Jogja Membatik Dunia Libatkan Perajin di 25 Negara

share on:
Gubernur DIY Sri Sultan HB X ikut membatik di Pesanggrahan Ambarrukmo || YP-Ist

Yogyapos.com (SLEMAN) - Perayaan kegiatan ‘Jogja Membatik Dunia’ yang merupakan puncak acara Jogja Internasional Batik Bienale (JIBB) 2021 di Komplek Pesanggrahan Ambarukmo Yogyakarta, Sabtu (6/11/2021) berlangsung sangat meriah. Perayaan tersebut ditandai dengan coretan canting perdana oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X dan Menkop UKM Teten  Masduki yang kemudian diikuti oleh ratusan pembatik dari 25  negara di dunia dari rumah-masing.   

Para pembatik ini secara serentak melakukan kegiatan batik dengan pola Ceplok Mangkoro, yang berasal dari bagian penutup kepala sumping pewayangan. Dengan adanya perayaan ini semakin mengokohkan batik Indonesia sebagai cagar budaya warisan tak benda milik bangsa yang diakui dunia. Selain para perajin  batik nusantara, sejumlah seniman batik dunia dari Jepang, Korea, Selandia Baru, Belgia  turut serta dalam kegiatan tersebut.

Menkop UKM Teten Masduki mengungkapkan, menorehkan Ceplok Mangkoro dalam bentuk batik merupakan wujud doa untuk menolak musibah. Hal ini dapat dimaknai sebagaiharapan agar dunia segera pulih dari musibah pandemi, sekaligus pernyataan kuat posisi Jogja sebagai ibukota batik dunia.

“Narasi kuat ini merupakan bukti dari mahakarya produk tradisi Indonesia, paham makna dengan filosofi yang mengakar,” ujar Teten dalam sambutannya secara daring dari Kantor Kementerian Koperasi UKM di Jakarta. 

Selanjutnya Teten mengungkapkan, tema ‘Jogja Membatik Dunia’ yang dipilih panitia penyelanggara dalam kegiatan JIBB 2021 dinilai sangat relevan pada masa pandemi, sehingga pihaknya berharap kegiatan ini mampu menjadi titik ungkit kebangkitan industri wastra khususnya industri batik. 

Mengutip data dari Kementrian Perindustrian RI , Teten menyampaikan bahwa tahun 2020 Indonesia ekspor batik Indonesia mencapai nilai US$ 532,7 juta atau senilai Rp 7,5 Trilyun. Dari sisi pelibatan tenaga kerja, dari 47 ribu unit usaha  batik  yang tersebar di 101 wilayah di Indonesia melibatkan tak kurang dari 200 ribu tenaga kerja. 

“Karena inovator internasional terus menjadin tantangan, maka inovasi menjadi sangat penting untuk terus dilakukan,” tandas Teten. 

Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengatakan bahwa saat ini batik telah menjadi kebutuhan dunia. Bahkan batik yang semula hanya menjadi kebutuhan budaya sekarang sudah menjadi kebutuhan sehari-hari sehingga eksistensi batik ini harus senantiasa dijaga. 

Sebagai penutup acara ditampilkan peragaan busana dari para perancang busana Yogyakarta seperti Afif Syakur, Wening Agga, Lia Mustafa, Yuliani Fitri, Sugeng Waskito serta para disainer lainnya. (*/Sulistyawan Dibyosuwarno)

 


share on: