Yogyapos.com (SLEMAN) - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) salah satu kota terpopuler di Indonesia dengan berbagai julukan sebagai kota pelajar, kota budaya, dan kota pariwisata. Wilayah DIY tak pelak dipenuhi oleh pendatang baru baik untuk sekadar berwisata atau menetap beberapa waktu menempuh pendidikan dan bekerja.
Masuknya pendatang baruke DIY menyebabkan bertambahnya penduduk dan volume kendaraan pribadi di kota ini. Bahkan menimbulkan permasalahan transportasi berupa kemacetan dan terjadinya peningkatan jumlah emisi gas buang. Pembuatan transportasi massal adalah kebijakan yangdipilih Pemerintah Daerah DIY untuk mengurai kemacetan dengan membuat Trans Jogja untuk melayani kebutuhan transportasi umum warganya.
Namun hadirnya Trans Jogja sebagai upaya dari Pemerintah Daerah ternyata belum mampu menjawab berbagai masalah transportasi seperti kemacetan. Ketersediaan transportasi umum yang kurang memadai tersebut berakibat pada peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang memiliki efek domino berupa peningkatan polusi udara yang terjadi di Yogyakarta.
Hal ini menjadi perhatian sekelompok mahasiswa UNY dengan merancang alat transportasi ramah lingkungan dan bebas kemacetan yang disebut Sky Trem. Mereka adalah Cecep Wahyu Cahyana prodi teknologi informasi, Reyhan Aditya Adam prodi pendidikan teknik mekatronika dan Prawesti Eka Listyaningrum prodi akuntansi.
Menurut Cecep Wahyu Cahyana, Sky Trem merupakan transportasi jenis trem dimana transportasi ini menggunakan listrik dalam operasionalnya sehingga lebih ramah lingkungan.
“Sky Trem ini diharapkan akan mampu mengurai kemacetan di wilayah Yogyakarta karena akan memiliki jalur sendiri yang berada diatas jalan-jalan utama Yogyakarta dan memanfaatkan lahan kosong diatas Selokan Mataram,” kata Cecep.
Oleh karena itu Sky Trem menerapkan Internet of Things (IoT) dalam operasionalnya dan akan terintegrasi dengan moda transportasi lain seperti Trans Jogja. Sky Trem selain menjadi transportasi umum untuk mobilita smasyarakat yang mendukung rencana pemerintah DIY tersebut, dirancang pula untuk mampu digunakan sebagai experience tourism.
Reyhan Aditya Adam menambahkan, Sky Trem dirancang berornamen batik kawung dan Tugu Jogja sebagai hiasan dan akan menerapkan warna hijau kuning sebagai warna khas dari Keraton Yogyakarta.
“Trem yang didesain dengan dua gerbong ini menerapkan transportasi tanpa awak dengan ketepatan waktu hingga 99%,” katanya. Sky Trem dilengkapi dua sensor dengan fungsi yang berbeda-beda. Sensor pertama membuat trem berhenti secara otomatis ketika sampai di stasiun dengan memberikan sinyal dari jarak 100 meter sebelum stasiun. Sedangkan, sensor kedua diterapkan di pintu gerbong trem untuk mobilitas buka tutup pintu gerbong. Jarak antara stasiun satu dengan stasiun berikutnya sekitar satu kilometer. Kecepatan dari transportasi ini berkisar 40-60 kilometer perjam.
Prawesti Eka Listyaningrum menjelaskan, Sky Trem dilengkapi dengan aplikasi khusus yang berguna untuk memudahkan masyarakat melihat jadwal pemberangkatan dan kedatangan kereta serta pembelian dan pembayaran tiket. Pembayaran tiket dapat dilakukan dengan cara transfer, e-money, berlangganan, dan tunai. Aplikasi ini menyediakan fitur khusus yang berguna sebagai tempat kritik dan saran dari masyarakat. Melalui inovasi dibidang transportasi, Sky Trem diharapkan mampu mengatasi masalah kemacetan dan polusi udara serta mendukung terwujudnya DIY menjadi smart city dengan memenuhi indikator smart transportation.
“Selain itu, juga menjawab tujuan agenda pembangunan berkelanjutan ke-11yaitu ‘Kotadan Pemukiman yang Berkelanjutan’,” papar Eka.
Karya ini berhasil meraih dana dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdikbud Ristek dalam Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Futuristik Konstruktif tahun 2021. (Deddy Herdito)
