Sarjiyo, Ahli Biogas Kini Memilih Kembali Bertani

share on:
Sarjiyo di lahan yang disewanya untuk bertani || YP-Gigin

PERJALANAN hidup manusia memang penuh misteri. Seperti perjalanan hidup lelaki pemilik nama Sarjiyo ini. Bapak satu anak kelahiran Kulonprogo tersebut, sempat menjalani hidup bergelimang kenikmatan. Tak disangka nasibnya berubah drastis, kini ia kembali menjalani kehidupan sebagai petani.

Dari petani kembali ke petani. Itulah siklus kehidupan yang harus dilakoni Sarjiyo. Suka tidak suka begitulah garis kehidupan yang mesti dijalinya. ”Saya harus nrimo kembali lagi merintis jadi petani,” kata Sarjiyo saat ditemui di ladang garapannya di kawasan pesisir selatan Sanden Bantul belum lama ini.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-ariyanto-jogkem-jangan-hanya-tekuni-satu-bisnis-7255

Melihat penampilannya saat ini, mereka yang baru kenal tentu tak menduga bila Sarjiyo pernah meraih kesuksesan. Tepatnya menjadi orang penting dalam pengembangan energi alternatif di negri ini. Pernah dikenal sebagai ahli pembuatan instalasi biogas.

Setidaknya selama beberapa tahun, Sarjiyo menikmati masa-masa kejayaan. Ia menikmati hidup berkecukupan, setelah sukses menciptakan alat yang disebutnya digester biogas. Dengan alat tersebut, ia bisa menciptakan kompor berbahan kotoran sapi dan kompos organik.

“Saya sudah keliling Indonesia dari Sabang sampai Merauke untuk pembuatan biogas,” tuturnya.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-anti-mainstream-bisnis-restorasi-motor-retro-dapat-membiayai-kuliah-6616

Sarjiyo yang mengaku hanya jebolan SMP ini, sejak masih muda mengaku senang bertani mengikuti jejak orang tuanya di Kulonprogo. Ia sempat mendirikan sebuah perkumpulan petani. Pergaulannya makin luas, setelah direkrut bergabung di Satu nama, sebuah NGO yang banyak melakukan pendampingan petani.

Selama aktif di LSM, Sarjiyo banyak mendapatkan pelatihan salah satunya program pengembangan biogas. Tahun 2004, ia mencoba memasang instalasi biogas di rumahnya. Ia melakukan uji coba selama setahun lebih dan baru berhasil menciptakan alat yang dinamakan digester biogas. Dengan alat ini ia bisa mengubah gas metana hasil fermentasi kotoran sapi untuk dijadikan bahan bakar alternatif.

“Dengan alat ini bisa mengurangi ketergantungan gas elpiji,” jelasnya.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-heru-sudibyo-menginisiasi-pelatihan-bisnis-online-diikuti-20-peserta-4939

Singkat cerita berkat alat instalasi biogas ciptaanya, Sarjiyo naik derajat. Kehidupannya semakin membaik. Penghasilannya meningkat drastis. Sumber pendapatanya bertambah. Tak lagi hanya dari gaji sebagai staf LSM, tapidari honor pembicara seminar dan upah jasa pemasangan instalasi biogas.

Sarjiyo menjadi tokoh penting dalam gerakan pemanfaatan energi alternatif. Ia sering diundang kesana kemari untuk menjadi narasumber. Setiap hari di rumahnya juga ramai dengan tamu yang datang melihat langsung. Mereka yang datang dari berbagai kalangan. Bahkan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X mengapresiasi dan menyempatkan melihat langsung bersama rombongan pejabat daerah.

“Bukan hana Gubernur DIY tapi juga pejabat dari berbagai daerah tertarik ingin melihat biogas yang sayabikin,” jelasnya`

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-pic-yen-kembangkan-hobi-calligraphy-dan-hand-lettering-jadi-bisnis-menungutungkan-4221

Menjadi konsekuensi logis, bila kehidupannya juga beranjak naik, setelah pesanan untuk membuat instalasi biogas mengalir silih berganti. Saat itu, rata-rata setiap instalasi biogas membutuhkan biaya antara Rp 10 jutaan. Untuk memenuhi pesanan, Sarjiyo melatih pemuda desa tetangganya untuk menjadi teknisi “Saya latih para pemuda untuk menjadi teknisi, kalau saya sendiri jelas tidak mungkin,” katanya.

Sarjiyo mengaku araf hidupnya mengalami peningkatan jadi berkecukupan dari jasa pemasangan biogas. Dari biogas itu pula, ia sempat keliling Indonesia, baik untuk seminar maupun pemasangan intalasi biogas. Kalau dihitung sudah ada ribuan biogas yang dipasang Sarjiyo dan timnya. “Hampir seluruh kota di Indonesia pernah saya datangi,” ungkapnya.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-aufa-peroleh-beasiswa-belajar-di-jerman-sambil-bisnis-pempek-7478

Terpikat janda

Gaya hidup Sarjiyo ternyata juga berubah. Apalagi setelah bisa beli mobil untuk mendukung aktivitasnya sebagai pakar biogas. “Saya hampir tak ada waktu untuk bersantai, waktu sangat berharga bagi bsaya,” katanya.

Pada saat Sarjiyo dipuncak kejayaan. Diam-diam menarik perhatian seorang janda sebut saja namanya Mawar. Dia seorang dokter hewan berstatus sebagai ASN di sebuah institusi pemerintah. Wajahnya lumayan cantik. Dokter cantik tersebut melakukan jurus PDKT untuk bisa dekat dalam kehidupan pribadi Sarjiyo yang sebenarnya sudah beranak istri.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-pasca-pandemi-prospek-bisnis-hotel-di-yogya-semakin-membaik-8782

Entah jurus apa yang digunakan, Sarjiyo kemudian menjadi lupa bahwa dia sudah beristri dan terpikat dengan rayuan Mawar. Rumah tangganya pun bubrah dan dia pisah bercerai demi menikah dengan janda tersebut.

Setelah menikah dengan janda tersebut, kehidupannya justru tidak makin membaik. Ia justru banyak menderita. Dari biogas, mereka usaha bersama penggemukan sapi yang juga dilengkapi dengan biogas. Tapi usaha tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Usaha ini bangkrut.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-adit-setiawan-sh-mh-rela-pensiun-dini-dari-tentara-demi-kuasai-bisnis-plafon-pvc-8597

Sarjiyo mengaku habis-habisan. Harta yang dikumpulkannya bertahun-tahun habis. Yang membuatnya sakit hati, pada saat dia tak lagi memiiki apa-apa, pasangan barunya tersebut serong dengan lelaki lain. Karena taka da lagi harapan untuk terus hidup bersama, mereka memutuskan untuk cerai.

Sarjiyo yang sudah kehilangan kepercayaan dari biogas, akhirnya memilih meninggalkan desanya mencari penghidupan baru di Bantul. Ia harus jual asset untuk menyewa tanah di kawasan pesisir selatan Bantul.

“Saya mengawali dari nol sebaga petani,” akunya.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-sebelum-investasi-pahami-dulu-karakteristik-bisnis-dan-faktor-keamannya--8868

Sarjiyo mengaku tak tertarik ajakan untuk rujuk, apalagi mantannya sudah beberapa menikah dengan pria lain pasca berpisah dengannya. Ia kini tinggal sendirian di gubuk sederhana di tengah ladang yang sepi. “Saya lebih nyaman dan tenang hidup sendirian disini,” ujarnya.

Sarjiyo mengaku mendapatkan pelajaran hidup yang berharga. Ia merasa tidak kuat menahan godaan nikmat dunia. Ia kini mencoba bangkit dari bawah kembali dengan bertani di lahan pasir dengan status tanah sewa. Ia menanam sayuran Lombok dan papaya. (Ggn)

 

 


share on: