Yogyapos.com (KULONPROGO) - Nyaris tak diketahui publik, Serangan Oemoem 1 Maret 1949 yang mampu membuka mata dunia tentang eksistensi Republik Indonesia, ternyata dibahas di tengah persawahan di Brosot, Galur, Kulonprogo. Lebih dari sekadar area penyangga, kawasan Menoreh sengaja dipilih sebagai basis pertahanan TNI saat Ibukota berada di Yogyakarta.
BACA JUGA: JCW Mengapresiasi Hakim yang Memvonis Penjara 7 Tahun Eks Walikota Yogya
Demikian disampaikan Dosen Ilmu Sejarah FIB UGM, Baha'udian SS MHum, saat menjadi salah satu narasumber talkshow peringatan Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Acara yang digelar Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulonprogo di Memorial Camp Banaran Kidul Banguncipto Sentolo Kulonprogo, Rabu (1/3/2023) ini menghadirkan penasihat Keraton Yogyakarta KRT Suryohadibroto (Prof Dr Djoko Suryo), dan Dra Niken Probo Laras SSos MHum (Kepala Kundha Kabudayan Kulonprogo dengan moderator Wahjudi Djaja SS MPd (Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah UGM atau Kasagama).
BACA JUGA: Sukses Pertunjukan Pekan Lalu, Warga Berharap Jatilan Songbanyu Digelar Rutin di Pantai Krokoh
Kulonprogo memiliki tiga daerah penting, lanjut Baha'udin, terkait revolusi. Pertama di tengah yakni Bantar, selatan di Brosot dan utara di Perbukitan Menoreh. Setelah ada instruksi dari Kol Bambang Sugeng untuk merancang serangan umum, di Brosot itulah desain serangan umum disepakati bersama.
“Tidak saja ke daerah inti di Yogyakarta tetapi juga daerah penyangga,” tandasnya.
Terkait bom-bom yang digunakan untuk menghadang pasukan Belanda, Baha'udian menyebut semua adalah buatan Prof Herman Johanes (Rektor UGM). “Seluruh bom yang digunakan TNI saat itu beliau rakit di Sekolah Teknik Jenis yang sekarang menjadi SMK 3 Yogyakarta,” paparnya.
Talkshow Serangan Oemoem 1 Maret 1949 || YP-Wahjudi Djaja
Menanggapi dampak Serangan Oemoem 1 Maret 1949, Prof Djoko Suryo menyebut mata dunia terbuka mengingat Belanda tak henti mengabarkan bahwa Indonesia telah tumbang. “Ada dua strategi yang saat itu kita terapkan, yaitu militer dengan Serangan Oemoem 1 Maret 1949 dan diplomasi melalui meja perundingan,” urainya.
BACA JUGA: Grup Captain Piyasak Sumettikon Berkunjung ke Muspusdirla
Sedangkan Dra Niken Probo Laras menyampaikan agenda Dinas Kebudayaan terkait upaya memaknai sejarah yang ada di wilayah Kulon Progo. “Tahun ini ada empat kali kami menggelar peringatan sejarah. Selain hari ini memperingati Serangan Oemoem 1 Maret 1949, kemudian tanggal 29 April kami menyelenggarakan peringatan gugurnya pahlawan Sanoen. Kami juga akan menggelar peringatan Yogya Kembali pada 29 Juni dan 31 Agustus diperingati Yogya Istimewa. Ini akan kami sinergikan untuk menggelorakan semangat juang,” ungkap mantan Kepala Dinas Pariwisata Kulonprogo ini.
Acara peringatan Serangan Oemoem 1 Maret 1949 dimeriahkan pergelaran Fragmen Tari Laskar Bantar dan Jatilan Mudha Laras. Selain dihadiri jajaran OPD Kabulaten Kulonprogo, juga hadir LVRI Kulonprogo, MGMP Sejarah Kulonprogo, para siswa dan Forkompim Kapanewon Sentolo. (Iud)
