Yogyapos.com (SLEMAN) - Kepergian Rektor UGM 1998-2002 Prof Ichlasul Amal ke hadhirat Ilahi Robbi, pada Kamis (14/11/2024), menyisakan kenangan bagi banyak kalangan. Kebanyakan mencatat perannya di hari-hari jelang dan saat ‘meletus’ reformasi 1998. Pro gerakan mahasiswa, berintegritas menjaga marwah demokrasi, dan kukuh mempertahankan idealisme.
Ada catatan khusus yang diberikan Mahaguru Ilmu Sejarah UGM Prof Djoko Suryo. Lebih dari sekedar sesama mahasiswa Monash University Australia, keduanya memiliki hubungan yang erat dan hangat.
Almarhum Prof Dr Ichlasul Amal || YP-Ist
“Beliau bagi kami sudah seperti saudara. Keluarga kami tinggalnya berdekatan. Saling membantu satu sama lain. Kami bersama selama hampir lima tahun di Australia. Saat anak keduanya sakit, kami bantu semaksimal mungkin. Namun jiwa anaknya tak tertolong dan meninggal di Yogyakarta,” kisahnya.
Selepas meraih MA studi ilmu politik di Northern Illinois University AS, Ichlasul Amal menempuh program doktoralnya di Monash University, Australia. “Almarhum itu rajin, sregep, baik dan aktif. Sambil merawat anaknya, beliau mampu menyelesaikan S3 pada tahun 1984. Bagi kami, Pak Amal sudah seperti saudara sendiri,” tandasnya.
Dalam pantauan yogyapos.com, sampai menjelang petang istri Prof Djoko Suryo masih menemani Ery Hariati, istri Prof Amal. Keduanya menikah pada 1969 dan dikaruniai tiga anak, satu diantaranya meninggal dunia.
Menyelesaikan Jurusan Hubungan Internasional Fisipol UGM tahun 1967, Amal melanjutkan studi Ilmu Politik di Northern Illinois University AS hingga meraih master pada 1974. Setelah meraih gelar doktor di bidang Ilmu Politik dari Monash University pada tahun 1984, Amal kembali ke Indonesia dan langsung diangkat sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada. Jabatan yang pernah disandang antara lain Direktur Pusat Antar Universitas Studi Sosial UGM (1986-1988), Dekan Fisipol (1988-1994) dan Direktur Program Pascasarjana (1994-1998). Prof Ichlasul Amal akhirnya dilantik menjadi Rektor UGM (1998-2002).
Prof Chairil Anwar dan Prof Djoko Suryo (kanan) melepas Prof Amal di Makam UGM Sawitsari, Kamis (14/11/2024) || YP-Wahjudi Djaja
Dalam testimoninya, jurnalis dan penulis senior Hamid Basyaib menyampaikan, ada satu teladan yang selalu gagal saya tiru dari Pak Ichlasul Amal. “Bagaimana mengajukan kritik, setajam apapun, dengan ramah dan senyum,” katanya.
Sedangkan bagi Moh Thoriq, peran Pak Amal selama demonstrasi reformasi dimana mahasiswa diburu polisi, sangat fenomenal.
“Untungnya, Pak Amal bukanlah rektor penjilat penguasa. Dia bela mahasiswanya, dan bebaskan untuk demonstrasi. Bahkan sehari menjelang jatuhnya Soeharto, Pak Amal ikut gatel. Dengan ikat kepala bertuliskan "Reformasi", Pak Amal yang gampang senyum plengah plengeh ini memimpin aksi segenap civitas academica di gedung pusat UGM, berdiri di samping Sri Sultan Hamengku Buwono X,” ungkapnya.
Selamat jalan Prof... (Iud)
