Ruwat Bumi Bendo Nyawiji Terkesan Sakral dan Fenomenal

share on:
Penyerahan bibit pohon bendo dari Lurah Trimurti kepada Dukuh Bendo || YP-Wahjudi Djaja

RUWAT bumi adalah wujud rasa syukur pada Allah Yang Maha Kuasa atas segala limpahan anugerah baik berupa hasil bumi, hewan ternak maupun segala yang tumbuh dan hidup di alam. Bendo Nyawiji adalah salah satu daya upaya yang diwujudkan dalam ruwatan sebagai bentuk rasa syukur itu sehingga muncul kebahagiaan dan kebanggaan hidup sebagai orang desa.

Demikian intisari makna Kirab Budaya Ruwat Bumi Bendo Nyawiji yang baru pertama kali digelar di Dusun Bendo, Trimurti, Srandakan, Bantul, Jumat (21/10/2022).

Dengan mengangkat tema Jawa Digawa Arab Digarap, seolah ingin menunjukkan bukti bahwa ada akulturasi yang harmonis antara budaya dan agama. Tak ada yang perlu dipertentangkan dari keduanya, bahkan bisa saling mengisi dan memperkuat.

Visi itu setidaknya coba diterjemahkan oleh Partono, Kepala Dukuh Bendo, dengan menggerakkan potensi yang ada. Dalam kirab budaya yang fenomenal itu hadir selain drumband SD Muhaammadiyah Bendo dan Bergodo HW Bendo, juga Bergodo Sembilan Gunungan dari enam RT di Bendo, Bergodo Lembaga Kebudayaan Jawa Sekar Pangawikan dan Paksikaton Bantul dan Bergodo Balasastra dari SMAN 1 Srandakan serta Bergodo KWT dan Merpati Putih Bantul.

Puncak upacara Kirab Budaya Ruwat Bumi Bendo Nyawiji di Kedai Nyawiji || YP-Wahjudi Djaja

Ribuan orang menyambut kirab budaya di sepanjang jalan sejak Lapangan Bendo sampai pusat acara di Kedai Nyawiji. Kirab dilepas Lurah Trimurti Agus Purwaka ST ditandai penyerahan bibit pohon bendo kepada Dukuh Bendo Partono untuk diarak dan ditanam. 

Terkait makna tema Jawa Digawa Arab Digarap, Partono memberi tafsir tersendiri. “Budaya Jawi mboten saged dipun sejajaraken kalian agami. Ananging kedah sesarengan saiyeg saeko kapti supados tetep endah edipeni. Ampun ngantos wong Jawa ilang jawane,” katanya dalam bahasa Jawa.

Jika dipahami dan dijalankan dengan benar, lanjutnya, budaya Jawa menuntun dan menjadikan manusia andap asor, tepa slira dan paham unggah ungguh.

“Untuk itulah kita mengambil momentum bulan Maulud agar menjadi pengingat pesan dan ajaran junjungan kita Nabi Muhammad SAW,” katanya didampingi Wahjudi Djaja selaku fasilitator desa wisata.

Pesan itu juga disampaikan oleh R Bambang Nursinggih yang memimpin prosesi kirab budaya dengan melantunkan kidung. “Warga Bendo eko kapti merti. Memrih dhukuhe jaya sentosa. Kanthi nggolongke tekade. Samyo akur sumadulur. Datan nyawang suku agami. Gumregut nunggal karsa. Warga lan priyagung. Ngrembug mandhalane harja. Temah tan ana drei srengki lan kingkin. Dhukuh Bendo santosa”.

Sakralisasi kirab budaya terjadi di kompleks bangunan tua yang dijadikan Rumah Budaya dan Kedai Nyawiji. Puja doa mantra dilantunkan LKJ Sekar Pangawikan dengan iringan nada etnik oleh musisi Deni Dumbo (personil Sirkus Barock), lalu direspon oleh sembilan penari dari Sanggar Bimomurti.

Lahirlah suasana sakral dan mistis apalagi sepanjang prosesi upacara tidak hujan meski mendung menggantung. Prosesi diakhiri dengan penanaman pohon bendo oleh Penewu Srandakan Sarjiman SIP ME didampingi Lurah Trimurti dan Dukuh Bendo diiringi lantunan kidung.

Selepas prosesi diikuti dengan pembagian sembilan gunungan, kembul bujana dan sarasehan. Turut memeriahkan acara kelompok senam ibu-ibu Bendo dan puluhan stan UMKM Bendo. Hadir dalam upacara tersebut utusan Bupati Bantul dan Ellya Shari SST Par MM dari Dinas Pariwisata DIY. (Iud)

 

 


share on: