BELAJAR sejarah memang menjadi keharusan bagi generasi penerus bangsa ini. Selain bisa melanjutkan cita-cita para pahlawan, generasi muda juga bisa meneladani nilai keutamaan mereka dalam menjaga kehormatan dan harga diri bangsa.
Demikian perbincangan yogyapos.com dengan keturunan Pangeran Diponegoro, R Hamzah Diponegoro di kompleks makam Pangeran Diponegoro Kampung Melayu, Kecamatan Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (29/11/2022).
Kami, yogyapos.com, hadir di Makassar bersama delegasi Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) yang menggelar table top bertajuk Sleman Culture Gateway pada 28-30 Nopember 2022.
Rombongan melakukan ziarah sebagai bentuk ikatan moral dan sejarah mengingat Pangeran Diponegoro lahir di Yogyakarta pada 11 Nopember 1785 dan wafat di Makassar 8 Januari 1855.
Lebih jauh dijelaskan Hamzah, banyak pesan moral dan kesejarahan yang ditinggalkan oleh Pangeran Diponegoro. Penting bagi kita generasi penerus bangsa untuk belajar sejarah tidak hanya melalui buku.
“Kita harus berusaha keras untuk melacak rute dan jejak perjuangan Pangeran Diponegoro yang bertebaran di Jawa maupun Sulawesi.
Dengan merunut rute dan jejak sejarah itu, kita bisa merasakan secara langsung bagaimana semangat dan pengurbanan beliau,” tandas trah kelima Pangeran Diponegoro tersebut.
Menanggapi pesan dan harapan tersebut Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Wahjudi Djaja SS MPd yang hadir bersama delegasi Sleman, menyambut positif.
"Banyak jejak peninggalan Pangeran Diponegoro baik berupa senjata, benteng, babad, makam, area medan peperangan sampai makam dan vegetasi. Beberapa potensi sejarah itu bahkan ada yang kita kelola sebagai destinasi wisata. Misalnya, seperti yang ada di Dusun Gancahan, Sidomulyo, Godean, Sleman,” tutur dosen STIE Pariwisata API Yogyakarta ini.
Dusun Gancahan memiliki beragam potensi sejarah dan budaya yang tengah dikembangkan sebagai destinasi. Ada makam Kyai Wirajamba dan kerabat yang merupakan abdi dalem Sri Sultan Hamengku Buwono I. Peninggalan beliau antara lain Sendang Planang, Sendang Gupit juga Kali Gagak Suro dan Embung Gagak Suro serta beragam vegetasi seperti timo, nagasari, sambi dan sawo kecik.
“Menurut Ki Roni Sodewo, mantan ketua Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patrapadi), Gagak Suro adalah nama salah satu tombak milik Pangeran Diponegoro. Ini sinkron dengan cerita penduduk bahwa di sekitar Kali Gagak Suro dulu pernah terjadi perang antara Pangeran Diponegoro dengan Belanda. Jika ini nanti berhasil kita lacak, maka sejarah menjadi hidup dan bermanfaat,” jelasnya.
Pangeran Diponegoro atau dikenal dengan nama Bendara Raden Mas Mustahar (kemudian menjadi Bendara Raden Mas Antawirya) lahir dari ayah Sri Sultan Hamengku Buwono III dan ibu RA. Mangkarawati (Pacitan) pada 11 November 1785 di Yogyakarta. Beliau wafat pada 8 Januari 1855 di Makassar setelah masa pembuangan oleh pemerintah Belanda di benteng Fort Rotterdam. Di ruang tahanan inilah beliau menulis Babad Diponegoro.
Perang Jawa atau Java Oorlog (1825-1830) adalah perang yang menelan korban terbanyak dalam sejarah Indonesia. Tak kurang dari 8.000 korban serdadu Hindia Belanda, 7.000 pribumi, dan 200 ribu orang Jawa menjadi kurban serta kerugian materi 25 juta Gulden. Perang Diponegoro adalah perang terbesar dan terberat yang dialami Belanda di luar Eropa. (Iud)
