Yogyapos.com (SLEMAN) - Sebuah keberuntungan bagi Max M Richer pas kembali ke Yogyakarta bisa melihat secara langsung bahkan mengikuti kirab Saparan Bekakak di Ambarketawang Gamping Sleman. Lama di Yogyakarta peneliti etnomusikologi melahirkan buku "Musical worlds in Yogyakarta" tahun 2012.
Didampingi istrinya, Max berulang kali merasa kagum melihat antusiasme warga Ambarketawang dalam mengikuti kirab Saparan Bekakak. “Amazing! Masyarakat sangat antusias mengikuti acara. Dan mereka sangat kreatif dalam membuat ogoh-ogoh. Kami sungguh sangat beruntung bisa menonton secara langsung dan ada di dalamnya,” tandasnya didampingi pendamping wisata Dinas Pariwisata Sleman Wahjudi Djaja.
Saparan Bekakak diikuti 13 padukuhan yang ada di Kalurahan Ambarketawang. Dibuka dengan laporan pemimpin upacara Wahyu Sakti Aji (Ketua Desa Budaya Ambarketawang) kepada Lurah Ambarketawang Sumaryanto. Dilepas Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo di Lapangan Ambarketawang, Jumat (23/8/2024) siang.
Penyembelihan Bekakak di Gunung Gamping || YP-Dok Kal Ambarketawang
“Saparan Bekakak ini merupakan upaya untuk mengenang pengabdian Kiai dan Nyai Wirasuta kepada Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengku Buwono I. Kita berharap bisa meneladani keikhlasannya dalam memberdayakan potensi Ambarketawang,” ungkapnya.
Prosesi kirab Saparan Bekakak dimulai dari halaman Kalurahan Ambarketawang melewati Jalan Wates, Jalan Brawijaya (ringroad selatan), jalan Anggrek dan berakhir di Gunung Gamping. Di panggung Gunung Gamping ditandai penyembelihan sepasang boneka bekakak. Ribuan penonton memadati sepanjang jalan yang dilewati kirab.
Kepada yogyapos.com Wahjudi Djaja menyampaikan salut dan penghargaannya atas totalitas warga Ambarketawang. “Mereka swadaya dalam memeriahkan Saparan Bekakak ini. Ada 13 padukuhan yang terlibat dan swadaya membuat ogoh-ogoh termasuk kostum dll. Kita berharap swadaya mereka dikembalikan dalam beragam program oleh OPD terkait. Bagaimanapun, warga telah membuktikan kecintaannya pada adat tradisi, sehingga tinggal memfasikitasi dan mendukungnya,” jelas Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama) ini.
Saparan Bekakak dimeriahkan dengan Midodaren Bekakak ditandai pengambilan air Tirta Danajati di area Pesanggrahan Ambarketawang untuk dibawa dalam kirab menuju Kalurahan Ambarketawang pada Kamis (22/8/2024) malam. Gelar Macapat oleh Kidung Sekar Catur Ambarketawang, pergelaran wayang kulit oleh Ki Bayu Aji Nugraha dengan lakon Bima Kurda, dan GP Fest berupa gelar potensi Ambarketawang.
Dalam pantauan yogyapos.com kemacetan terjadi di jalan Wates, ringroad selatan sampai jalan Godean. Menjelang Magrib prosesi adat ini selesai dilaksanakan dengan sukses. (Iud)
