Selokan Mataram, Ketika Kawula Menunaikan Titah Gusti

share on:
Tiang beton jalan tol di sekitar Selokan Mataram sisi Margokaton || YP-Wahjudi Djaja

JIKA ada jejak sejarah yang monumental dan menandai hubungan Kawula-Gusti yang begitu hangat meski penderitaan sedang dialami adalah Selokan Mataram. Dibangun era pendudukan Jepang dengan nama Kanal Yashiro, adalah bukti visi dan orientasi Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Itulah langkah cerdas untuk menyelamatkan warganya dari kekejaman Jepang melalui program romusha.

BACA JUGA: Surya Paloh dan Anies Bukan Pengkhianat

Membentang lebih dari 30 km dari Kali Progo (Kulon Progo) sampai Kali Opak (Prambanan) dikerjakan dengan penuh kesadaran dan pengabdian oleh rakyat. Dahulu dikenal sebagai Kali Malang, konon dibangun HB IX atas bisikan yang beliau dengar. ‘Rejane Mataram manowo Kali Progo gathuk karo Kali Opak’, begitu bisikan leluhur HB IX. Artinya, kemakmuran Mataram (Yogyakarta) akan diraih jika sungai Progo bisa bertemu sungai Opak.

BACA JUGA: Dr Syahganda Nainggolan : Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar untuk Perubahan dan Persatuan

Proyek raksasa itu dikerjakan oleh ribuan warga yang bergiliran. Tak ada mobilisasi, apalagi paksaan. Semua dikerjakan dengan penuh perjuangan dan kesadaran karena ini Titah Raja yang menjadi junjungannya. Ada yang unik saat pengerjaan selokan di sisi barat. Sebuah makam tua tak mau dipindah sehingga aliran selokan menjadi berbelok. Itulah makam Mbah Baidowi, sosok yang berjasa dalam mengirimkan beras ke Yogyakarta. Bahkan Selokan Mataram telah ditetapkan ANRI sebagai Memori Kolektif Bangsa.

Piagam penetapan Selokan Mataram sebagai Memori Kolektif Bangsa || YP-Wahjudi Djaja

Selain membebaskan rakyat dari kemungkinan penindasan, Selokan Mataram terbukti mampu membantu petani mengairi sawahnya. Sepanjang selokan ini bisa ditemukan area persawahan yang hijau dan luas. Air selokan ini setidaknya mengairi area pertanian seluas 15.734 hektar.

BACA JUGA: Ketua Peradi RBA Sleman Dr Iwan Setyawan SH MH Imbau Anggotanya Memahami Hak Imunitas Advokat

Hari-hari ini Selokan Mataram menjadi perbincangan publik. Bukan terkait langsung dengan aspek cagar budaya tetapi proyek tol yang tengah dibangun dan bersunggungan dengan Selokan Mataram. Beberapa waktu sebelumnya selokan bersejarah ini memperoleh sebutan Tempat Sampah Terpanjang di Dunia. Ini terutama untuk selokan sisi timur. Sedang sisi barat banyak digunakan warga untuk menambah narasi desa wisata.

Membayangkan lewat jalan tol sedang di bawahnya ada Selokan Mataram akan menjadi pemandangan baru di Yogyakarta. Hidup memang bergerak maju, bijak jika akar sejarah yang menandai keistimewaan kita tetap dijaga, dipelihara dan dipertahankan. Hanya begitu cara kita berterima kasih kepada para pendahulu yang telah berjuang dalam penderitaan untuk kemerdekaan. (Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah UGM (Kasagama)

 

 

 

 

 

 


share on: