Seratusan Orang Aksi 'Pisowanan Piring' di Pendapa Disbud Yogya, Sumbu Poros Filosofi untuk Siapa?

share on:
Para peserta aksi Pisowanan Piring di Pendhapa Dinas Kebudayaan DIY || YP-Ist

SUASANA pendopo Dinas Kebudayaan DIY di jalan Cendana 11 Yogyakarta, Jumat pagi (16/12/2022), tampak berbeda dari biasanya. Seratusan orang duduk lesehan melingkar di pinggir pendopo. Beberapa diantaranya ibu-ibu yang membawa anak kecil.

Di bagian tengah tertata ratusan piring kosong dengan sendok diatasnya. Mereka adalah pedagang, perwakilan warga Jogoyudan dan Gowongan serta penyelenggara Tugu Jogja Expo (TJE) yang mengikuti Pisowanan Piring.

Aksi Pisowanan Piring berlangsung tertib dan damai. Perwakilan pedagang, warga dan penyelenggara TJE bergantian berorasi. Tampak petugas Satpol PP DIY dan petugas kepolisian turut menjagai.

Aksi ini digelar sebagai bentuk keprihatinan setelah BPKSF tidak merekomendasi sehingga izin keramaian TJE tidak dapat diterbitkan kepolisian dan terancam dihentikan.

Pisowanan Piring yang dilakukjan dengan menggelar piring kosong di pendopo Dinas Kebudayaan DIY mengandung pesan bagi para pemangku kebijakan agar senantiasa berorientasi kepada pemenuhan kesejahteraan masyarakat. Terlebih angka kemiskinan DIY masih tinggi.

Raditya Putra Darma yang merupakan  pedagang pakaian mengaku senang dapat berjualan di event TJE sebab lokasinya strategis di tengah kota. Warga Klitren Gondokusuman Yogyakarta ini mengaku selama ini berjualan secara online dan mengikuti event-event insidental seperti TJE. Hasil yang diperoleh cukup untuk menyambung hidup.

“Pemerintah hendaknya dapat mengakomodir harapan pedagang untuk dapat tetap melakukan aktivitas ekonomi di kawasan sumbu filosofi. Terlebih ini hanyalah event yang bersifat sementara memanfaatkan libur Natal dan Tahun Baru,” harapnya.

Sementara itu, Hertanto warga Gowongan Kidul yang berprofesi sebagai juru parkir di jalan Margo Utomo mengaku turut merasakan dampak dari TJE. Ia mengajak tetangga-tetangganya yang menganggur untuk membantu menjadi tenaga parkir.

Dengan adanya aksi dari sejumlah warga ini, perwakilan peserta Pisowanan Piring kemudian melakukan pertemuan terbatas dengan Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Laksmi dan Kepala BPKSF DIY Dwi Agung.

Dalam pertemuan tersebut Dian menyatakan bahwa kawasan sumbu filosofi untuk sementara waktu tidak diperbolehkan untuk event-event komersial karena tengah dalam proses pengusulan ke Unesco sebagai warisan budaya dunia. Untuk itu, Dian menawarkan agar pelaksanaan Tugu Jogja Expo dapat dipindahkan ke lahan eks kampus Stiekers yang juga milik Dinas Kebudayaan DIY. Namun tawaran ini ditolak oleh penyelenggara TJE. (SDs)

 

 

 

 

 


share on: