga beberapa mikroorganisme unik seperti Bacillus cereus yang dapat menyebabkan kedua jenis kondisi tersebut, yaitu sindrom emetik (muntah) yang merupakan intoksikasi dari racun di makanan, dan sindrom diare yang merupakan infeksi akibat sel bakteri yang tumbuh di usus halus.
BACA JUGA: Presiden Terima Lencana Emas KTNA, Diakui Berpihak pada Petani dan Nelayan
Gejala keracunan makanan
Gejala akibat keracunan makanan sangat bervariasi tergantung pada jenis mikroorganisme atau racun yang tertelan. Namun, pada umumnya gejala yang mucul meliputi:
- Gejala pada saluran pencernaan yang berupa mual muntah, diare (dapat berupa cair hingga diare berdarah), sakit atau kram perut, dan dehidrasi
- Gejala sistemik dan infeksi umum yang meliputi demam dan menggigil, sakit kepala, nyeri otot, dan rasa tidak enak badan secara umum serta kelelahan yang luar biasa
- Gejala saraf dapat terjadi pada kasus tertentu, seperti pada botulisme (keracunan yang disebabkan oleh racun neurotoksin dari bakteri C.botulinum), yang menyerang sistem saraf dan bersifat sangat serius, seperti penglihatan ganda atau kabur, mulut kering, sulit menelan, sulit mengendalikan lidah, hingga kelumpuhan otot yang dapat menyebabkan gagal napas.
BACA JUGA: RI Berkomitmen Dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja
Beberapa infeksi memiliki gejala unik atau dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat, seperti keguguran pada wanita hamil, pembengkakan sekitar mata yang biasanya terjadi akibat parasit, serta sakit tenggorokan dan sendi.
Waktu kemunculan gejala ini (onset) dapat terjadi sangat cepat dalam 1–7 jam atau memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu tergantung pada jenis kuman yang menginfeksi. Sebagian besar gejala pencernaan bersifat self-limiting (sembuh sendiri), namun jika gejala saraf atau dehidrasi parah muncul, penanganan medis segera sangat diperlukan
BACA JUGA: Teman Hebat Records Rilis 15 Lagu Penyanyi Berkebutuhan Khusus
Yang perlu diperhatikan adalah gejala diare. Gejala ini dianggap oleh banyak orang harus segera dihentikan. Padahal, dalam batas tertentu, diare merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh yang bertujuan untuk mengurangi waktu kontak antara kuman atau toksin dan dinding usus. Ketika saluran cerna mendeteksi zat berbahaya, tubuh berusaha mengeluarkannya secepat mungkin. Gerakan usus menjadi lebih cepat dan penyerapan cairan berkurang, sehingga feses menjadi lebih cair. Meski demikian, diare yang berlebihan dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit. Inilah sebabnya penderita sering merasa lemas, pusing, berdebar, atau mengalami kram otot. Dalam banyak kasus, justru dehidrasi yang menjadi ancaman utama, bukan infeksi itu sendiri.
BACA JUGA: Normalisasi Sungai Code, Tahap Awal Bergerak dari Terban
Antibiotik belum tentu dibutuhkan
Salah satu hal yang menarik saat wabah diare menimpa sekelompok orang. Ketika gejala mulai muncul, sebagian orang panik dan langsung mencari antibiotik.
Padahal tidak semua diare memerlukan antibiotik! Sebagian besar kasus gastroenteritis akut dapat membaik dengan terapi suportif berupa istirahat, rehidrasi, dan pemantauan kondisi pasien. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat justru dapat memperburuk kondisi tertentu atau meningkatkan risiko terjadinya resistensi bakteri.
Inilah pentingnya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum memutuskan untuk menggunakan obat.
BACA JUGA: Mulai 1 Juli 2026, Jemaah Umrah dan Haji Khusus Wajib Lewat Terminal 2F Soekarno-Hatta
Perspektif Islam tentang menjaga kesehatan
Islam mengajarkan bahwa tubuh adalah amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dengan baik. Rasulullah SAW bersabda:
"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)
Hadis ini mengingatkan bahwa kesehatan bukanlah sesuatu yang dapat dianggap sepele. Ia adalah karunia yang sangat berharga. Menjaga kebersihan makanan, mencuci tangan sebelum makan, memastikan makanan tersimpan dengan baik, serta mengonsumsi makanan yang halal dan thayyib merupakan bagian dari upaya menjaga amanah tersebut.
BACA JUGA: Menyelami Laut Kerinduan dalam 'Gelombang Laut Ibu' Karya Ulfatin Ch
Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah: 172)
Konsep thayyib tidak hanya berarti halal, tetapi juga baik, aman, bersih, dan sehat.
Dengan demikian, keamanan pangan sesungguhnya bukan hanya persoalan kesehatan masyarakat, tetapi juga bagian dari implementasi ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA: Puisi Aprinus Salam: Indonesia Sedang Berjalan Ke Mana
Ketika sakit menjadi pengingat
Tidak ada seorang pun yang berharap sakit saat berlibur. Namun, setiap musibah selalu menyimpan pelajaran. Ketika tubuh terbaring lemah akibat diare dan demam, kita kembali menyadari betapa berharganya kesehatan yang selama ini sering kali kita lupakan. Kita belajar bahwa manusia sesungguhnya sangat bergantung pada pertolongan Allah SWT. Dalam kondisi sakit, banyak orang menjadi lebih rajin berdoa, lebih bersabar, dan lebih bersyukur ketika akhirnya diberi kesembuhan.
BACA JUGA: Pergelaran MORSA di Purawisata Berambisi Lahirkan Ekosistem Seni Berkelanjutan
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sakit dapat menjadi penghapus dosa dan sarana peningkatan derajat bagi seorang mukmin yang bersabar. Karena itu, sakit tidak selalu harus dipandang sebagai musibah semata. Ia juga dapat menjadi sarana muhasabah dan perbaikan diri.
BACA JUGA: Menteri Kependudukan Temui Kader TPK di Tamanmartani, Begini Pesannya
Langkah Praktis Mencegah Keracunan Makanan
Langkah pertama yang paling krusial adalah memastikan mikroba tidak masuk ke dalam rantai makanan, yaitu dengan:
- Menerapkan standar kebersihan yang ketat di level pertanian hingga tempat pengolahan untuk mengurangi beban mikroba dasar
- Menjaga kebersihan lingkungan dan fasilitas, yaitu dengan mengatur kondisi sanitasi yang tepat di tempat pengolahan, termasuk pengendalian hama dan pelarangan hewan masuk ke unit pemrosesan.
- Mencuci semua permukaan bahan mentah sebelum diolah untuk menghilangkan sel-sel mikroba yang menempel
- Menggunakan air yang potable (aman diminum) dalam semua tahap pembersihan dan pengolahan makanan
BACA JUGA: Keren! Wali Kota Hasto Wardoyo Ikut Patroli Sungai Gajah Wong
Langkah kedua adalah menghambat pertumbuhan mikroba untuk mencegah mereka berkembang biak hingga mencapai dosis yang membahayakan, yaitu dengan:
- Melakukan kontrol suhu dengan menyimpannya pada suhu rendah untuk memperlambat aktivitas metabolisme mikroba. Namun, perlu waspada karena beberapa kuman patogen seperti Listeria monocytogenes tetap bisa tumbuh di suhu kulkas.
- Memanipulasi factor intrinsik dengan cara menurunkan pH makanan (misalnya di bawah 4.6) guna mencegah pertumbuhan banyak bakteri patogen, termasuk C. botulinum, dan mengurangi jumlah air yang tersedia bagi mikroba melalui pengeringan atau penambahan zat terlarut seperti garam dan gula.
- Menggunakan kemasan vakum atau kemasan atmosfer termodifikasi (MAP) dengan gas seperti karbon dioksida untuk menghambat mikroba aerobik
BACA JUGA: Kepala Dishub DIY Sowan ke Korem 072/Pmk, Ini Tujuannya
Langkah ketiga adalah inaktivasi kuman dengan cara (1) perlakuan panas/termal. Metode yang biasa digunakan adalah pasteurisasi dan sterilisasi komersial. Untuk menghancurkan racun botulinum, makanan perlu dipanaskan hingga 80°C selama 20 menit atau 85°C selama 5 menit. (2) teknologi termal, yaitu dengan menggunakan radiasi, tekanan hidrostatik tinggi, medan listrik berdenyut, dan gelombang ultrasonik untuk membunuh mikroba tanpa merusak nutrisi makanan.
BACA JUGA: Wamen Nezar: Literasi Digital Kini Fokus pada AI dan Perangi Hoaks
Langkah keempat adalah higiene personal dan edukasi. Perlu diingat bahwa kesalahan manusia merupakan faktor risiko besar dalam penyebaran penyakit. Maka, untuk mencegah hal ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu:
- Mencuci tangan dengan sabun dan air adalah metode terbaik untuk menghilangkan virus seperti norovirus dari ujung jari.
- Memberikan pelatihan bagi pengolah makanan dan konsumen sangat penting untuk menghindari perpindahan kuman dari makanan mentah (seperti makanan laut mentah) ke makanan siap saji.
- Memberikan edukasi keamanan makanan melalui program edukasi kepada semua orang yang terlibat dalam produksi hingga konsumsi makanan untuk meminimalkan kasus penyakit
BACA JUGA: Kasrem Kolonel Inf Teguh Wiratama Apresiasi BNI Dukung Berbagai Program Strategis
Langkah kelima adalah pendekatan manajemen risiko berbasis sains. Pendekatan modern ini menggunakan sistem manajemen keamanan pangan berbasis risiko (Risk-based approach) dengan melibatkan identifikasi titik-titik kritis dalam produksi (HACCP) dan penerapan strategi mitigasi yang sesuai untuk mengurangi risiko bagi kesehatan manusia.
BACA JUGA:Terkait Penahanan Raudi Akmal, Ini Respon Baharuddin Kamba dari JCW
Tindakan saat keracunan makanan dan atau minuman
Jika kita sudah sakit akibat makanan yang terkontaminasi, tindakan yang perlu diambil sangat bergantung pada jenis mikroorganisme penyebabnya dan tingkat keparahan gejala. Banyak jenis keracunan dan infeksi makanan bersifat "self-limiting", yang berarti gejala akan mereda dan sembuh dengan sendirinya tanpa perlu intervensi medis khusus atau antibiotik.
BACA JUGA: Advokat Akasa Surya Amicitia SH: Korban Dugaan Penganiayaan di Gondokusuman Terima RJ
Sebagai penutup, penulis ingin mengingatkan bahwa kejadian muntah/diare/demam akibat makanan yang terkontaminasi yang menimpa sekelompok wisatawan mungkin tampak seperti peristiwa biasa. Namun, di baliknya terdapat pelajaran besar mengenai pentingnya keamanan pangan, penggunaan obat yang bijak, serta rasa syukur atas nikmat kesehatan.
BACA JUGA: Terdakwa Penyalahgunaan Merek Usaha Diganjar Penjara 6 Bulan Percobaan 10 Bulan
Kesehatan adalah modal untuk bekerja, belajar, beribadah, dan menjalankan peran kita sebagai khalifah di muka bumi. Semoga setiap pengalaman, termasuk pengalaman sakit, mampu menjadikan kita pribadi yang lebih berhati-hati, lebih peduli terhadap kesehatan, dan lebih bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang sering kali baru kita sadari nilainya ketika ia berkurang atau bahkan hilang.
BACA JUGA: Korem 072/Pmk Bekali ASN dengan Penguatan Karakter Kebangsaan
"Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kesehatan yang baik, kesehatan yang mendekatkan kami kepada-Mu, dan jadikan setiap ujian sebagai jalan menuju kebaikan." Aamiin. (Penulis: Dr dr Sufi Desrini MSc adalah Dosen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta)
