Yogyapos.com (YOGYA) - Menjadi tim pamulasara jenazah pasien Covid-19, bukan hal yang mudah. Selain butuh keberanian, juga butuh keikhlasan tenaga dan pikiran yang tak kenal waktu. Hal itulah yang dialami oleh Dr Dyah Respati Suryo Sumunar Msi. Disamping kesibukannya sebagai dosen di Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNY, Dyah juga aktif sebagai tim pemulasara jenazah Covid-19 PP Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) Yogyakarta.
“Semua itu berasal dari panggilan jiwa. Sebab, penanganan wabah covid itu tanggung jawab semua lapisan masyarakat. Dokter yang punya keahlian mengobati ya mengobati, saya sebagai bagian anggota masyarakat ya berperan apa yang saya bisa,” ujar Dyah ketika dihubungi melalui ponselnya, Jumat (27/8/2021) malam.
Selanjutnya Dyah mengungkapkan, memulasara jenazah pasien covid ini butuh beberapa modal. Selain modal keberanian, tetapi modal utama adalah keihlasan. Sebab, meski sudah meninggal pasien Covid-19 juga harus diperlakukan secara manusiawi dan dipulasara layaknya manusia yang lain.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-politisi-muda-deklarasikan-fpmi-di-jakarta-8229
Dyah mengaku, keaktifannya memulasara jenazah pasien Covid sudah dilakukan sejak wabah Covid melanda Jogjakarta. Karena itu, sampai saat ini sudah tak terhitung lagi jumlah jenazah yang telah ditanganinya. Bukan hanya berasal dari warga kampungnya sendiri, tapi juga berasal dari beberapa rumah sakit yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya.
“Kadang dari beberapa rumah sakit memberi tahu. ya saya langsung bersiap. Bahkan kalau jenazah datang dini hari, ya kita harus bersiap melakukan pemulasaraan saat itu juga. Jadi, kalau jenazah datang jam 2 pagi ya bisa jadi sampai subuh baru selesai. Lalu pagi harinya saya berangkat ngajar,” ujar Dyah yang kini juga menjabat Ketua Jurusan Program Studi Pendidikan Geografi UNY.
Sejak awal terjun sebagai aktivis MDMC, Dyah bertekad bahwa menjadi pemulasara jenazah Covid-19 penuh dengan tantangan dan resiko. Bukan sekedar resiko tenaga dan waktu yang harus tersita, tetapi juga risiko terpapar Covid-19. Untuk itu, saat melakukan pemulasaraan jenazah, pihaknya selalu mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) secara lengkap, karena hal itu merupakan salah satu prosedur yang harus dipatuhi. Selain itu, kebersihan juga menjadi prasyarat utama bagi para aktivis pemulasara jenazah sehingga sebelum maupun sesudah melakukan kegiatan, selalu dilakukan penyemprotan cairan desinfektan.
Dyah mengatakan korban meninggal akibat Covid itu terjadi dimana-mana. Pemulasaraannya tentu tak bisa hanya diserahkan pada pihak rumah sakit maupun relawan, tetapi masyarakat juga perlu melakukan secara mandiri.
Hanya saja, karena wabah Covid itu bagi sebagian masyarakat merupakan hal yang baru, maka masih ada sebagian masyarakat yang kurang memahami tentang wabah Covid-19 secara menyeluruh, sehingga beberapa orang pasien covid yang telah meninggal ditolak untuk dimakamkan.
“Saya rasa masyarakat butuh edukasi secara terus menerus. Karena masih banyak kelompok masyarakat yang belum faham tentang wabah ini, sehingga melakukan pengucilan pada pasien terinfeksi Covid-19 dan menolak pemakaman jenazahnya. Hal semacam ini tidak boleh terjadi,” tandas Dyah. (Sulistyawan Ds)
