Yogyapos.com (YOGYA) - Industri busana di Yogyakarta telah menjadi kekuatan baru dalam memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam pertumbuhan ekonomi di DIY. Selain itu industri ini juga mampu memberikan lapangan kerja baru bagi masyarakat, terutama pada saat pandemi berlangsung.
Untuk itu, Pemda DIY berharap agar produk-produk budaya, seni dan tradisi juga mulai berpikir ke arah industri karena jika hanya hanya dimaknai sebagai karya seni semata hal tersebut tidak akan punya nilai tambah .
Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyampaikan, produk-produk UMKM memberikan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Berdasarkan catatan BPS DIY, khusus untuk Si Bakul Jogja mampu menyumbang 30,1 persen terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Oleh karena itu, Pemda DIY mencoba melakukan konsolidasi para pelaku UMKM kerajinan di DIY , sehingga mereka mampu menjadi industri yang profesinal dan memberikan sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Dari konteks seperti itu, kami (Pemda DIY-red) memberanikan diri membeli eks Hotel Mutiara. Tahun ini mulai kami bangun untuk dua tahun anggaran. Harapan kami 2024 (industri) fashion harus sudah siap go internasional,” ujar Gubernur dalam kegiatan Dialog Bersama Pelaku UMKM se DIY di Jogja Expo Centre, Jumat (26/8/2022 ).
Lebih lanjut Sultan mengungkapkan, selesai dibangun nantinya geduang eks Hotel Mutiara ini akan diperuntukkan bagi para pelaku usaha UMKM termasuk para perajin sehingga karya mereka dapat lebih dikenal oleh para buyer luar negeri. Bahkan Sultan menegaskan, gedung tersebut nantinyan tidak akan diberikan pada pengusaha besar melainkan dikhususkan bagi pengusaha Yogyakarta.
“Yogyakarta ini tidak memerlukan industri besar. Cukup Industri menengah dan kecil tetapi banyak,” tandas Sultan.
Ditegaskan juga oleh Sultan, industri fashion harus mampu mengkonsolidasi industru tekstil, sehingga pelaku usaha ini hendaknya tak hanya menjual produk batik saja. Khusus untuk sektor ini, Pemda DIY akan melakukan backup sehingga industri garment mampu tumbuh menjadi industri fashion. Oleh karena itu, pihaknya berharap para pelaku usaha ini mengubah orientasi pasar lokal menuju pasar internasional.
Sehubungan dengan hal tersebut, lanjut Sultan, pada Maret 2023 nanti Pemda DIY akan melakukan penanda tanganan kerjasama dengan Victoria, Australia dan bidang fashion masuk sebagai salah satu terobosan untuk belajar manajemen dan pemasaran. Konsekwekensi dari hal tersebut maka untuk setiap produk yang berorientasi export harus melewati verifikasi kualitas.
“Dengan demikian mulai sekarang kita harus mulai mengubah visi, punya kemauan untuk berubah dan jangan bicara lagi ngaten mawon sampun pajeng. (begini saja sudah laku-red),” tegas Sultan.
Oleh karena itu, Sultan berharap event Jogja Fashion Week 2022 tidak hanya berhenti sebatas pameran dan event semata, namun harus ditindak lanjuti dengan kegiatan lainnya.
Terhadap harapan Sultan tersebut, Sekda DIY Kadarmanto Baskoro Aji menyampaikan, sebagai sebuah event promosi, Jogja Fashion Week yang sudah terselenggara selama 16 kali dinilai sudah cukup berhasil.
Oleh karenanya, event ini hendaknya dipakai sebagai momentum untuk mewujudkan tujuan yang lebih besar yaitu menghubungkan para pelaku UMKM fashion ini dengan para buyer internasional, sehingga pasar yang dijangkau semakin luas. Dengan adanya pasar yang lebih luas, harapannya omzet akan semakin meningkat dan hal tersebut akan berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat. (Sds)
