Festival Van der Wijck Diharapkan Jadi Lokomotif Pariwisata Sleman Barat

share on:
Sosialisasi Festival Van der Wijck, di Aula Balai Kalurahan Banyurejo, Rabu (2/3/2022)

Yogyapos.com (SLEMAN) - Penyelenggaraan Festival Van der Wijck yang rencananya akan dilaksanakan pada 18-19 Maret 2022 adalah upaya bersama untuk mengangkat potensi pariwisata di kawasan Sleman bagian barat. Oleh karena itu, peran serta masyarakat Kalurahan Banyurejo sangat diharapkan karena merekalah subjek pembangunan pariwisata. Keberadaan peninggalan sejarah menjadi icon tersendiri yang menarik untuk dikembangkan.

Demikian Kabid Pemasaran Pariwisata Dinpar Sleman Kus Endarto, SE Mec Dev saat sosialisasi dan koordinasi pelaksanaan Festival Van der Wijck di Aula Kalurahan Banyurejo, Rabu (2/3/2022). Hadir dalam acara itu Lurah Banyurejo beserta perangkat, Ketua Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) dan anggota serta perwakilan masyarakat dari padukuhan Tangisan Kalurahan Banyurejo Kapanewon Tempel Sleman.

Lebih jauh disampaikan, Dinas Pariwisata memiliki tiga target dari dilaksanakannya festival ini. “Pertama, festival ini diharapkan menjadi pembuka pengembangan pariwisata di Sleman bagian barat. Kedua, sebagai bagian upaya mengangkat karakter pariwisata di Sleman bagian barat yang berbasis pertanian. Ketiga, jika dikelola dengan baik event ini diharapkan bisa menjadi agenda tahunan yang diselenggarakan Kemenparekraf,” paparnya.

Sementara itu Lurah Banyurejo Saparjo ST menyampaikan terima kasih bahwa Selokan Van der Wijck dipilih dan dijadikan lokasi festival. “Harapan kami festival ini mampu menggerakkan potensi yang dimiliki Banyurejo. Oleh karena itu, kami mengajak masyarakat Dukuh Tangisan khususnya dan Banyurejo umumnya untuk bersama-sama menyukseskan festival yang baru pertama kali diadakan ini,” pesannya.

Terkait pelaksanaan festival, Heru Mataya selaku koordinator tim kreatif menyampaikan bahwa keberadaan peninggalan Belanda berupa Selokan Van der Wijck memiliki keunikan yang bisa dijadikan keunggulan.

“Festival itu perayaan. Maka kita nanti akan mengeksplorasi potensi sejarah, seni, budaya, kerajinan, UMKM dan kuliner. Tema yang kami angkat adalah daun. Bagaimana daun menjadi warna utama dari beragam sajian yang akan dijadikan kuliner. Kami juga mengambil momen Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret. Ini akan pas dengan program Dinas Pariwisata Sleman yang menjadikan pariwisata Sleman barat berbasis pertanian,” tandasnya.

Sedang mengenai rangkaian acara festival, Heru menyampaikan pada 18 Maret 2022 sore digelar prosesi Umbul Donga yang diikuti oleh beragam komponen masyarakat.

“Pada 19 Maret 2022  pagi diadakan Van der Wijck Walking yang menyusuri saujana sekitar Van der Wijck sejauh 7 km. Selanjutnya digelar sarasehan, pasar apung dan pameran dilengkapi workshop serta pasar potensi Banyurejo. Prinsipnya, Selokan Van der Wijck dan saujana yang ada di sekitarnya akan menjadi panggung alam yang menarik,” imbuhnya.

Terkait keberadaan Selokan Van der Wijck, Jagabaya Kalurahan Banyurejo, Irwan, menyampaikan adanya aksi vandalisme. “Kami sudah berusaha merawat dan menjaga Selokan Van der Wijck yang menurut prasasti yang ditemukan dibangun pada 1909, namun ada saja aksi vandalisme yang mengotorinya. Pada 13 Maret 2022 kami juga mengadakan gerakan mengecat Buk Renteng agar kembali bersih. Oleh karena itu, kami memohon kepada pihak terkait untuk ikut menjaga,” pintanya.

Menanggapi hal itu anggota BPPS Wahjudi Djaja selaku person in charge (PIC) Festival Van der Wijck 2022 menyampaikan perlunya semua pihak merasa handarbeni terhadap Selokan Van der Wijck.

“Festival ini merupakan momentum penting yang tidak dimiliki desa lain. Ini bisa menjadi berkah bagi masyarakat Banyurejo asal mau golong gilig, gotong royong dan guyup rukun. Kelak bisa kita kemas menjadi pasar mingguan yang bisa mendatangkan pengunjung yang ingin menikmati suasana pedesaan,” tandasnya. (Iud)

 


share on: