Yogyapos.com (BANTUL) - Berdiri di kompleks makam Trukan Segoroyoso Pleret Bantul sambil memandang ke empat penjuru kita bisa membayangkan betapa luas Segoroyoso. Sebuah taman laut yang dibangun era Sultan Agung dan dilanjutkan oleh Amangkurat I. Sebuah mahakarya yang bisa dijadikan inspirasi untuk membangun dalam konteks wisata sejarah dan budaya.
Kepada yogyapos.com, Minggu (18/8/2024), Soim seorang warga setempat menyampaikan, Segoroyoso dikelilingi tiga gunung. Gunung Slungguh di bagian timur, gunung Ngleseh di bagian selatan dan gunung Salatan di bagian barat.
“Di antara Ngleseh dan Salatan ada pedotan untuk bendungan yang dulu bedah (red: jebol) sehingga dinamakan Dahromo. Sedangkan gunung Salatan menurut cerita merupakan tempat salat Kanjeng Sultan Agung,” jelasnya.
Sedangkan Ketua RT 01 Segoroyoso II Naj Mudin menyampaikan banyak jejak sejarah yang ada di wilayahnya. Di sisi barat ada Kali Opak yang dibendung oleh Sultan Agung saat membuat Segoroyoso. Di sisi selatan ada Paseban, yang kini menjadi area persawahan dengan pemandangan yang indah. “Di kawasan itu juga ada tempuran Kali Opak dan Kali Gajahwong. Sedangkan cikal bakal dusun yang dipercaya masyarakat adalah Barat Ketiga yang makamnya di Trukan,” ungkapnya.
Seorang warga Dahromo, Arwan, kepada yogyapos.com menyampaikan 70% penduduk Segoroyoso berprofesi sebagai pedagang. Mereka bekerja tersebar di berbagai pasar di Yogyakarta.
“Salah satu keunikan Segoroyoso adalah etos kerja penduduknya. Dusun ini tak pernah istirahat. Hampir 24 jam warganya bekerja di beberapa tempat penyembelihan hewan. Jalan tak pernah sepi sepanjang malam sampai pagi,” tandasnya.
Paseban yang kini menjadi area persawahan || YP-Wahjudi Djaja
Dimintai pendapatnya tentang masa depan Segoroyoso, tokoh pemuda Munajah menyampaikan keinginannya agar antara kelompok tua dan muda senantiasa menjaga unggah ungguh. "Kami ingin agar unggah ungguh atau tata krama dan semangat juang leluhur Segoroyoso bisa diteruskan ke kaum muda. Mungkin kita perlu membuka dan mempelajari sejarah saat Segoroyoso menjadi ibukota Mataram agar kita tidak kepaten obor (red: kehilangan jejak leluhur). Maka kami mendukung upaya mengangkat potensi sejarah Segoroyoso,” katanya penuh semangat.
Anggota Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Wahjudi Djaja dalam sarasehan di rumah Ketua RT 01 menyampaikan pentingnya warga Segoroyoso mengenali jatidiri dan potensi yang dimilikinya.
“Bagaimana kebudayaan kita bisa berkembang kalau kita tak paham sejarahnya. Sejarah itu ibarat akar tempat pohon tumbuh di atasnya. Mari membuka diri, belajar sejarah kembali agar kita tak terombang-ambing oleh gerakan yang tak jelas. Tak ada yang kebetulan kenapa bapak ibu dilahirkan di Segoroyoso. Mari berjuang untuk mewujudkan pesan leluhur agar Segoroyoso bisa ngrembaka dan raharja,” jelas dosen STIE Pariwisata API Yogyakarta ini.
Menurut catatan dari berbagai sumber, Segoroyoso atau laut buatan dibangun oleh Sultan Agung tahun 1637. untuk kepentingan latihan tentara Mataram sebelum penyerangan ke Batavia. Caranya dengan membendung Kali Opak di sebelah barat dukuh Segoroyoso. Sedangkan istana di atas air yang dikenal Hastana Segarayasa diresmikan 7 Juli 1659 oleh Amangkurat I. Jejaknya berupa dusun Tambak dan bekas bendungan yang kini menjadi kompleks makam. (Iud)
