Yogyapos.com (BANTUL) - Ribuan warga berebut berbagai jenis makanan dalam upacara budaya Kupat Saparan Jolosutro di Makam Sunan Geseng Ki Cakrajoyo, Senin (28/8/23).
Kupat Saparan merupakan tradisi budaya di Makam Sentono, Jolosutro, Desa Srimulyo, Kapenewonan Piyungan, Bantul DI Yogyakarta. Tradisi budaya yang berlangsung mulai pukul 14.00 hingga 16.00 WIB itu menyuguhkan makanan ketupat dengan aneka macam makanan lainnya, seperti sayur, buah, ingkung yang dipersembahkan oleh berbagai Padukuhan di wilayah Desa Srimulyo. Setiap mempersembahkan makanan yang dikemas dalam sebuah jodang (rumah rumahan kecil dari kayu) dan gunungan.

Ada enam pedukuhan yang terlibat dalam kegiatan budaya tersebut, yaitu: Pedukuhan Jolosutro, Pandeyan, Prayan, Kaligatuk, Ngelosari dan Jasem. Sementara makanan yang disusun dalam bentuk gunungan dipersembahkan oleh Karang taruna Padukuhan Pandeyan.
Penyelenggaraan tradisi Kupat Saparan Jolosutro adalah pemerintah desa setempat dan abdi dalem Juru Kunci makam.
Juru kunci Makam Sentono Sunan Geseng, Mas Bekel Surakso Wijolo dan Trah keluarga Mbah Lurah Prapto Raharjo, ingin mengembalikan tradisi Saparan itu sebagai mana mestinya.

“Tradisi Saparan ini biasa dimeriahkan dengan berbagai kesenian serta karnaval bregada dari lapangan dusun menuju makam. Setelah menggelar doa di makam Sentono Sunan Geseng, kegiatan diakhiri dengan persembahan berbagai makanan oleh masyarakat setempat,” tutur Sunanta SE (53) salah seorang anak dari Mbah Lurah Prapto Raharjo di sela acara Tradisi budaya Saparan di makam yang terletak di lereng bukit Basiran itu.
Selama ini pelaksanaan tradisi budaya Saparan Jolosutro menjadi salah satu even tahunan yang banyak dikunjungi oleh wisatawan, karena daya tariknya pesta ketupat dan rengginan. Namun sejak dua tahun lalu terlebih setelah adanya pandemi Covid-19, segala bentuk keramaian serta hiburan ditiadakan. Kini setelah kondisi normal, pelaksanaan tradisi budaya Saparan itu digelar kembali.
“Kami dari keluarga Trah Mbah Lurah Prapto Raharjo dan Juru Kunci serta dibantu masyarakat enam pedukuhan yaitu Jolosutro, Jasem, Pandeyan, Prayan, Kaligatuk dan Ngelosari tetap melaksanakan tradisi yang sudah berlangsung turun temurun ini dengan membuat ketupat, renggenan dan tape ketan,” ucap Sunanta.

Tradisi budaya Saparan di makam Sentono Sunan Geseng, selain untuk memetri budaya bernuansa religi juga untuk mengenang jasa-jasa Mbah Cokrojoyo atau yang lebih populer disebut Sunan Geseng dalam menyebarkan dakwah agama Islam di wilayah itu. Menurut legendanya, Cokrojoyo adalah salah seorang abdi dalem yang menjadi santri Sunan Kalijaga. Untuk menguji kesetiaan Cokrojoyo kanjeng Sunan Kalijogo memerintahkan pemuda asal Purworejo itu menunggu tongkatnya selama Kanjeng Sunan kalijogo berdakwa keliling pulau Jawa.
“Karena lama ditinggal keliling pulau Jawa, tempat yang semula untuk duduk Cokrojoyo berubah menjadi hutan perdu yang lebat. Untuk mencarinya Sunan Kalijogo membakar semak belukar itu. Cokrojoyo ditemukannya masih duduk sambil memegang tongkat dengan tubuh hitam legam karena terbakar, namun masih hidup. Dari situlah kemudian disebut Sunan Geseng,” tutur Juru Kunci Makam Sentono Sunan Geseng Mas Bekel Suraksa Wijolo yang memiliki nama asli Pardiyono.

Lebih lanjut menurut Mas Bekel Suraksa Wijolo, Sunan Geseng meninggal dan sesuai wasiat yang disampaikan kepada para santrinya untuk dimakamkan di lereng bukit Basiran yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan Gunung Mbeser. Untuk pelaksanaan tradisi Saparan itu sendiri menurut dia, biasa dilaksanakan pada setiap hari Senen Legi pada setiap bulan kedua hitungan almanak Jawa yaitu bulan Sapar. Bila dalam bulan itu tidak ada pasaran Legi, bisa dilaksanakan pada pasaran lainnya asalkan tidak pada pasaran Pon.
“Itu sudah wewaler konon bertepatan dengan haul eyang Sunan Geseng, sehingga hari Senen Pon menjadi larangan untuk melaksanakan segala hajad di kampung sini,” pungkas Juru Kunci Makam Sentono Sunan Geseng. (Yuliantoro)
