Sukito, Menyulap Fosil Kayu Limbah Sungai Jadi Karya Seni Berharga

share on:
Sukito menunjukkan salah satu karyanya || YP-Supardi

Yogyapos.com (BANTUL) – Inspirasi kemunculannya selalu tak terduga, dan inspirasi seringkali menuntun jalan kreatif, bahkan inovasi. Demikian yang dialami  Sukito (36), seorang kreator fosil kayu asal Wonotingal, Pocosari Srandakan Kabupaten Bantul.

“Saya mendapat inspirasi tentang memanfaatkan fosil kayu limbah sungai dan laut untuk dijadikan berbagai macam hiasan dinding secara tiba-tiba,” kata bapak dari tiga anak kepada yogyapos.com, Selasa (6/8/2024).

Ditemui saat membuat karya seni di rumahnya pada acara ekpose dinamika pembangunan oleh Diskominfo Bantul dan Media Massa, pria yang hanya lulusan SD di Gunujgkidul ini, bertutur dirinya memperoleh inspirasi untuk berkarya seni ini sejak sekitar 3 tahun lalu. Saat itu ia sedang mengantarkan sekolah anak. Kemudian berhenti melihat fosil kayu limbah sungai di Pantai Selatan Bantul.

Karya Sukito yang mengangumkan || YP-Supardi

“Kok saya langsung berfikir bahwa fosil itu dapat  untuk membuat hiasan dinding. Kebetulan saya sedang mengangur. Maka sejumlah fosil saya bawa pulang dan saya tempel tempelkan di meja, ternyata layak menjadi barang seni,” kenangnya.

Sejak itulah Sukito melakukan pekerjaan membuat hiasan dari fosil kayu. Meski tidak setiap hari melakukannya, namun hingga kini ada sekitar 25 seni hiasan dinding karyanya.

“Dalam merangkai fosil ini saya tidak menggunakan paku. Sebab fosil ini telah terkena air laut, memiliki kadar garam saat di pantai sehingga jika dipakai, pakunya akan lekas berkarat dan tak awet. Solusi untuk menempelkan kayu ini dengan lem yang murah dan dipantek  alias dikancing menggunakan ikatan bambu,” jelasnya.

Sukito mengungkapkan, untuk membuat satu hiasan dinding membutuhkan waktu sekitar 28  hari. Namun saat merangkai, Sukito tidak mau berhubungan dengan handphone, karena mengganggu konsentrasi. Jika konsentrasi terganggu, bekerjanya tak fokus dan hasilnya menjadi kurang bagus, tidak seperti yang diinginkanya.

Sukito melakukan finishing karyanya || YP-Supardi

“Kendala saya masih kekurangan peralatan produksi. Pengerjaan dilakukan menggunakan peralatan manual,” katanya.

Sukito berharap, karya seninya dapat laku dengan harganya lumayan sehingga memeroleh keuntungan yang layak untuk memenuhi kebutuhan keluaraga. 

Kini yang mendesak dibutuhkan untuk pengembangan produksi krestivitas tersebut diantaranya adalah bantuan promosi, peralatan,  permodalan dan.

Sementara itu, Ihsanudin selaku pendamping Sukito menyatakan harapannya agar pemerintah beratensi terhadap keberlangsungan Sukito dalam berkarya.

Menurut Ketua LPMD Wonotinggal, Surojo,  karyan seni hasil sentuhan tangan Sukito menjadi barang bernilai dan harganya lumayan sehingga menguntungkan dandapat menjadi andalan.

Senada disampaikan Panewu Srandakan, Sarjiman, bahwa hasil karya Sukito sudah beberapa kali dipamerkan diantaranya pada Bantul Creatif Expo 2024. Karya-karya tersebut dibandrol dua juta rupiah. (Spd)


share on: