Wilayah DIY dan Jateng Hampir 100 Persen Tercover Siaran TV Digital

share on:
Plt Direktur Jenderal  PPI Kementerian Komunikasi dan Informatika sedang memberikan informasi di Hotel Grand Mercure Yogya pada Sabtu (21/05/2022) || YP-Arif Kusuma Fadholy

Yogyapos.com (YOGYA) - Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) bekerja sama dengan Komisi 1 DPR RI menyelenggarakan Rapat Penyerapan Aspirasi Persiapan Migrasi Televisi Digital Analog Switch Off Tahap II di Wilayah DI Yogyakarta, di Hotel Grand Mercure Yogya, Sabtu (21/5/2022).

Plt Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika (PPI) Kementerian Komunikasi dan Informatika, Ismail mengatakan wilayah DIY dan Jawa Tengah saat ini dianggap masih banyak aea blank spot terkait penerimaan siaran tv analog. Akan tetapi, berbeda dengan penerimaan siaran TV digital.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita--pemkot-yogya--linkaja--kerjasama-digitalisasi-pasar-1109

"Terkait siaran digital, Jateng dan DIY hampir 100 persen yang tercover, khususnya siaran TVRI. Beberapa wilayah yang belum tercover jaringan digitalnya itu adalah kebanyakan daerah hutan dan pegunungan," ujarnya.

Ia melanjutkan, ada juga beberapa daerah yang belum bisa tercover jaringan digital karena frekuensinya yang harus diuport terlebih dahulu. 

Hal itu yang menjadi penyebab TV analognya tidak bisa diswitch off, karena frekuensi sehingga belum bisa digunakan saluran TV digitalnya. 

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-pemkot-siap-layani-masyarakat-saat-liburan-lebaran-dan-cuti-bersama-6769

"Untuk masyarakat DIY, mayoritas sudah bisa mengganti perangkatnya ke TV digital saat ini. Masyarakat Yogyakarta seharusnya sudah bisa menikmati banyak siaran digital dengan kulaitas yang baik," jelas Ismail

Ia juga menerangkan, pihaknya saat ini fokus di wilayah Jawa Tengah dan DIY dan mempunyai empat pilar dalam program Analog Switch Off (ASO) tersebut. Pertama adalah meyakinkan infrastruktur digital sudah tersedia. Kedua, melaksanakan program secara simulkes, masyarakat diberi kesempatan sebelum switch off dijalankan. 

Ismail melanjutkan, ketiga adalah ekosistem perangkat. Menurutnya, sebagian besar TV yang beredar di masyaralat adalah yang belum bisa menerima siaran secara langsung siaran digital. 

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-pemkot-berharap-ppdb-2022-dapat-menyesuaikan-keadaan-masyarakat-di-kota-yogya-7070

Sehingga dibutuhkan alat tambahan yang kami sebut shuttle box, merupakan alat yang dapat mengkonversi siaran digital agar bisa diterima TV analog.

Pilar yang keempat adalah sosialisai. Kunjungan kerja yang dilakukan saat ini merupakan sosialisasi, khususnya pada masyarakat Yogyakarta.

"Saatnya pindah ke siaran digital saat ini. Siaran TV digital ini bersiaran secara simulkes dengan TV analog. Masyarakat agar mengecek televisinya untuk  menangkap siaran digital dari sekarang," pungkas Ismail. (Arif Kusuma Fadholy)

 

 


share on: