Warga RW 12 Bausasran Lakukan Pelatihan, Biopori Cara Efektif Mengolah Sampah Organik

share on:
Heryani, Faskel Bank Sampah Kalurahan Baussran menyampakaian materi pelatihan pembuatan biopori || YP-R Toto Sugiharto

Yogyapos.com (YOGYA) - Pengolahan sampah dapur atau sampah organik di lingkungan warga perkotaan dapat secara efektif dilakukan dengan pembuatan biopori. Pemerintah kelurahan di  wilayah Kota Yogyakarta menginisiasi program pembuatan biopori di tingkat RT/RW.

Salah satu contoh di Kelurahan Bausasran, khususnya di RW 12, dilaksanakan Pelatihan Pembuatan Kompos melalui Pengolahan Sampah Organik Skala Rumah Tangga dengan Metode Biopori, Minggu (14/7) pagi di RW 12.

BACA JUGA: Gebyar Mualaf Kabupaten Sleman 2024 Upaya Perkuat Tali Silaturahmi

Warga setempat memperoleh bimbingan teknis dari Heriyani dan anggota timnya selaku  fasilitator kalurahan Pengelolaan Bank Sampah. Selanjutnya, warga juga menyaksikan dan mempraktikkan secara langsung cara pembuatan biopori.

Warga RW 12 Kalurahan Bausasran antusias mengikuti pelatihan pengolahan sampah dengan metode biopori || YP-R Toto Sugiharto

“Biopori bukan hal baru yang memang bisa mengurangi penumpukan sampah karena diolah lebih lanjut sehingga mengurangi volume sampah. Biopori juga bisa menjaga kualitas air dan mengurangi genangan air karena air masuk ke biopori,” terang Heriyani saat memberikan materi.

BACA JUGA: Seniman-Budayawan Muhammadiyah akan Berkumpul di Malang, Ini Agendanya

Peralatan yang dibutuhkan antara lain pipa pralon atau PVC berdiamter 50 cm dengan diberi sejumlah lubang di sekeliling dinding pipa, bortanah, dan konblok dengan lubang di bagian Tengah.

Warga peserta pelatihan praktik mengebor tanah untuk pipa biopori || YP-R Toto Sugiharto

Langkah pertama dengan mengebor tanah. Untuk tanah yang keras dan kering perlu dibasahi dengan air lebih dahulu agar lunak dan mudahditembusmata bor. Setelah kedalaman mencapai setinggi pipa dan ketebalan konblok, maka bisa dilanjutkan dengan pengisian sampah dapur atau sampah basah, seperti kulit buah-buahan, nasi basi, sisa petikan sayuran, dan sejenisnya yang disebut sampah organik.

BACA JUGA: Jaksa Belum Berikan Dakwaan kepada Pengacara Terdakwa, Sidang Kasus Pengrusakan Ditunda

Selanjutnya, pipa ditutup dengan bekas gelas air mineral yang di bagian bawahnya diberi lubang untuk aliran air hujan.

Metode biopori lebih effektif dalam pengolahan sampah organik di area lahan terbatas di perkotaan || YP-R Toto Sugiharto

Proses pembuatan pupuk organik dari sampah membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan. Setelah itu sampah bisa “dipanen” untuk dijadikan pupuk. Demikian seterusnya bisa dilakukan pengisian ulang berupa sampah dapur kedalam pipa biopori.

BACA JUGA: Kasdam Brigjen Budi Irawan Menaruh Perhatian Khusus Perkebunan Kubis Manis Kualitas Ekspor

Pelatihan tersebut diikuti oleh sedikitnya 30-an warga RW 12 Kelurahan Bausasran Kemantren Danurejan Kota Yogyakarta. Warga antusias mengikuti pelatihan dengan bergantian melakukan praktik pengeboran dan pengisian sampah ke tabung pipa biopori seraya diselingi gurauan-gurauan. (R Toto Sugiharto)

 


share on: