Sungai Sangat Dapat Bermanfaat Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

share on:
Para peserta Musyawarah Sungai 2023 di Gallery Sapto Hudoyo, Rabu (26/7/2023) || YP-Yuliantoro

Yogyapos.com (SLEMAN) - Musyawarah Sungai 2023 'Urgensi Sungai untuk Pemajuan Kebudayaan' Kerjasama DLHK DIY dengan Pelaku Pemajuan Kebudayaan, mengeluarkan dua  Rekomendasi Karangploso. Pertama, pemuliaan sungai-sungai di DIY adalah kerja bersama parapihak. Untuk itu, pengetahuan tentang sungai dengan dasar spiritual harus dijaga dan dikembangkan sesuai tantangan zaman. Inisiasi komunitas pengetahuan ini yang menjadi landasan keterhubungan dengan program-program ekowisata sungai.

“Kedua, perlunya menginisiasi pranata sosial Bregada Jaga Kali yang melibatkan peran aktif warga untuk ngrukti kali atau merawat ekosistem dan ekologi sungai,” demikian disampaikan RA Yudianingtyas, salah seorang peserta Musyawarah Sungai, Rabu (27/7/2023). 

Jaringan Pelaku Pemajuan Kebudayaan menyelenggarakan Musyawarah Sungai 2023 di Gallery Sapto Hudoyo Jalan Raya Yogya-Solo, dalam rangkaian memperingati Hari Sungai 27 Juli 2023. Hadir dalam kesempatan tersebut, Dr Ir Kuncoro Cahyo Aji MSi (Kepala Dinas Lingkungan hidup dan Kehutanan DIY,  Prof Purwo Santosa (Economic Sircular), Prof Baiquni, Marsis Sutopo (Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia) dan penanggap adalah  Ir RM Nurdi Antoro dan Drs Fajar Sudarwo MSi.

Suasana Musyawarah Sungai

Ketua Komunitas Pemajuan Kebudayaan, Sigit Sugito mengatakan, sungai merupakan pendamping kehidupan masyarakat. Mengambil peran dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Misalnya tumbuh-tumbuhanan dan perikanan di sungai. Menyongsong  Samudera Hindia menjadi gerbang pintu utama  DIY menjadikan potensi sungai sangat luar biasa. Sungai di  DIY menjadi bermakna, seiring meningkatnya isu lingkungan dan tata kelola dan keberlanjutan sungai.

“Dengan basis sosial warga, musyawarah sungai dirancang sebagai ikhtiar bersama menjaga keberlangsungan sungai yang bersih,” ujar Sigit.

Perencanaan kewilayahan Yogyakarta merujuk pada teks Saptasindhavah dengan mengarifi tujuh sungai. Yakni, Kali Krasak, Kali Boyong (Kali Codhe), Kali Kuning (Kali Gajah Wong), Kali Bedhok, Kali Winongo (Kali Lanang), Kali Tambak Baya, dan Kali Opak.

Sementara dalam membacakan rekomendasi musyawarah sungai, RA Yudianingtyas, mengatakan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan, terutama dengan keadaan sungai bersih yang menjadi kebutuhan bagi semua makhluk hidup, merupakan panggilan budaya buat kami.

Dalam Musyawarah Sungai 2023 ini, seluruh peserta musyawarah merasakan renjana yang sama,  Kesungguhan untuk mengarifi praktik dan keterarahan gerak yang memuliakan sungai-sungai di Indonesia dan dunia.

Sebagai pelaku pemajuan kebudayaan, lanjut dia, kami mewarisi dan akan mewariskan kebudayaan patirtan: Bahwa air sungai yang suci dari gunung akan kembali suci saat kembali ke samudera. Sungai adalah tempat lahir, tumbuh, dan turun-naiknya peradaban. Mengutip Arnold Toynbee (A Study of History, 1934), sungai turut merekam ikhwal 28 peradaban besar yang tidak terbunuh, melainkan mereka yang mengambil nyawanya sendiri.

“Artinya, kewilayahan aliran sungai bukan hanya perkara populasi, identitas, kompleksitas sosial-ekonomi, dan kepemimpinan: Sungai adalah kebudayaan,” tandasnya.

Bagi pelaku pemajuan kebudayaan, kata dia, laku budaya keseharian adalah pengenalan “pola” zaman di mana manusia hidup dan memuliakan kehidupan. Artinya, laku budaya Kali Pitu bukan melulu perkara estetika: Laku budaya yang estetis niscaya merujuk pada basis etika; serta yang etis niscaya berdasar pada keseimbangan ekologi dan kepastian kosmologi.

Pola estetika laku budaya mendasarkan diri pada etika yang memuliakan kehidupan; dengan keseimbangan dan keberlanjutan Kali Pitu serta agenda kalender yang telah melintas zaman. Bagi kami, laku budaya patirtan bersama ketujuh sungai adalah kode kekuatan dan pertahanan Mataram dan Nusantara. (Yuliantoro)

 


share on: