Sarasehan Menggagas Pancasila Berperspektif Laudato Si

share on:
Para narasumber sarasehan || YP-Ist

Yogyapos.com (SLEMAN) - Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) bersama Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) DPD DIY dan Lembaga Studi Indonesia (LSI) menggelar Sarasehan Kebangsaan bertema “Menggagas Pancasila Berperspektif Laudato Si’ di Tengah Carut Marut Krisis Lingkungan”, di Auditorium Kampus setempat, pada Sabtu (30/5/2026). 

BACA JUGA: Masyarakat Minang di Yogyakarta Laporkan Abu Janda ke Polda

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber yaitu Rm Dr Mateus Mali, CSsR, Cyprianus Lilik KP, dan Dr Drs B Wibowo Suliantoro MHum., dengan moderator Drs P Kianto Atmodjo MSi. Sarasehan tersebut membahas relevansi nilai-nilai Pancasila dan semangat Laudato Si’ dalam merespons berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi Indonesia. 

BACA JUGA: Di Arafah, Menhaj Tegaskan Haji 2026 Jadi Tonggak Baru Pelayanan Jemaah Indonesia

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan buku Voices for Our Common Home: Laudato Si’ in Asia kepada pengurus ISKA DPD DIY. Buku tersebut memuat refleksi dan praktik penerapan semangat Laudato Si’ di berbagai negara Asia, dengan Cyprianus Lilik KP sebagai salah satu kontributornya.

BACA JUGA: Puisi Jelek untuk Penguasa Buruk

Mewakili UAJY, Suryo Adi Pramana SIP Msi, menekankan pentingnya membangun kesadaran bahwa manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. 

“Antara manusia dan alam satu kesatuan. Kemudahan yang hari ini kita nikmati ternyata juga meninggalkan jejak dan persoalan lingkungan di berbagai tempat,” ujarnya.

BACA JUGA: Danrem Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono Sholat Ied di Lapangan Yonif 403/WP, Khotib KH Muhlisun

Ketua II ISKA DPD DIY, Ignatius Triana SIP, dalam sambutannya mengingatkan bahwa krisis lingkungan tidak dapat dipisahkan dari persoalan kemanusiaan dan keadilan sosial.

BACA JUGA: SMA Muhi Yogya Salurkan Beasiswa Prestasi kepada 50 Siswa

“Sebagaimana disampaikan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’, segala sesuatu saling terhubung. Karena itu persoalan lingkungan juga berkaitan dengan persoalan kemanusiaan, keadilan sosial, dan kesejahteraan,” katanya.

BACA JUGA: 28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Terbitkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa Empat Dekade

Dalam sesi pemaparan, Rm Dr Mateus Mali CSsR menjelaskan keterkaitan nilai-nilai Pancasila dengan tradisi pemikiran Katolik. Ia menilai keduanya memiliki titik temu yang kuat, terutama dalam penghormatan terhadap martabat manusia dan upaya mewujudkan keadilan sosial. 

BACA JUGA: Siapa Tersangka Dugaan Penyelewengan TKD Condongcatur, Ini Jawaban Kejati DIY

“Pancasila diterima karena melihat dengan jelas penghargaan yang tinggi terhadap kemanusiaan. Gereja Katolik sangat menghargai kemanusiaan dan melihat Pancasila sebagai dasar kehidupan bersama bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Narasumber kedua, Cyprianus Lilik KP, mengajak peserta melihat akar historis krisis ekologis di Indonesia melalui kebijakan pembangunan, eksploitasi sumber daya alam, hingga perubahan tata kelola lingkungan yang terjadi dari masa ke masa.

BACA JUGA: Libur Idul Adha, Pertamina Tambah Penyaluran 9 Juta Tabung LPG 3 Kg

“Negara menguasai sumber daya alam bukan dalam arti memiliki, tetapi sebagai amanat. Negara seharusnya menjadi penjaga alam sekaligus penjaga manusia,” tegasnya.

BACA JUGA: Sekda Sleman Purna Tugas, Paguyuban Panewu Beri Cinderamata Lukisan

Sementara itu, Dr Drs B Wibowo Suliantoro MHum menyoroti pentingnya transformasi pandangan masyarakat terhadap lingkungan. Menurutnya, Pancasila hanya akan menjadi kekuatan transformatif apabila diwujudkan dalam perilaku nyata dan didukung oleh sistem hukum yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan.

“Pancasila tidak akan menjadi kekuatan transformatif jika hanya berhenti sebagai pengetahuan. Pancasila harus menjadi etos, menjadi perilaku dalam kehidupan masyarakat,” jelasnya.

BACA JUGA: Danang Buka Lomba Sepak Takraw Sembada Open Championship Season 3, Hadiah Rp 20 Juta

Melalui sarasehan ini, peserta diajak untuk memahami bahwa krisis lingkungan bukan hanya persoalan teknis dan ekologis, melainkan juga persoalan moral, sosial, dan kebangsaan. Nilai-nilai Pancasila serta semangat Laudato Si diharapkan dapat menjadi landasan bersama dalam membangun kesadaran ekologis yang berkelanjutan demi masa depan Indonesia yang lebih baik. (*/Red)


share on: