Sanggar Keris Mataram Desak Pemerintah Tetapkan Hari Keris Nasional

share on:
Suasana Sarasehan tosan aji, di Ndalem Poenokawan, Jalan KH Ahmad Dhlan Yogyakarta || YP-Yuliantoro

Yogyapos.com (YOGYA) - Paguyuban penggemar keris yang tergabung dalam Sanggar Keris Mataram (SKM) mendesak pemerintah agar menetapkan Hari Keris Nasional tanggal 25 November. Usulan tanggal tersebut berkaitan dengan mengukuhkan keris Indonesia sebagai karya agung Warisan Budaya Takbenda (WBTb) di dunia oleh UNESCO sejak 25 November 2005.

Ketua SKM Nurjiyanto mengatakan pengusulan Hari Keris Nasional sudah dilakukan sejak 2019 silam. Meski sudah hampir empat tahun diusulkan, namun sampai sekarang Presiden belum juga menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Keris Nasional. Para pelaku budaya, terutama pecinta keris, menurut dia ingin supaya budaya keris diangkat lagi.

Ketua SKM Nurjiyanto alias Gus Poleng dalam pembukaan || YP-Yuliantoro

“Tosan Aji Nusantara juga telah resmi mengajukan tanggal 25 November sebagai Hari Keris Nasional kepada Presiden. Bahkan kajian akademik sudah kita buat, sudah di meja Pak Mensesneg, tinggal ketok palu Pak Presiden,” kata Nurjiyanto yang juga sering dipanggil Gus Poleng.

Pernyataan tersebut disampaikannya di sela acara Kegiatan Pagelaran Mahakarya Kamarogan Nusantara dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional persembahan dari SKM Yogyakarta, di Ndalem Poenokawan, Jalan KH Ahmad Dhlan Yogyakarta.

Sementara dalam perhelatan tersebut menarik karena menampilkan keris-keris tua dari era Majapahit abad ke-14. Sebanyak 41 keris yang terdiri atas 27 bilah Keris Kamarogan dari 20 kolektor nasional dari berbagai era kerajaan. Pameran itu terdapat lima keris tua dari era Majapahit abad ke-14 yang terbilang sangat langka dan sulit untuk ditemukan di jaman sekarang ini.

Pengunjung pameran keris || YP-Yuliantoro

Nurjianto, mengatakan koleksi keris yang tak kalah menarik itu di antaranya keris Sang Hyang Antaboga, keris kamarogan yang disebut-sebut sebagai keris pertama Kerajaan Majapahit.

“Ini adalah keris yang pertama tertua ditemukan, jenis keris naga era Majapahit,” kata Gus Poleng. 

Keris yang sudah ada sejak era Majapahit itu secara turun temurun dirawat secara pribadi. Pengikutsertaan tosan aji keris tersebut sudah seizin dari sang pemilik. Oleh karena itu, masyarakat yang datang diharapkan dapat memanfaatkan nya sebagai sarana edukasi selama pameran berlangsung.

“Kami di SKM ingin mencoba mengenalkan dan memperluas jejaring seni tradisi tosan aji, khususnya untuk tingkat Keris Kamarogan ke masyarakat umum sebagai bagian dari gerakan apresiasi untuk mencintai Keris sebagai salah satu warisan budaya adiluhung bangsa,” ungkapnya.

Para narasumber sarasehan || YP-Yuliantoro

Koleksi masterpiece para kolektor yang ikut dipamerkan, antara lain: Keris Majapahit, Sang Hyang Antaboga, AMY milik Nurjianto, Prastitojati dengan keris Sepang, Kanjeng Kyahi Anggrek milik kolektor Adam. Kolekor Yogi Adiningrat menampilan Kanjeng Khayi Manggolo Rekso. Singo Barong Luk 7. Sonny Handoko dengan keris Tilam Upih era HB I, Nyai Sekar Anggrek. Ada juga I Made Puja Yasa dengan koleksi waris dari Kerajaan Bangli, Rangga Wilah, Luk 15, Mamen dengan Keris Naga Basuki dengan bentuk bermahkota emas, Agus Hermawan menampilkan Keris Lurus Jalak Ngore dari era HB VII yang bergandik unik berujud Gupala dengan kinatah emas. Ustadz. Salim A. Fillah dengan koleksi Keris Panji Penganten era Majapahit berluk tujuh, Kanjeng Kyahi Panji Kencana.

Pagelaran Mahakarya Keris Kamarogan Nusantara, SKM juga dimarakkan dengan Sarasehan Tosan Aji dengan tajuk “Keris sebagai Simbol dan Identitas” dengan Prof dr Timbul Haryana (Arkheolg UGM), Dr Sr Margana (Sejarawan UGM) dan Ki Subandi Suponingrat (Epu dari Surakarta). (Tor)

.

 

 

 

 

 

 


share on: