SINGKONG merupakan salah satu makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Hampir semua bagian singkong dapat dimanfaatkan, daun singkong dapat diolah menjadi sayur, umbi singkong juga banyak dikonsumsi dan berpotensi besar untuh bahan baku pengolahan tepung karena banyak mengandung pati.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-sus-singkong-olahan-kekianian-yang-disukai-anak-muda-7152
Pemanfaatan singkong selain untuk pengolahan tepung, masih banyak manfaat lain berupa gaplek, tepung mocaf, dan olahan singkong menjadi makanan ringan. Saat ini pemanfaat singkong kurang bervariasi sehingga permintaan pasar yang tidak begitu tinggi membuat banyak petani hanya menanam singkong untuk selingan, bukan sebagai tanaman penghasil utama.
Salah satu pemanfaatan singkong adalah dengan mengolahnya menjadi makanan tradisional, seperti sawut yang saatini sudah sangat jarang ditemui. Sawut sendiri merupakan olahan singkong yang diparut menggunakan parutan khusus, kemudian dikukus bersama gula merah. Namun untuk kalangan muda, sawut adalah makanan yang sudah ketinggalan zaman dan kurang berkelas.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-pie-mocaf-ubi-kuning-aman-bagi-anak-berkebutuhan-khusus-7389
Oleh karenanya mahasiswa UNY Ima Salisa Rodiyah, mengolah sawut menjadi makanan yang berkelas berupa sawut schotel. “Inovasi ini sekaligus pengembangan fusion fooddengan salah satu makanan western yaitu macaroni schotel, menggabungkan dua unsur makanan menjadi satu hidangan baru yang digemari masyarakat,” kata Ima, Rabu (11/1/2023).
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-bank-sleman-syariah-diresmikan-siap-mendorong-pertumbuhan-umkm-9401
Hasil inovasi ini diharapkan menjadi inspirasi masyarakat dalam pemanfaatan singkong menjadi produk-produk baru yang lebih digemari karena singkong mengandung sumber mineral yang cukup banyak seperti kalsium, fosfor, mangan, zatbesi, dan kalium. Mineral ini diperlukan untuk perkembangan, pertumbuhan, dan menjalankan fungsijaringantubuh. Kalsium diperlukan untuk menjaga kesehatan tulang dan gigi. Zat besi membantu dalam pembentukan protein (hemoglobin dan myoglobin) yang membawa oksigen keseluruh jaringan tubuh dan kalium diperlukan untuk sintesis protein dan membantu dalam pemecahan karbohidrat.
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-ukm-kristal-dampingi-umkm-patilo-gunungkidul-5764
Menurut mahasiswa program studi D4 Tata Boga Fakultas Vokasi UNY tersebut bahan yang dibutuhkan adalah 1 kg singkong, 200 gr kornet, 6 butir telur, 400 ml susu, lada, garam, sosis/smoked beef dan keju. Cara membuatnya, kupas dan cuci bersih singkong, lalu rendam selama kurang lebih satu jam. Parut menggunakan parutan sawut/serut dan tambahkan sedikit garam. Kukus selama kurang lebih 10 menit. Untuk adonan filling, campurkan telur dengan kornet, susu dan sosis/smoked beef, tambahkan lada garam, aduk hingga tercampur rata.
Mahasiswa UNY Ima Salisa Rodiyah pengolah Sawut Schotel || YP-Dedi Herdito
Apabila sudah matang, angkat singkong yang sudah dikukus, lalu masukkan dalam pinggan tahan panas atau alumunium cup. Tuang filling hingga singkong terendam, taburi dengan keju parut dan oregano sebagai bahan opsional kemudian panggang hingga kecoklatan.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-pencuri-kamera-dan-ponsel-tertangkap-berkat-nyanyian-pembeli-9400
Gadis kelahiran Klaten 11 Januari 2001 itu berharap dengan olahan schotel sawut ini kalangan mudalebih mengenal makanan-makanan tradisional yang menggunakan singkong sebagai bahan dasar pembuatannya. Selain itu, tentuakan membantu meningkatkan hasil panen bagi petani sehingga singkong dapat menjadi tanaman utama hasil panen. (Dedi Herdito)
