Umbul Bebeng, Mata Air Kehidupan Menanti Kepedulian

share on:
Pono dan Sukami di Umbul Bebeng yang tertimbun material erupsi || YP-Wahjudi Djaja)

Yogyapos.com (SLEMAN) - Kalurahan Glagaharjo Kapanewon Cangkringan Sleman memiliki beragam potensi alam, sejarah, budaya, perkebunan dan kuliner. Wilayah yang berada di kawasan puncak Gunung Merapi ini juga memiliki sumber mata air yang dikenal dengan Umbul Bebeng. Namun, akibat erupsi pada 2010 dan banjir lahar dingin yang menyertainya, umbul tersebut tertimbun material yang cukup tebal.

Menurut Ketua Pokdarwis Glagaharjo, Pono Dwiyanto, Umbul Bebeng tidak hanya dimanfaatkan oleh warga Glagaharjo dan sekitarnya, tetapi juga beberapa desa di wilayah Kabupaten Klaten.

“Selain dimanfaatkan warga Glagaharjo di Cangkringan, mata air tersebut juga menjadi sumber kehidupan warga desa Panggang, Balerante, Sidorejo di Kecamatan Kemalang Klaten. Sebelum erupsi juga digunakan warga Kepuharjo dan Umbulharjo,” jelasnya.

Sementara itu Ketua RW Kalitengah Lor, Sukami, kepada yogyapos.com menyampaikan, dahulu Umbul Bebeng terdiri atas Umbul Lanang dan Umbul Wadon.

“Menurut simbah-simbah dahulu umbul ini mata airnya besar sekali. Agar bisa lebih dimanfaatkan, kemudian diadakan ruwat. Secara turun-temurun umbul tersebut dijaga kelestariannya karena sangat bermanfaat bagi warga masyarakat di bawah,” tandasnya.

Alangkah baiknya, lanjutnya, jika pemerintah segera memikirkan solusi agar Umbul Bebeng bisa kembali normal dan mengembalikan manfaatnya. “Apalagi kita juga sedang mengangkat potensi wisata Glagaharjo seperti Bukit Klangon dan Teras Merapi,” harapnya.

Terkait pengembangan wisata di Glagaharjo, Pono menjelaskan tengah mempersiapkan tim yang bisa gerak cepat dalam mengidentifikasi potensi. “Kami berharap agar fasilitasi Dinas Pariwisata Sleman tiga bulan ini bisa benar-benar mengangkat potensi yang kami miliki,” tandasnya.

Vegetasi Puncak Merapi || YP-Wahjudi Djaja

Dalam pendampingan wisata Glagaharjo di Posko Klangon, Wahjudi Djaja SS MPd dari Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) menekankan perlunya segera memetakan seluruh potensi yang dimiliki.

“Setelah tim terbentuk dan melakukan identifikasi potensi di masing-masing dusun, kita bisa segera melihat potensi mana yang menjadi skala prioritas untuk dikerjakan terlebih dulu. Dengan membuat pemetaan, pengembangan wisata bisa lebih terpadu,” jelasnya di hadapan para pengelola wisata Glagaharjo, Sabtu (2/6/2023).

Kawasan Merapi, imbuhnya, memiliki dua sisi yang kontras. Selain menjadi daerah rawan bencana, Glagaharjo juga menyajikan potensi yang lengkap, indah dan mengagumkan.

“Oleh karena itu, perlu penataan dan pengelolaan kawasan secara benar, terkendali dan berkelanjutan agar aktifitas wisata tidak merusak ekosistem yang menjadi karakter Merapi. Pendekatan budaya perlu dicoba agar local wisdom tidak hilang, termasuk dalam memelihara Umbul Bebeng,” pungkasnya. (Iud)

 

 

 

 

 


share on: