Yogyapos.com (YOGYAKARTA) - Puncak peringatan Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) ke-116 dipusatkan di Daerah Istimewa Yogyakarta pada 16- 20 Mei 2024.
Mengusung tema "Sinergi dan Kolaborasi Untuk Negeri", rangkaian kegiatan diisi dengan beragam bakti sosial untuk pembangunan kesehatan masyarakat sekitar wilayah DIY.
BACA JUGA: DPC Peradi Yogyakarta Tandatangani Kerjasama Bidang Hukum dengan Pemkot
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, DR Dr Moh Adib Khumaidi SpOT mengatakan, dipilihnya DIY sebagai tempat penyelenggaraan puncak HBDI ke-116 bukan tanpa alasan.
“Ini juga sekaligus untuk merayakan salah satu wilayah di DIY, adanya Sumbu Filosofi Yogyakarta yang baru saja ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO),” ujar Adib, Jumat (17/5/2024)
BACA JUGA: Peluncuran Prangko Buk Renteng Dihadiri Wamenkominfo Nezar Patria dan Fadli Zon
Menurut dia, sejak ditetapkannya HBDI pada 20 Mei 2008 oleh Presiden Republik Indonesia, Ikatan Dokter Indonesia selalu mengadakan peringatan HBDI di seluruh IDI cabang dan IDI wilayah dengan tujuan untuk mengenang jasa-jasa para dokter yang sudah menggerakkan kebangkitan nasional.
“Selain itu untuk penanaman nilai pengabdian juga terus dilakukan agar sosok seorang dokter dapat mempunyai peran di dalam lingkungannya,” tuturnya.
BACA JUGA: Dibuka Danrem 072/Pmk, Kejuaraan Panahan GBAC Diikuti 404 Atlet dari Sembilan Negara
Dalam dua dekade terakhir ini pelayanan kesehatan tradisional semakin populer dan diminati masyarakat. Meningkatnya minat masyarakat terhadap pelayanan kesehatan tradisional ini tercermin dari meningkatnya pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional baik oleh masyarakat maupun oleh penyedia layanan kesehatan. Tidak berbeda dengan obat modern, obat tradisional juga dapat dimanfaatkan dalam upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif dan paliatif.
BACA JUGA: Sultan HB X Apresiasi Mendikbudristek Luncurkan Indonesian Heritage Agency
“Jamu sebagai obat tradisional warisan leluhur bangsa Indonesia merupakan bahan atau ramuan bahan yang dapat berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat,” jelasnya.
Lebih lanjut, budaya "Sehat Jamu" juga baru ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO dalam sidang ke-18 Komite Antar-pemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda di Kasane, Botswana pada Desember 2023 lalu. IDI mendukung upaya untuk mengangkat budaya pemanfaatan kesehatan tradisional termasuk jamu, melalui saintifikasi jamu yang tetap berdasarkan pembuktian ilmiah (evidence based medicine) sesuai ketentuan yang ada di Peraturan Presiden Republik Inodnesia No 54 tahun 2023 Tentang Pengembangan dan Pemanfaatan Jamu.
“Sosialisasi saintifikasi jamu ini merupakan salah satu bagian utama dari rangkaian kegiatan HBDI ke-116 di Yogyakarta,” ungkapnya.
BACA JUGA: SMKN 3 Yogya Jadi Sasaran Provokasi, Polisi Buru Pelempar Petasan dan Botol Miras
Di sisi lain, Ketua IDI Wilayah DI Yogyakarta Dr Joko Murdiyanto Sp An MPH FISQua menjelaskan, selain seminar mengenai saintifikasi jamu, IDI Wilayah Yogyakarta juga akan menyelenggarakan kegiatan bakti sosial operasi bibir sumbing di RSUD Sleman, serta operasi katarak dan paparan unggulan daerah binaan stunting IDI DIY yakni RS Nur Hidayah Bantul Yogyakarta.
“Para pasien yang akan dioperasi katarak dan bibir sumbing dalam kegiatan ini adalah pasien tidak mampu dan yang tidak memiliki asuransi apapun dan tidak memiliki BPJS,” jelas Joko.
BACA JUGA: Mayat Lelaki Ditemukan Gantung Diri di Rumah Kontrakan Dusun Trayeman
Kegiatan bakti sosial HBDI ke-116 secara serentak dilakukan di seluruh 462 IDI cabang dan 35 IDI wilayah di seluruh Indonesia dalam bentuk beragam dan didukung oleh seluruh 96 perhimpunan profesi dan keseminatan dibawah naungan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia. (*/Opo)
