Yogyapos.com (SLEMAN) – Fakultas Ilmu Sosial dan IlmuPolitik (FISIP) dan Fakultas Teknik (FT) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) berkolaborasi dalam melaksanakan seminar Public Lecture dengan tema agrikultur bagi masyarakat yang berprofesi sebagai petani, di Ruang Auditorium Kampus 4 Gedung Teresa UAJY pada Selasa (6/8/2024).
Seminar ini dihadiri oleh jajaran dosen UAJY serta 40 tamu undangan dari pihak eksternal. Kelompok-kelompok tani yang hadir diantaranya Paguyuban Nayantaka, Lingkar Organik, Sri Rejeki, Kompak-Yo, Bulak Kunden, Kelompok Wanita Tani, dan masih banyak lagi.
Seminar Public Lecture ini merupakan salah satu rangkaian acara kolaborasi FISIP dan FT yang mendiskusikan tentang agrikultur dan petani, sebagai aktor dalam mempertahankan sumber daya pangan. Isu pangan ini sangat erat kaitannya dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
Dr Victoria Sundari Handoko SSos MSi selaku Dekan FISIP UAJY mengemukakan bahwa dalam mewujudkan ketahanan pangan tersebut dibutuhkan inovasi dan modernisasi pada sektor pertanian.
“Petani berdaya, Indonesia berjaya!” ujar Sundari membakar semangat peserta.
Dr Aaron J Kingsbury PhD, dosen di Maine Maritime Academy USA menjadi pembicara pada sesi pertama berjudul ‘Pendekatan Inovatif dan Ekologis terhadap Perubahan Sosial di Pertanian Jepang’. Moderator pada sesi pertama ini dibawakan oleh Meganusa Prayudi Ludvianto SIP MCommun. dan Cindy Claresta Rendyna sebagai penerjemah Dr Aaron.

Materi yang dibawakan pada sesi ini berfokus pada pertanian di Jepang mengenai bagaimana awal mula perkembangan pertaniannya serta dampak yang terjadi hari ini hingga kemungkinan di masa depan.
Dr Aaron mengatakan bahwa begitu banyak orang yang memberikan dana bagi perusahaan-perusahaan di Jepang supaya agrikulturnya makin berkembang. “Namundemikian, aktor atau petaninya sendiri tidak ada sehingga membuat masa depan orang Jepangmenjaditidakmenentu,” lanjut Aaron.
Selanjutnya, sesi kedua dibawakan oleh moderator Kristian Tamtomo, SAnt., MA PhD dengan tiga narasumber, yakni Prof Thomas Reuter PhD, dosen Universitas Melbourne; Dr Graeme Macrae, dosen Massey University of New Zealand; serta Dr. Dhyah Ayu Retno Widyastuti SSos MSi, dosen FISIP UAJY.
Pada sesi ini, Prof Thomas menerangkan adanya praktek petani kecil justru bermanfaat dan memiliki dampak yang besar di masa mendatang.
“Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan berkelanjutan agar petani kecil tidak berhenti,” jelas Thomas.
“Dibandingkan petani besar, petani kecil ini mampu memunculkan hasil yang lebih bervariasi sehingga mampu untuk membantu ketahanan pangan,” imbuh Graeme.
Dhyah dalam pemaparannya membedah buku karangan Prof Thomas berjudul ‘Petani Kecil untuk Ketahanan Pangan Global’ yang sekaligus menjadi judul materi pada sesi dua ini. Para peserta berharap supaya pemerintah bisa melindungi petani Indonesia dan memberikan pelatihan mengenai sumber daya manusia untuk ketahanan pangan dengan pengenalan teknologi agar lebih maju dan mampu bersaing dengan negara lain. (*/Ktr)
