Yogyapos.com (BANTUL) - Pergeseran kehidupan masyarakat dari budaya agraris ke budaya industri nampaknya menggelisahkan Widodo. Sosok bersahaja namun waskita yang menjadi Ketua Kelompok Tani Sido Katon Dusun Bintaran Srimulyo Piyungan Bantul ini mencoba mencari jalan agar sawah yang merupakan warisan orang tuanya bisa benar-benar menjadi bekal hidup. Tak mudah, tapi tak ada pilihan selain bertahan.
Upaya dan keprihatinannya atas semakin hilangnya budaya agraris ini mendorongnya untuk bergerak meski dalam skala terbatas. Dalam waktu singkat, Widodo mengajak rembugan beberapa anggota kelompok dan pegiat wisata. Digelarlah upacara adat metik pari sebagai penanda datangnya musim panen padi, di area persawahan Bintaran Wetan, Selasa (7/2/2023).
“Jujur kami tak membayangkan ide kecil dan sederhana ini disambut oleh banyak kalangan sehingga menjadi acara yang sakral dan meriah. Matur nuwun sanget. Ini menjadikan kami lebih semangat untuk menjaga dan menghidupkan budaya agraris,” kata Widodo kepada yogyapos.com, disela acara.
Prosesi metik pari dipimpin R. Bambang Nursinggih SSn dan Bergada Sekar Pangawikan. Bergerak dari destinasi wisata Kebon Empring menuju persawahan melewati jalan dusun Bintaran. Selama prosesi dibacakan kidung, gurit dan puja doa mantra. Di belakang Bergada Sekar Pangawikan berbaris para ibu yang dikoordinir Titik Ai Luh.
Prosesi budaya metik pari di destinasi Kebon Empring || YP-Wahjudi Djaja
“Mereka mengenakan baju petani dengan tenggok berisi nasi dan sesaji. Ubo rampe yang dibawa merupakan sumbangan dari warga Bintaran seperti, beras, telur, gereh petek, pisang dll. Ibu-ibu nyaris semalaman tidak tidur karena jam 03.00 harus mbunteli nasi,” papar Titik.
Menurut Wahjudi Djaja SS MPd dari Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, upaya mandiri penuh keswadayaan para petani Bintaran patut diapresiasi dan didukung oleh stake holder terkait.
“Jika tak ingin bangsa agraris ini tak kehilangan ruh, maka tak ada pilihan selain berjuang bersama petani menghidupkan budaya agraris seperti mapak banyu, wiwit angler, metik pari sambil terus merawat budaya gotong royong,” tandasnya.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-fpb-ziarah-ke-pusara-jurnalis-korban-pembunuhan-udin-di-trirenggo-9676
Sedangkan Dukuh Bintaran Wetan Ediana menyambut baik digelarnya upacara adat metik pari ini. “Yang jelas kami warga Bintaran Wetan hari ini sangat berbahagia. Ini tak pernah disangka. Maka harapan kami agar bisa diadakan kembali di tahun-tahun depan agar bisa meriah dan memberi manfaat bagi masyarakat,” harapnya.
Dalam pantauan yogyapos.com warga masyarakat terlihat hadir dan menyaksikan prosesi budaya. Di sepanjang jalan yang dilewati mereka antusias. Bahkan kemudian mengikuti di belakang bergada. Selepas prosesi metik pari, dilanjutkan kembul bujana di jalan tepi sawah dan diakhiri sarasehan. (Iud)
