Yogyapos.com (SLEMAN) - Konstruksi Terowongan (Underpass ) Kentungan menyisakan sejumlah permasalahan, dari mulai pemasangan Grill penutup saluran air pembuangan yang buruk hingga kejadian genangan air ketika hujan turun, keberadaan terowongan yang dibangun di simpang empat Jl. Padjajaran, Sleman ini dikeluhkan sejumlah pihak lantaran membahayakan pengguna jalan yang melintas.
Dari pantauan yogyapos.com pada Senin (31/5/2021) pagi, ketika berdiri sekitar 10 menit sisi barat simpang empat tersebut, terdengar suara “glodak-glodak”, suara cukup keras yang kemungkinan besar berasal dari bagian grill, bukan hanya itu, pada bagian barat terdapat rembesan air tepat pada tengan badan jalan.
Merespon persoalan tersebut, Satuan Kerja (Satker) Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) DIY Kementerian PUPR RI langsung berkoordinasi dengan kontraktor pelaksana PT. Istaka Karya untuk melakukan evaluasi dan penanganan, sehingga permasalahan segera tertangani, sejauh informasi yang didapatkan bahwa bangunan itu masih dalam masa pemeliharaan pihak kontraktor hingga Desember 2021.
“Kemarin hari Minggu (30/5) kita melakukan rapat dengan PT. Istaka Karya secara online dengan tim di Jakarta juga, hasil rapat kami berencana melakukan pengecekan ulang sistem kelistrikan, terdiri dari panel, pompa, kedepannya bersama tim mekanikal elektrikal PT Istaka Karya akan turun memeriksa untuk mengecek sistem atau penggantian beberapa komponen,” jelas Pejabat Pembuat Komitmen Satker PJN DIY, Julian Situmorang, didampingi Wahyu Widiantoro selaku Asisten Pelaksana, Senin (31/5/2021) di ruang kerjanya di Jl. Ringroad Maguwo Sleman.
Soal pembenahan Grill, dia menyebutkan akan disusun sejumlah opsi untuk langkah perbaikan, dengan melakukan modifikasi konstruksi, dengan skala pekerjaan yang cukup berat dibandingkan pada tahapan pemeliharaan sebelumnya saat ini tengah disusun rencana kerja.
“Ngak sampai keruk atau bongkar (pada bagian Grill) Cuma ada opsi seperti itu, mungkin konstruksinya kita modifikasi, nanti metode kerjanya kita pilih yang mana yang paling tidak menggangu arus lalu lintas, kalaupun menggangu seminim mungkin,” kata dia.
Ditanya perihal kondisi tanah pada banguan senilai lebih kurang Rp 100 miliar ini jika dibandingkan dengan lokasi Underpass Jombor, dirinya menyebutkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan sehingga berpengaruh dalam menyingkirkan air ketika hujan.
“Secara elevasi jauh berbeda, di wilayah Jombor lebih tinggi posisinya, untuk membuang ke sungai di Jombor cuma 100 meter dari sungai yang hampir selevel dengan sungai, sedangkan di Underpass Kentungan kita buang ke inlet ke saluran diatasnya dipompa naik dibuang di saluran diatas,”terang dia.
Sebelumnya pada Sabtu (29/5/2021) terjadi luapan air setinggi lebih kurang 20 cm pada sisi utara jalan bawah tanah tersebut atau arah dari Barat ke Timur, limpahan air hujan yang masuk terowongan menggenang musababnya diduga kelistrikan buruk yang menyebabkan pompa penyedot air tak berfungsi dengan optimal.
Kondisi buruk demikian sempat mengundang keprihatinan Jogja Corruption Wacth (JCW). Bahkan salah satu anggota JCW, Baharuddin Kamba, meresponnya dengan melakukan aksi tunggal yang cukup teaterikal mandi kembang di genangan air dialirkan melalui selang dari dalam timba. Aksi tersebut sebagai bentuk protes karena pihaknya sering melihat genangan air di Underpass setiap kali hujan.
Bukan itu saja, Baharudiin Kamba juga berjanji akan melayangkan surat ke Presiden Joko Widodo maupun KPK dan BPK agar mereka mencermati proyek yang kini masih dalam masa pemeliharaan oleh rekanan. (Opo/Met)
