Pokja Dinpar DIY Uji Coba Draft Instrumen Akreditasi di Desa Wisata Karang Sleman

share on:

Yogyapos.com (SLEMAN) - Dalam rangkaian kegiatan penguatan kelembagaan pariwisata sesuai Pergub Nomor 40 Tahun 2020, Pokja Dinas Pariwisata DIY melakukan uji coba draft instrumen akreditasi yang meliputi Pokdarwis, Desa/Kampung Wisata dan Homestay di desa wisata Karang Trimulyo Sleman.

Pokja meliputi tujuh unsur yakni dari Universitas Sanata Dharma, Pusat Studi Pariwisata UGM, HILDIKTIPARI DPW V, Sekolah Vokasi UGM, DPD GIPI DIY, Kedaulatan Rakyat dan Forum Kampung/Desa Wisata DIY.

Dalam sambutan penerimaannya Lurah Trimulyo Cholik Harmoko menguraikan sejarah berdirinya desa wisata Karang Trimulyo Sleman yang sering disingkat Katris. Potensi yang dimiliki Dusun Karang sangat mendukung kegiatan pariwisata. Karang merupakan salah satu dari tiga dusun yang melestarikan gamelan. Dari segi SDM ada yang bekerja di hotel dan menjadi wartawan. Mereka saling berdiskusi dan menemukan inspirasi sehingga bisa muncul Kebon Lesung ini.

“Kami kemudian merencanakan kegiatan wisata yang dipadu dengan upaya mengonservasi sungai Sempor. Untuk pengembangan ke depan kami siapkan lahan di sebelah utara Dusun Karang yakni tanah kas desa,” tuturnya. 

Sementara itu, Trilita Yanti SS MPA dari Dinpar DIY menjelaskan amanah Pergub Nomor 40 Tahun 2020 untuk membentuk Kelompok Kerja (Pokja). “Pokja mengawal penyusunan draft akreditasi atau penilaian deswita. Sehingga kami harapkan nanti lebih banyak diskusi dan tanya jawab tentang draft tersebut agar bisa diterapkan di kabupaten/kota di DIY. Dan kami salut atas respon desa wisata Karang dalam menyambut tamu,” jelasnya. 

Dalam paparannya, Ketua Pengelola Desa Wisata Katris, Bambang Suryo Suseno, menjelaskan awal berdirinya Katris saat dijadikan pusat kegiatan Kampung Tangguh Nusantara (KTN) di Karang.

“Dari situ kemudian diikuti dengan mengidentifikasi potensi yang ternyata menemukan lesung, gejok, lumpang. Itulah yang mendasari taman ini kami beri nama Taman Kebon Lesung. Harapan kami ini menjadi pelengkap area bermain yang alami didukung keberadaan Kali Sempor. Rencananya kami juga mau mendirikan Museum Agraris karena banyaknya warga yang memiliki peralatan agraris dari batu. Untuk kegiatan rutin, kami sudah hampir dua tahun ini menggelar sunday morning (Sunmor) yang menjadi wisata alternatif keluarga,” paparnya.

Mewakili Pokja memberi sambutan Ike Janita Dewi PhD dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Pihaknya datang justru mau minta masukan terkait instrumen akreditasi yang bisa dipakai semua desa wisata di DIY. “Dari situ nanti kita bisa menentukan status desa wisata, apakah rintisan, berkembang, maju atau mandiri. Pelan-pelan kita akan mendampingi Pokdarwis agar menjadi lembaga yang penting, misalnya dalam pengembangan renstra. Ini hal baru, karena nantinya Pokdarwis tak perlu mengerjakan operasional desa wisata. Selain itu, desa atau kalurahan sekarang menjadi pilar utana pembangunan,” tandasnya.

Kegiatan uji coba instrumen akreditasi diisi dengan diskusi meliputi tiga kelompok, dengan fokus masalah Pokdarwis (kelembagaan, program kerja, capaian kerja), desa wisata (kelembagaan, kemitraan, lingkungan dan pelestarian, peran serta masyarakat, atraksi wisata, aksesibilitas, amenitas, promosi dan pemasaran) serta homestay (produk, pelayanan, pengelolaan).

Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Kabid Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Usaha Pariwisata, Dinas Pariwisata Sleman Nyoman Rai Savitri SPsi MEc Dev,  Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Sleman Noor Brahmantyo SE MM, serta Wahjudi Djaja dan Jajang Sukendar selaku pendamping wisata Karang. (Wahjudi Djaja)

 


share on: