Slamet Jaka Mulyana Ingin Jadi Pesepakbola, Kini Malah Menjabat Kajari

share on:
Slamet Jaka Mulyana dan istri || YP-Ist

Yogyapos.com (SOLOK) - Perjalanan hidup manusia sungguh tak ada yang bisa menduga. Seperti perjalanan hidup Slamet Jaka Mulyana, asal Bantul yang kini menjabat Kepala Kejaksaan Negeri  Solok Selatan (Solsel) Sumatera Barat. Ia sebenarnya bercita-cita ingin menjadi pemain sepakbola profesional, tapi perjalanan hidup telah membawanya berkarir sebagai aparat penegak hukum di korp Adhyaksa.

Bapak tiga anak asli Srandakan, Bantul  tersebut, sejak SD hingga hingga SMP dan sekolah di SMA N 1 Bantul mengaku masih gemar bermain sepak bola dan masih memilik  keinginan menjadi pemain bola top nasional. Kepiawaian main bola memang ditunjukkan ketika duduk di SMA, ia mejadi salah satu pemain bola andalan di sekolah. Ia memiliki tim yang pemain bola SMA 1 Bantul yang sering mewakili Kabupaten dalam lomba di tingkat propinsi. Dan menjadi juara.

Pria yang akrab disapa Jaka tersebut, memang terbilang memiliki kecerdasan. Nyatanya ia bisa masuk perguruan tinggi favorit yang diinginkannya. Setelah lulus SMA,ia akhirnya diterima di Fakultas Hukum Universitas 11 Maret (UNS) Solo. Nah setelah kuliah, wawasannya menjadi berkembang dan jarang main bola. Dan akhirnya cita-cita menjadi pemain bola yang tergabung di tim PSSI menjadi terlupakan.

Kalau akhirnya, Jaka bergabung ke dalam korp adyaksa, sepertinya karena doa sang ayah yang terkabul. Sutarjo, sang ayahanda ketika ia kuliah masih merupakan pegawai di staf TU Kejaksanaan Negeri Bantul. “Dalam hati bapak saya sebenarnya menginginkan anaknya ada yang mengikuti jejaknya di kejaksaan, tapi semua diserahkan kepada anak-anak,” kata pria kelahiran 9 Maret 1969 ini.

Jaka mengaku setelah lulus di UNS Solo tahun 1993, sempat lontang lantung belum mendapatkan pekerjaan. Ia sebenarnya berharap bisa bekerja di bank. Maklum ketika itu, bank masih menjadi tempat favorit untuk tempat  meniti karir. Tapi nasib berbicara lain, setelah mencoba melamar dan ikut seleksi di beberapa bank nasional, tak satupun yang memberinya peluang bergabung.

Merasa tak mendapatkan peluang di perbankan, ia kemudian konsultasi dengan sang ayah. oleh ayahnya, ia disarankan untuk mencoba menjadi jaksa karena latar belakang pendidikannya di bidang hukum sudah memenuhi syarat. Demi memenuhi harapan sang ayah, Ia pun mencoba untuk mengikuti tes masuk, dan ternyata keberuntungan memang berpihak kepadanya.

“Setelah ikut tes beberapa kali, Alhadulilah akhirnya di terima di kejaksaan,” ujar Jaka.

Jaka lolos tes masuk 1995 dan setahun kemudian resmi bergabung sebagai penegak hukum di korp kejaksaan.Dinas pertama di Kejari Demak selama empat tahun. Dan setelah resmi mengikuti pendidikan khusus Jaksa tahun 2000, ia ditempatkan di Kejari Gunungkidul, lalu berpindah-pindah kota hingga ke Indonesia Tengah dan Timur.

Sempat ditarik di Kejaksaan tinggi `DKI tahun 2013-2015, lalu pindah di  Kejari  Jogja. Selama di Kejaksaan negeri Jogja inilah, Jaka merasa pulang kampung sehingga merasa nyaman.Ia sebenarnya berharap tidak dipindah lagi, tapi harapan tak sesuai kenyataan. Setelah tiga tahun dinas di Jogja, ia ditarik ke pusat, tepatnya di Kejagung. “ Saya ditempatkan di bagian pengawasan,” ungkapnya.

Dari Kejagung, Jaka dipindah ke Kejaksaan tinggi Sulsel dan sempat menjadi PLT Kejari Bone. Sejak Maret 2022, ia secara resmi menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Solsel, `Sumbar. “Dari Sulsel pindah ke `Solsel,”kelakar Jaka.

Menurut Jaka, ditempatkan dimana pun  baginya tidak masalah dan hanya bisa siap dan siap menjalankan tugas. “Sebagai aparat penegak hukum harus selalu bersedia ditempatkan dimana saja,” ungkapnya.

Slamet Jaka Mulyana SH || YP-Ist

Teror gaib

Sebagai aparat penegak hukum, tentu banyak konsekwensi yang harus dihadapi.Salah satunya menghadapi perlawanan dari pihak yang menjadi terdakwa, maupun keluarga daan pendukungnya. Karena tidak terima dengan proses hukum yang dijalani, ada pihak-pihak yang sering melakukan ancaman tindak kekerasan secara langsung maupun tidak langsung.

Jaka mengakui sebagai seorang jaksa sering mengalami kejadian yang kadang tidak bisa diterima dengan nalar. Ia mengaku beberapa kali mengalami kejadian aneh,baik yang dialami sendiri maupun bersama teman sekantor. “Sering terjadi hal-hal aneh, yang mungkin tujuannya menteror kami secara fisik dan mental dengan kekuatan supranatural,” ungkap Jaka.

Perisitiwa yang hingga kini terus terngiang dalam ingatan adalah kejadian-kejadian aneh sebelum eksekusi mati para pelaku Bom Bali, Amrozy Cs, tahun 2008 silam. “Hampir selama 40 hari kami harus siaga karena banyak kejadian aneh yang terjadi di kantor menjelang eksekusi para pelaku Bom Bali,” ujar bapak tiga anak tersebut.

Teror Bom Bali yang terjadi 2002 lalu, yang menyebabkan 200 lebih nyawa melayang, merupakan peristiwa teror terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Tiga pelaku utama pelaku pengeboman tersebut baru dieksekusi mati, setelah vonis yang dijatuhkan hakim berkekuatan hukum tetap. Mereka adalah Amrozy, Ali Ghufron dan Mukhlas. Mereka ditembak mati di LP Nusakambangan pada Oktober 2008 silam.

Berdasarkan cerita yang diungkapkan Jaka, dibalik eksekusi mati para pelaku bom Bali, Amrozi Cs tersebut, ternyata banyak cerita mistis  yang terjadi. Ternyata kantor Kejaksaan Negeri Cilacap mendapatkan teror gaib. Selama sebulan lebih sebelum ekseskusi mati dilakukan, banyak kejadian aneh tidak masuk akal yang terjadi kantor institusi penegak hukum tersebut. “Sepertinya ada kekuatan supranatural yang mencoba menyerang kami,” kenang Jaka, salah satu jaksa yang pernah berdinas di Kejari Cilacap.

Jaka masih ingat betul bagaimana peristiwa aneh yang pernah dialaminya bersama para koleganya di Kejari Cilacap. “Pokoknya tiba-tiba ada saja kejadian aneh yang terjadi di kantor kejaksaan,” ungkap jaksa yang akrab disapa Jaka tersebut.

Menurut Jaka, ia merasakan suasana malam yang sangat mencekam. Berbagai peristiwa misterius tersebut membuat para jaksa harus selalu siaga.. “Kami sampai berjaga di kantor tidak tidur malam, selama 40 hari kami terus berdoa agar terhindar dari serangan gaib” kata pria asal Srandakan, Bantul tersebut.

Beberapa kejadian aneh yang masih diingat Jaka, antara lain sering mendapat kiriman telur yang dilempar dari arah yang tidak jelas. Ada juga bawang putih yang tiba-tiba berada di bawah kursi ruang kerja seorang jaksa. Yang sempat membuat panik, sempat muncul kecoak dalam jumlah banyak dari sebuah ruangan dan tiba-tiba menghilang.“Yang juga mengherankan ada aquarium yang pecah. “Kami sampai ganti tiga aquarium karena pecah kami ganti dan pecah lagi hingga tiga kali,” terang Jaka.

Hingga saat  ini, Jaka dan kawan-kawan tidak bisa mengungkap siapa yang berada di balik terror magis tersebut. Yang jelas, setelah ekseskusi selesai, teror hilang dengan sendirinya. “Kami merasa bersyukur tidak ada pegawai yang sakit karena serangan magik “ucapnya.

Jaka mengaku tidak gentar walau harus menghadapi berbagai serangan gaib. Sebelum resmi diangkat sebagai jaksa, ia sudah mendapat wejangan dari ayahandanya tentang kemungkinan berbagai risiko yang bakal dihadapi selama menjalankan tugas.

Dan apa yang pernah disampaikan ayahandanya yang pernah bertugas di Kejari Bantul, ternyata terbukti benar adanya. Ia beberapa kali mengalami kejadian aneh ketika harus mendudukan seorang lurah di Pati dan Cilacap sebagai terdakwa tindak pidana umum. Salah satunya, ia sempat tidak bisa bicara saat akan membacakan dakwaan di PN Pati, Jateng. “Saya sempat agak tertekan karena mulut seperti terkunci saat akan membacakan dakwaan,” kenangnya.

Untungya dalam kondisi panik karena mulut seperti terkunci, Jaka sempat teringat pesan ayahnya untuk membaca ayat kursi guna melawan kekuatan hitam. “Alhamdulillah setelah membaca ayat kursi walau dalam batin, tiba-tiba mulut saya terbuka dan sidang berjalan lancar,” ucap Jaka berkisah.

Sebagai seorang muslim, Jaka mengaku bersandar kepada Allah SWT dalaam setiap menghadapi ancaman fisik maupun nonfisik. Ia juga membentengi diri dengan amalan-amalan yang diyakininya bisa menangkal dari berbagai serangan ilmu hitam yang mencoba menyerangnya secara gaib. (Gigin)


share on: