Slemania, Karnaval dan Multitude

share on:
Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM || YP-Dok.Red

SLEMANIA memang bukan komunitas suporter sepak bola pelopor. Hal itu dikarenakan berbagai suporter sepak bola sudah ada di berbagai tempat. Namun, perkembangan Slemania layak menjadi sorotan.

BACA JUGA: Hari Jadi ke-110 Sleman, Sultan HB X: Menjadi Ajang ajang Mulat Sarira Bermartabat

Sebagai komunitas yang awalnya terpencar, secara “organisasional” didirikan pada 22 Desember 2000, suporter Slemania terus bertransformasi. Slemania menjadikan pertandingan sepak bola bukan lagi sekedar permainan olah raga, tetapi lebih-lebih sebagai seni pertunjukkan.

BACA JUGA: 129 Downhiller Berkompetisi Keras di Seri Perdana 76 Indonesian Downhill

Tidak penting soal masuk dalam kasta liga yang mana, tidak penting siapa yang akan menjadi lawan tanding, Slemania menjadikan panggung besar sepak bola menjadi suatu olah seni massal. Didukung Brigata Curva Sud (BCS), Slemania Funs, dan Slemanona, jika PPS Sleman terjun ke lapangan, maka haru-heboh pertandingan berubah menjadi pementasan kolosal.

BACA JUGA: 28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Terbitkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Empat Dekade

Bahkan BCS dianggap sebagai suporter yang progresif karena bentuk dukungan dan kreativitasnya dalam mendukung PSS Sleman melalui aksi koreografi dan chants. Kita tahu, BCS pernah dinobatkan sebagai salah satu suporter terbaik Asia. Tentu itu prestasi yang menghebohkan.

BACA JUGA: Menteri LH Jumhur Hidayat Cemaskan Gejala 'Ghost Fishing'

Sebenarnya, ada tiga panggung penting bagaimana Slemania dan BCS mempersiapkan performasi ketika PPS Sleman akan tanding. Pertama, panggung konsolidasi dalam berbagai bentuknya, tentu terutama latihan koreografi dan chants. Konsolidasi ini tentu secara terpisah dan sendiri-sendiri. Tapi, tentu ada tempelate yang dilatih bersama sehingga ketika manggung di Stadion Maguwoharjo, ibarat kata tinggal manggung bersama.

BACA JUGA: Kenapa Dibentuk DSI, Ini Penjelasan Menkeu Purbaya

Kedua, panggung pertunjukan kolosal itu sendiri. Ini tidak mudah, perlu ada “komando” baik eksplisit maupun implisit agar pertunjukan terlihat kompak dan keren. Walaupun terus berproses, dibanding tampilan awalnya beberapa tahun lalu, kini pertunjukan itu bisa tampil sangat mengesankan dan menggetarkan. Karakter suporter yang “berkiblat” ke Italy lebih menggetarkan lapangan.

BACA JUGA: Dansatgas Pamwil VVIP Brigjen TNI Yuniar Sambut dan Antar Presiden RI di Bandara YIA

Bagian yang menjadi seni pertujukan massal ini tentu merupakan bagian paling penting karena terkait dengan beberapa hal. Pertama, stamina karena koreografi dan chants bisa terjadi sepanjang pertandingan. Kedua, perlu punya kemampuan mengelola emosi jika tim yang didukung tidak menang. Slemania semakin diajarkan untuk bisa mengendalikan emosi dan semakin terkendali.

BACA JUGA: Seluruh Jemaah Haji Indonesia Tiba di Makkah, Kemenhaj Matangkan Layanan Armuzna

Panggung ketiga (jalan raya), tentu saja meliputi awalan dan penyelesaian, baik dalam konteks menang dan kalah. Memang, sejauh ini tampak terdengar bising dan hingar bingar di jalan-jalan Sleman. Nah, di panggung jalanan inilah sebenarnya terbuka dua kesempatan buat Slemania. Pertama, sangat mungkin Slemania memperlihatkan suatu karnaval, dan kedua, multitude.

BACA JUGA: Paguyuban Satriyatama Gelar Pameran Keris dan Bursa Tosan Aji di Rumdis Bupati Magelang

Hal yang dimaksud dengan karnaval (meminjam konsep Bakhtin) adalah bagaimana Slemania mampu mempertontonkan demokrasi yang sesungguhnya. Dalam karnaval, kedudukan setiap orang, setiap kelompok, adalah setara. Otoritas ditunda, hierarki tidak berlaku. Setiap orang berfungsi sebagai penampil yang setara, yang ada adalah penghormatan terhadap setiap aktor jalanan tersebut. bahkan ada banyak kesempatan untuk tampil parodis dan lucu-lucuan.

BACA JUGA: 28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Terbitkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Empat Dekade

Apalagi, karena di jalan raya, bisa menjadi ajang pertunjukan seni kolaboratif, tidak hanya mengandalkan suara motor, tetapi dengan berbagai instrumen musik yang tersedia. Dalam karnaval seperti itu, secara subtansial tidak lagi sekedar mempertontonkan seni suara, koreografi permainan kendaraan bermotor, tetapi penghormatan terhadap semua manusia di jalanan adalah demokrasi itu sendiri.

BACA JUGA: Hoax! Narasi Larangan Pertalite untuk Kendaraan Merk Tertentu per 1 Juni 2026

Sementara itu, multitude (konsep Antonio Negri) adalah kumpulan berbagai orang, bebas agama, suku, ras, kelas, dan gender, yang berkumpul menjadi komunitas. Komunitas tersebut terutama adalah komunitas bebas keterikatan ekonomi dan politik, dan berkomunitas atas nama hobi, “perasaan yang sama”, dan keinginan untuk menjalin persaudaraan. Akan lebih afdol lagi sebagai tempat untuk menjalin kasih sayang di antara sesama manusia.

BACA JUGA: Bermula Hubungan Asmara Kini Saling Berperkara, RJ Masih Wacana

Dalam sejarahnya, komunitas yang multitude seperti itu berwajah ganda; di satu sisi disegani, kalau tidak ditakuti, kekuasaan. Karena kekuasaan secara ralatif seharusnya tidak mampu mengkooptasi multitude. Akan tetapi, di sisi lain akan dicintai masyarakat yang merasa memiliki dan membutuhkan ruang multitude tersebut.

BACA JUGA: Ikape Laras Budaya UNY Lestarikan Karawitan, Gigih Latihan

Saya menduga masyarakat butuh model bagaimana multitude bisa lebih eksis dan dirasakan perannya. Jika Slemania bisa berkembang ke arah itu, akan menjadi suatu transformasi yang penting. (Penulis: Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM)


share on: