PENGELOLAAN dan pengembangan destinasi wisata tak bisa meninggalkan karakter (DNA) wilayah. Destinasi yang dibangun dengan fondasi karakter yang kuat akan bertahan lebih lama dan memberikan manfaat lebih besar kepada masyarakat. Untuk itu diperlukan kesadaran, kerjasama dan kesamaan tekad dalam membangun destinasi dan desa wisata.
Demikian benang merah sarasehan pariwisata yang diinisiasi mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta di Balai Dusun Potrobayan Srihardono Pundong Bantul, Minggu malam (12/6/2022). Hadir dalam sarasehan itu Kepala Dukuh Potrobayan Sayudi, para Ketua RT, pengelola Potrobayan River Camp Rohmat, dan narasumber Wahjudi Djaja dari Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY.
Dalam sambutannya Sayudi menyampaikan, aktivitas wisata di Lembah Opak dimulai 2021 setelah Hari Raya Qurban. Mulai ada yang camping di tepian Kali Opak. Anehnya banyak warga yang belum tahu. “Kemudian mereka baru sadar untuk mengelola bantaran sungai dengan segala keterbatasan,” katanya.
Potrobayan River Camp berada di dekat tempuran Kali Opak dan Kali Oya. Andai tidak melihat tugu tetenger gempa bumi yang berada di sisi tebing bagian atas, wisatawan tak tahu bahwa tempat ini merupakan episentrum gempa dahsyat yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya pada 27 Mei 2006.
“Dengan penyuluhan ini kami berharap ada dampak positif bagi kegiatan river camp di Kali Opak dan usaha pariwisata di Potrobayan. Dulu juga ada rencana membangun museum gempa, namun masih terkendala sehingga belum bisa terwujud. Dengan gambaran dan pengetahuan dari narasumber dan mahasiswa, masyarakat menjadi lebih tahu,” tandasnya.

Saat ditemui yogyapos.com di tepi Kali Opak, Rohmat menyampaikan bahwa dengan kondisi sederhana dan ala kadarnya, ternyata sudah banyak diminati wisatawan.
“Kami senang dan puas rasanya bisa melihat wisatawan dari berbagai lapisan datang ke sini dan menikmati kebebasan di alam terbuka. Coba Mas lihat yang parkir itu, mereka terlihat berasal dari kalangan orang kaya yang cuma mau makan bersama sambil menikmati suasana senja di tepi Kali Opak,” kata pemuda yang akrab disapa Tomeet sambil menunjuk jajaran mobil mewah dan ratusan motor di area parkir.
Terkait pengembangan Potrobayan River Camp, lanjut Tomeet, pihaknya tidak merasa keberatan. “Kalau boleh usul, kami ingin melihat Kali Opak ini apa adanya. Tetap bersahaja, khas, dan jauh dari kebisingan. Jangan sampai pengembangan nantinya justru merusak kenampakan alam yang menjadi cirikhas Potrobayan River Camp,” imbuhnya.
Sedangkan Wahjudi Djaja menjelaskan pentingnya memberdayakan dan mengelola potensi alam dan budaya sesuai karakter yang telah melekat agar bisa berkelanjutan. “Potensi yang dimiliki Potrobayan sangat lengkap dan unik. Selain dekat dengan tempuran dua sungai penting bagi Kraton Yogyakarta yakni Opak dan Oya, juga menjadi episentrum gempa dahsyat 2006. Jika dikelola dengan benar, ini akan menjadi narasi pariwisata yang amat penting,” ungkapnya.
Oleh karena itu, lanjutnya, penting untuk duduk bersama dan berdiskusi menemukan skema pengembangan yang tepat. “Masyarakat Potrobayan tetap menjadi pelaku utama dengan segenap potensinya. Tadi ada kuliner khas yang menarik yaitu abangan, ini menarik untuk diangkat. Juga peringatan gempa bumi bisa digelar dalam skala yang lebih besar dan melibatkan semua potensi masyarakat dengan inti umbul donga,” tandasnya.
Pradana Ramdan Pangestu dari Universitas Amikom Yogyakarta menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan untuk memenuhi Program Kerja Mata Kuliah Proyek Komunikasi dalam Lingkup Pemberdayaan Masyarakat terhadap Pengembangan Bisnis Desa Wisata Potrobayan.
“Dalam Proyek Komunikasi ini kami akan memberikan beberapa program kerja untuk membantu mitra dalam memperbaiki branding juga pemahaman warga akan peluang bisnis dari usaha ini. Program kerja kami bagi menjadi dua yaitu Branding dan Peningkatan Pemahaman Masyarakat. Antara lain meliputi Desain Logo, Mapping, Pembuatan Petunjuk Arah, dan Booklet,” jelasnya. (Iud)
