MESKI diguyur hujan deras, ribuan massa yang hadir dalam Puncak Grebreg Apem di Pondok Wonolelo, Widodomartani, Ngemplak Sleman pada Jum'at (9/9/2022). Mereka terlihat sangat antusias berebut kue Apem karena mempercayai bahwa Aprm yang di dapat di acara ini akan membawa berkah pada saat dibawa pulang.
Maryati (45) warga Berbah, Sleman mengaku dirinya baru pertama kali hadir dalam acara ini. Karena itu, meski harus basah kuyup diguyur hujan dirinya mengaku sangat gembira.
“Ini lumayaj dapat 10 biji. Tadi sudah saya makan satu. Enak,” ujar Maryati kepada yogyapos.com usai acara.
Hal senada juga diungkapkan oleh Marjuni (50) yang mengaku berasal dari Klaten. Dirinya mengaku penasaran untuk hadir di acara Grebeg Apem Wonolelo karena kali ini merupakan yang pertama kali digelar sekal pandemi.

“Sebelum pandemi beberapa tahun lalu pernah kesini. Tapi karena jauh dari menara, saya nggak dapat apemnya. Kali ini lumayan dapat 5 biji,” ujar Marjuni.
Grebeg Apem Wonolelo merupakan puncak dari Tradisi Saparan yang digelar secara rutin si dusun Pondok Wonolelo, Widodomartani, Ngemplak, Sleman.
Sebelum diperebutkan , terlebih dulu Gunungan Apem beserta perlengkapan pribadi Ki Ageng Wonolelo dikirab dari Masjid Wonolelo menuju Makam Ki Ageng Wonolelo. Kirab dikawal oleh pasukan Bregada serta keluarga trah keturunan Ki Ageng Wonolelo , dengam diiringi bunyi-bunyian.

Kawit Sudiyono selaku juru bicara Trah Wonolelo menjelaskan bahwa Grebeg Wonolelo merupakan tradisi rutin tahunan yang digelar untuk mengenang sosok Ki Ageng Wonolelo yang merupakan leluhur cikal bakal warta Wonolelo. Tradisi ini meneruskan kebiasaan Ki Ageng Wonolelo yang suka berbagi makanan dengan warga masyarakat.
“Tradisi ini untuk melestarikan warisan dan kebiasaan baik Ki Ageng Wonolelo yang merupakan salah satu keturunan dari Raja Brawijaya V,” ujar Kawit.
Ditambahkan Kawit, tradisi Grebeg Sapar ini sudah dicatat sebagai Warisan Cagar Budaya tak benda sehingga warga masyarakat merasa perlu untuk melestarikannya.
Dijelaskannya, jumlah Apem yang dibagikan kali ini hampir sama dengan tahun sebelumnya yaitu 1,5 Ton. Apem tersebut merupakan sumbangan dari warga Wonolelo .
Adapun istilah kue Apem itu berasal dari bahasa Arab 'Afuun' yang berarti pemaaf atau memaafkan. Oleh karena itu dengan tradisi ini diharapkan warga masyarakat mampu meneladani sifat Ki Ageng Wonolelo yang pemaaf dan sabar. (Sulistyawan Ds)
