SALAH satu ciri khas makanan Indonesia adalah soto, atau biasa disebut coto, tauto atau sroto ini menjadi primadona masyarakat Indonesia untuk dijadikan santapan lezat dengan varian kuah yang menyesuaikan lidah setiap adat di Indonesia.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, Soto Lenthok Pak Sadari-Limasan yang menjadi legenda Kuliner Tempo Doeloe sangat digandrungi berbagai kalangan. Menengok sesaat kebelakang, nama Lenthok Pak Sadari-Limasan dibuat berdasarkan nama Pak Sadari sendiri yang merupakan pelopor soto Lenthok.
Pak Sadari awalnya menjajakan soto Lenthok pada tahun 1957. Ia mengandalkan sebuah pikulan atau sejenis gerobak yang dipikul dibahu, berjalan menyusuri jalan sepanjang Gunungkidul menuju ke tengah kota Yogyakarta tepatnya di Pakualaman dimana tempat Pak Sadari mondok berjualan soto Lenthok.
Ingat! Ada tiga lenthok di dalam mangkok || YP-Agung DP
Awal yang penuh perjuangan, keprihatinan dan kesabaran dilakoninya hingga tahun 1982. Dan berkah tuhan membuahkan hasil dari keringatnya, yakni memiliki outlet perdananya di utara perempatan Jalan Hayam Wuruk Yogyakarta.
“Jadi, kalau bicara tentang Soto Lenthok, itu hasil temuan bapak (Pak Sadari-red), alhamdulillah sampai sekarang masih eksis menjadi ikon kuliner Yogyakarta,” ungkap Subargo, salah satu putera Pak Sadari kepada yogyapos.com, Minggu (21/8/2022).
Aneka lauk pelengkap nikmat || YP-Agung DP
Subargo memang menjadi penerus Soto Lenthok. Tangan dinginnya menjadikan Soto Lenthok Pak Sadari sekarang telah memiliki beberapa outlet di sejumlah tempat di wilayah DIY. Salah satunya dan outlet yang baru saja dilaunching yaitu 'Soto Lenthok Pak Sadar-Limasan', berada di Jalan Pulangsih no 152 B Klaseman Sinduharjo Ngaglik Sleman.
Outlet terbaru ini berkolaborasi dengan Sendok Sumpit Group yang merupakan perusahasn kawakan dibidang kuliner milik Fani Suwito. Dinamakan limasan karena tempatnya berbentuk limasan serta biar berbeda dengan yang lain.
“Ya ini hasil kolaborasi. Kami sepakat untuk mengembangkan outlet Soto Lenthok Pak Sadari dengan tetap mengedepankan cita rasa soto Lenthok yang tidak berubah sampai saat ini. Fani dan Isron adalah mitra kami untuk mengembangkan kuliner tempo doeloe dengan brand baru ditambahi limasan biar beda dengan tempat lain,” jelas Subargo yang mantan jurnalis era 1980-1990an.
Tempat yang nyaman untuk santap sembari menggagas aktivitas kerja dan kreasi|| YP-Agung DP
Sementara itu, Fani Suwito menjelaskan sekarang orang cenderung mencari makanan khas Yogya kuliner legenda. Terkait dengan kerja sama membuka Soto Lenthok Pak Sadari, salah satu visinya adalah ingin membesarkan kuliner khas Yogyakarta.
“Tertarik soto karena merupkan kuliner khas Yogkarta dan melilih Soto Lenthok Pak Sadari karena sudah melegenda. Setelah merasakan dari semua pilihan soto lenthok pernah dicoba dan semua rasanya bervareasi dan kita mencari yang terbaik dari yang pernah dicoba. Ternyata Soto Lenthok Pak Sadari ini yang teristimewa,” tandasnya.

Menu yang menjadi andalan ciri khas kelezatannya yakni Lenthok perkedel yang terbuat dari singkong dengan penampilan unik menyerupai bola bertekstur renyah (crispy) yang tidak mudah hancur saat dicampur dengan gurihnya kuah soto.
Untuk tetap menjaga cita rasa lebih dari 60 tahun, Subargo selalu menggunakan ayam kampung disajikan dengan aneka sate, seperti sate jeroan, sate usus, sate kulit, sate brutu, sate telur serta tersedia ekstra daging ayam secara terpisah.
Soto Lenthok Pak Sadari-Limasan buka setiap hari mulai pukul 06.00 -14.00 WIB. Nah tak lengkap kiranya melihat keindahan kultur dan berwisata di Yogyakarta tanpa mencicipi legenda kuliner Yogya yang nikmatnya menyesap sepanjang usia kita. (Agung DP/Met)
