Yogyapos.com (SLEMAN) - Pewarisan sejarah kepada generasi berikutnya sangat penting. Ketika sebuah desa menjadi bagian jejak sejarah yang panjang, untuk konteks masyarakat sekitar Embung Gagak Suro, adalah sejarah Mataram dan perang Diponegoro, pewarisan sejarah tersebut bermanfaat menumbuhkan rasa menjadi bagian dari proses sejarah bangsa.
Demikian disampaikan dosen Ilmu Sejarah FS Universitas Sebelas Maret (UNS) Dr Asti Kurniawati SS MHum kepada yogyapos.com, Minggu (11/12/2022), di Embung Gagak Suro Gancahan, Sidomulyo, Godean, Sleman.
baca juga: - https://yogyapos.com/berita-pemkal-sidomulyo-godean-siap-gelar-haul-pangeran-diponegoro-9102
Sebagaimana diketahui, Gancahan memiliki narasi sejarah yang menarik, seperti makam Kyai Wirajamba dan jejak pertempuran Pangeran Diponegoro.Embung tersebut memiliki narasi sejarah terkait dengan perang Diponegoro, ketika masih berupa sungai Gagak Suro.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-aliansi-aksi-sejuta-buruh-minta-presiden-cabut-perppu-cipta-kerja-9361
“Dalam konteks pengembangan wisata, narasi tersebut menjadi salah satu daya tarik wisata,” ujar alumni Ilmu Sejarah FIB UGM ini.
Selain terkait sejarah Mataram dan Pangeran Diponegoro, lanjutnya, keberadaan embung sendiri menghadirkan fenomena sejarah yang menarik. Bagaimana sungai yang pada masanya tentu merupakan sumber air bagi masyarakat, selanjutnya berubah menjadi embung dengan pemanfaatan yang berbeda dengan sungai.
“Artinya ada perubahan masyarakat di sekitar embung tersebut, dan juga ekologi tentunya. Ini yang masih harus dilakukan penelitian untuk menjelaskannya,” pungkas penulis buku Membangun Narasi Menghadirkan Pesona tersebut.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-pencurian-merupakan-gangguan-kamtibmas-menonjol-di-bantul--9368
Sementara itu Ketua Umum Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (KASAGAMA), Wahjudi Djaja SS MPd yang hadir mendampingi menyampaikan upaya mengangkat potensi sejarah dan budaya sebagai modal pengembangan pariwisata.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-rsps-bantul-peroleh-penghargaan-bintang-5-9365
“Jejak sejarah menyangkut Kyai Wirajamba perlu dihidupkan agar memberikan makna dan manfaat bagi masyarakat. Memang perlu kehati-hatian agar fakta yang diangkat bisa dipertanggung jawabkan. Tetapi dalam konteks pemberdayaan potensi masyarakat, ada banyak jalan yang bisa ditempuh,” tandas anggota Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) ini.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-kapolda-diy-safari-salat-jumat-ke-kulonprogo-9369
Dalam kaitan dengan itu, pada 25 November 2022 digelar Kirab Budaya Hari Menanam Pohon Indonesia di kompleks embung Gagak Suro. Kirab antara lain menyinggahi sendang Gupit, makam Kyai Wirajamba dan Embung Gagak Suro. Pada 7 Januari 2023 rencananya juga digelar Haul Sang Pangeran untuk memperingati 167 tahun wafatnya Pangeran Diponegoro. (Iud)
