Yogyapos.com (MEDAN) - Untuk menjauhkan kalangan muda dari kecanduan game online dengan menjadikan mereka generasi penghafal Alquran, Yayasan Rumah Tahfidz Ahlul Qur'an membuka Rumah Tahfidz cabang baru khusus untuk santri ikhwan (putra) di Jalan Pendidikan, Belakang Kantor Balai Desa Mesjid Lama, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara.
“Alhamdulillah, ini cabang yang pertama kita buat. Insya Allah, ke depannya kami juga akan buka cabang pada beberapa daerah lainnya di Kabupaten Batubara. Cabang yang baru kami resmikan tersebut khusus untuk putra, kami melayani mondok bagi para santri yang ingin lebih intensif dalam mencapai target hafalan,” kata Fahri Ramzi, Pembina Yayasan Rumah Tahfidz Ahlul, Minggu (27/6/2021).
Pendirian Yayasan Rumah Tahfidz Qur’an untuk membentuk kerjasama yang baik antara orang tua dengan para guru, guna menjauhkan generasi muda dari kecanduan gadget, dan mengurangi angka kriminalitas akibat dari mereka terlalu sering bermain game online. Sasaran yang kami ingin capai adalah membuat satu wadah dengan kapasitas yang lebih besar untuk mencetak generasi cinta Qur'an dan mewujudkan Kampung Qur'ani.
Dijelaskan Fahri Ramzi, sangat banyak anak-anak Batubara yang berkualitas untuk menjadi penghafal Al-Qur'an. Dengan dibekali pendidikan Tahfidz Qur'an, mereka akan menjadi salah satu orang istimewa bagi Allah, kelak ditempatkan di surga paling tinggi, jadi orang yang arif di surga.
Yayasan didirikan oleh Wardatus Saniah SPdI, lulusan Universitas Islam Negeri Medan (UIN Medan) dan menyelesaikan hafalan di Rumah Tahfidz Darul Uswah Medan. Saat didirikan pada 22 Oktober 2018, sekolah tahfidz tersebut memiliki 15 santri, dan saat ini telah memiliki 533 santri. Pusat Rumah Tahfidz Ahlul Qur'an berlokasi di Desa Indrayaman, Kecamatan Talawi, Batubara.
Pendidikan di Rumah Tahfidz Ahlul Qur'an sederajat dengan SD/SMP/SMA, 3 tahun lamanya program belajar diterapkan pada setiap santri di rumah tahfidz tersebut, hingga berhasil menghafal 30 Juz Al-Qur’an. Selain tahfidz, sekolah tersebut juga mengajarkan perbaikan bacaan (makhorijul huruf), hadist pendek, dan doa-doa. Selain itu juga ada program belajar tahsin, tilawah, qiraah, dan lainnya. Sistem belajarnya pulang hari, sekali pertemuan 2 jam setiap harinya. Sekolah tersebut buka pukul 9.00 - 23.00 WIB.
Fahri Ramzi juga menjelaskan, syarat untuk jadi santri di Rumah Tahfidz Ahlul Qur'an berusia 6 - 20 tahun untuk laki-laki, dan 6 - 30 Tahun untuk perempuan, harus mempunyai keinginan yang kuat, komitmen orang tua untuk pendampingan hafalan dan murojaah anak di rumah, serta mematuhi aturan yang ditetapkan Yayasan tersebut.
Para guru (ustadz / ustadzah) di Rumah Tahfidz Ahlul Qur'an memiliki berbagai macam latar belakang pendidikan, ada yang lulusan dari Rumah Tahfidz Darul Uswah Medan, Baitul Qur'an Medan, juga dari Rumah Tahfidz Ahlul Qur'an. Bagi para guru yang memiliki hafalan cukup banyak ditempatkan mengajar di kelas iqra dan Al-Qur'an. Adapun nama para guru di Rumah Tahfidz Ahlul Qur'an yaitu; Wardatus Saniah, Fahri Ramzi, Hafiz Tanjung, Putri Wahyuni, Umi Atika Putri, Alfiyani Alti, Nurhasanah, Fatmawati, Attia Maulida, Wahyuni, dan Aulia Hafifa.
“Alhamdulillah, kita sudah mewisudakan 42 santri dengan kategori Wisuda Tahfidz 30 Juz untuk anak-anak sederajat Sekolah Dasar (SD), agar memacu semangat mereka untuk lebih giat menghafal Alqur'an. Dengan waktu yang sangat minim, 2 jam belajar setiap harinya mereka bisa menyelesaikan hafalan 30 Juz dalam kurun waktu 2-3 bulan, untuk anak-anak yang masih sangat kecil. Untuk tingkat remaja, sudah ada yang hafal 18 Juz,” kata Fahri Ramzi. (Muhammad Fadhli)
