KABAR baik bagi penderita stroke. Mereka ternyata memiliki harapan untuk bisa sehat kembali. Kuncinya, jangan malu dan malas. Salah satu terapi yang terbukti bisa menyembuhkan adalah olahraga ringan, setidaknya dilakukan selama empat bulan.
Itulah yang terungkap dalam dialog antar para penderita stroke saat berkunjung ke rumah Prof Dr Timbul Raharjo, Guru besar ISI di Candi Tirto Raharjo, Kasongan, Bantul. Kunjungan ke rumah seniman yang juga pengusaha kondang tersebut dalam rangka kampanya Hidup sehat tanpa stroke. “Kuncinya jangan malu dan malas,” kata Prof Dr Timbul Raharjo.
Menurut Prof Timbul, stroke bisa menyerang siapa saja kapan saja dimana saja. Tanpa disadari tanda-tanda seseroang akan terkena stroke. “Saya dulu juga heran kenapa bisa terkena stroke, ternyata karena terlalu banyak beban pikiran dan pekerjaan dan bekerja di luar batas kewajaran,” tutur Prof Timbul.
Seperti diungkapkan Prof Timbul, penderita stroke tidakboleh stress karena justru akan menambah parah sakitnya. Kuncinya memang di pikiran. Pikiran dibikin santai dan tidak boleh sedih harus selalu hepi.
“Kalau perlu kita mentertawakan diri sendiri karena kondisi yang sedang dialami,” tandasnya.
Prof yang mengawali bisnis dari industry gerabah Kasongan ini, mengaku saat pertama kali kena stroke nekad melakukan olahraga bersepeda keliling ringroad selama tiga jam. Ia mengaku sempat jatuh di sekitar terminal Giwangan.

Selama ini, banyak penderita stroke yang merasa putus harapan. Merasa tamat kehidupannya karena tidak bisa melakukan aktivitas secara normal lagi. Mereka akhirnya malas untuk melakukan aktivitas fisik dan dampaknya justru penyakitnya makin kronis.
Selain itu, banyak juga penderita stroke yang salah melakukan terapi dengan ketergantungan pada obat. Padahal ada terapi yang sebenarnya sangat ringan dan berbiaya murah. Trapi yang dimaksud adalah olahraga ringan. Dengan disiplin terapi selama 4 bulan, banyak penderita yang akhirnya bisa pulih kembali.
Para penderita stroke yang terbagun dalam Yastroki setiap Selasa melakukan kegiatan senam rutin di Embung Maguwoharjo. Mereka didampingi para relawan yang sengaja mendampingi para stroker agar bisa pulih sehat kembali.
Silaturahmi para strokers itu terasa sangat istimewa, karena secara serentak melakukan senam Bio Energy Power yang dipimpin oleh Pak Sudjarwo mantan Bupati di Papua yang juga sedang bersemangat melawan stroke yang dideritanya. Selain Senam, juga bernyanyi membentuk satu paduan suara yang menyanyikan pesan-pesan agar orang yang kena stroke tetap semangat dan hidup harus lebih memberi makna untuk siapa saja.
Bambang Hiundarso salah satu ketua Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) DIY menyampaikan rasa bahagia dan kagumnya kepada para penyandang stroke yang tanpa malu dan tetap semangat berjuang meraih pemulihan.
Kata Bambang, harus berani berolah raga ringan selama empat bulan tanpa henti.
“Insya allah imun bahagia dan semangat akan memacu adrenalin meraih kesembuhan, kuncinya mendapat kesembuhan bagi para penyandang stroke itu jangan malas bergerak,” kata Bambang.
Sementara itu AR Iskandar ketua panitia Jambore Stroke Indonesia#1 yang akan digelar di Yogyakarta 28-30 Oktober 2022, sangat berharap kampanye sehat tanpa stroke harus dilakukan oleh lembaga manapun dan bahkan sangat mungkin dibuat komunitas peduli stroke.
“Saat ini di Yogya sudah ada puluhan anak muda yang kena stroke, artinya kita harus peduli dengan masa depan anak muda dengan hidup sehat dan menghindar dari kehidupan yang tidak baik,” pesan AR Iskandar. (Gigin)
