Siswa SMA Bumi Cendekia Yogyakarta Siap Jalani Live In di Jepang

share on:
Kepala Sekolah SMABumi Cendekia Yogyakarta, Ubaidillah Fatawi M Pd || YP-R Toto Sugiharto

Yogyapos.com (YOGYA) - Pesantren dan SMA Bumi Cendekia Yogyakarta siap memberangkatkan siswa/santri ke Jepang untuk melaksanakan program live in selama dua pekan.  Siswa/santri yang mengikuti program International Youth Exchange for Sustainable Future sejumlah 12 anak.

Kepala Sekolah SMABumi Cendekia Yogyakarta, Ubaidillah Fatawi M Pd, Senin (2/9/2024), mengungkapkan program live ini diterapkan sebagai bagian dari proses pembelajaran siswa dan santri setiap tahun ajaran.

Pada tahun pertama live in dengan focus konservasi misalnya bunga anggrek, penyu, dan lainnya. Tahunkedua, orientasi pada profesi, misal live in bersama keluarga peternak atau pun perajin atau karyawan media elektronik sehingga siswa memahami seseorang menjalani hidup dengan profesi masing-masing. Tahun ketiga, berorientasi pada traveling, baik lokal maupun internasional.

“Tahun ketiga ini kita coba live in keJepang. Mengapa dipilih Jepang, salah satu faktor karena background ras berbeda misalnya dengan sesama ras Asia, seperti Thailand, Filipina, Malaysia, ataupun Kamboja. Selain itu, juga adajejaringdengan PCINU di Jepang dan lembagavoluntirlainnya,” urainya saat jam rehat di komplek sekolah yang berada di Padukuhan Gombang Kalurahan Tirtoadi Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Diilustrasikan pula teknis live in selama di Jepang, seperti tempat tinggal siswa/santri dengan didampingi dua pendamping, yaknidari guru, kebetulan Ubaidillah sendiri dan seorang lagi dari lembaga mitra serta lima orang wargaJepang.

Sejumlah 12 siswa/santri akan mengunjungi sekolah internasional di Tokyo, KBRI, Tochigi Yokohama serta sebuah pesantren di Ibaraki. Mereka akan belajar tentang mengelola pesantren di negara yang mayoritas non muslim dan menempatkan agama sebagai wilayah privat yang sangat berbeda jauhdengan di Indonesia. Mereka juga belajar bagaimana merawat hutan, pertanian, dan membuat kerajinan. Kelak, sepulang dari Jepang, siswa/santri mendapat tugas menulis esai tentang pengalaman mereka selama live in untuk dibukukan.

“Juga masalah sustainable future, masa depan berkelanjutan. Bagaimana orang Jepang merawat alam sebagai inspirasi, minimal terinfluence untuk siswa, santri tentang bagaimana mereka merawat alam di Indonesia. Mereka juga akanmelihatdan praktik pertanian Jepang, kerajinan, masak sendiri, danbelanja juga ke pasar,” terangnya.

Program live in total selama14 hari,mulaidari 11 September sampai 23 September 2024. Mereka akan berangkat dariYogyakarta kebandara Soekarno Hatta pada 10 September 2024. Penyelenggara menerapkan prinsip secara ekonomi semurah mungkin, atau dikenal sebagai backpacker, tidak memakai fasilitas hotel.

Menurut Ubaidillah, sejumlah 12 siswa/santri dipilih melalui sistem seleksi. Kepadasiswa/santri yang berminat ikut live in diberi tugas menulis esai. Konten esai seputar motivasi ingin ikut, apa yang akan dilakukan disana, dan rencana tindak lanjut setelah kembali ke tanah air.

Salah satusiswa/santri Ahmad Nashriel Haafed yang menjadi koordinator menuturkan telah mempersiapkan fisik dan mental. Selain itu, ia bersama kawan-kawannya juga selalu mendiskusikan rencana dan persiapan apa saja yang diperlukan selama di Jepang, perkiraan bekal, sistem dokumentasi, rencana kegiatan per hari selama dua pekan.

Aktivitas para siswa || YP-Ist

Nashriel dan kawan-kawannya mendapatkan materi pembekalan dari dosen jurusan Sastra JepangFIB UGM tentang Bahasa dan budaya orang Jepang. Juga, tim lembaga mitra memberi informasi tentangJepang, sertaagar siap mental, siap beradaptasi, antara lain budaya antre, naik transportasi umum, dan semacamnya. Pengeluaran dengan tarif transportasi umum kisaran 700 hingga 800 ribu rupiah , menu makanan juga sudah disiapkan dengan rencana masak otmeal dan nasi kuning.

“Visa, paspor sudah siap. Tiket pesawat juga.Yang disiapkan bagaimana antisipasi, mental, misal kalau ada masalah di Jepang. Rencana selama di sana, sudah ada jadwal tentative dan yang sudah diatur. Intinya kita di sana membantu kerja warga Jepang menurut keseharian mereka. (R Toto Sugiharto)

 

 

 

 


share on: