Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Memberdayakan Masyarakat

share on:
Bunda Literasi Bantul Hj Emi Masruroh SPd membuka kegiatan || YP-Mufti

Yogyapos.com (BANTUL) - Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Bantul, Drs Sukrisna Dwi Susanta MSi, mengatakan Bantul sebagai Kota Kreatif Dunia sebagian besar masyarakatnya bergerak di bidang kerajinan. Untuk menghasilkan barang kerajinan dibutuhkan keterampilan. Salah satunya diperoleh dari implementasi kegiatan membaca buku.

Karena itulah, membaca menjadi hal penting bagi kehidupan masyarakat.  Setiap orang memiliki perbedaan kemampuan membaca, menulis, atau berhitung. Begitu pula dalam mengekspresikan emosi, interaksi sosial, serta memusatkan perhatiannya. Namun, semua itu bisa diakomodasi melalui kegiatan perpustakaan.

Peserta pelatihan mengikuti proses membatik

“Dispusip Bantul berupaya memfasilitasi masyarakat dengan berbagai kegiatan keterampilan berbasis pemberdayakan. Kebutuhan membaca disesuaikan lokasi perpustakaan berada. Kalurahan Wukirsari ini misalnya, banyak pengrajin batik. Maka keterampilan yang diperlukan tentunya mengenai membatik,” ujar Sukrisna saat memberikan sambutan kegiatan Pelatihan Membatik Bersama Bunda Literasi Kabupaten Bantul, Sabtu (19/11/2022), di Kampung Batik Giriloyo, Wukirsari, Imogiri.

Menurut Sukrisna, di pedesaan cukup banyak potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia. Maka, menjadikan perpustakaan desa sebagai pusat kegiatan dan pemberdayaan masyarakat merupakan pendekatan yang tepat. Pemberdayaan akan membuat masyarakat meningkat dari sisi pengetahuan, keterampilan, hingga berdampak pada kesejahteraan.

“Perpustakaan inklusi sosial, sebuah pendekatan guna mewujudkan perpustakaan sebagai tempat nyaman, terbuka, dan aman. Perpustakaan terbuka bagi semua orang dengan beragam latar belakang, kondisi, status, kemampuan, karekteristik, etnik dan budaya, termasuk penyandang disabilitas. Perpustakaan berbasis inklusi soaial memberdayakan masyarakat,” jelasnya.

Bunda Literasi Kabupaten Bantul, Hj Emi Masruroh SPd, menyampaikan bahwa Perpustakaan Nasional memberikan amanah kepada dirinya sebagai istri Bupati Bantul. Ia mempunyai tugas meningkatkan kemampuan masyarakat agar memiliki budaya membaca. Tidak sekedar membaca, tetapi juga mengimplementasikan bacaan dalam banyak hal.Penyerahan SK Bupati tentang Perpustakaan Desa

“Apa yang dibaca dilakukan. Apa yang dibaca dituturkan atau diceritakan kembali. Dan apa yang dibaca digunakan membuat sebuah gerakan mewujudkan masyarakat kompeten atau memiliki kemampuan sesuai minat dan bakat masing-masing,” tambahnya.

Ia melanjutkan, tatkala mendengar kata perpustakaan, di benak masyarakat tentu tergambar buku ditata rapi. Perpustakaan tempat orang membaca dan aktivitasnya begitu-begitu saja. Itu adalah gambaran tentang perpustakaan dulu.

“Pustaka Desa Wukirsari ini, tentu kegiatannya banyak karena dipegang karang taruna. Aktivitasnya pun bermacam-macam,” tutur Emi sebelum membuka secara resmi Pelatihan Membatik.

Agus Basuki Tavip SAg menyampaikan paparannya

Di sesi pelatihan, Kepala Urusan Tata Laksana Kalurahan Wukirsari, Agus Basuki Tavip SAg, memaparkan Pustaka Desa Wukirsari terbuka, boleh dimanfaatkan seluruh masyarakat berkegiatan. Pemerintah Kalurahan Wukirsari selalu mengalokasikan anggaran penyelenggaraan kegiatan-kegiatan perpustakaan. Ia mempersilahkan pengelola perpustakaan yaitu karang taruna, untuk mengidentifikasi kebutuhan pengelolaan maupun kegiatan perpustakaan.  Usulan itu diajukan kepada Lurah Wukirsari agar dapat disusun menjadi Rencana Anggaran Belanja (RAB) Kalurahan.

“Kurangnya apa, perlunya apa bisa didiskusikan bersama. Kalo sudah teranggarkan kegiatan perpustakaan akan lebih maju. Apalagi kalau didukung kerja sama lembaga, sekolah, kelompok masyarakat seperti PKK tingkat kalurahan sampai RT di lingkungan Kalurahan Wukirsari. Itu semua bisa diajak kerja sama,” katanya.

Masyarakat memang cenderung sulit diajak membaca buku, beda dengan ponsel. Bagi sebagian besar orang, membaca buku biasanya sering bikin ngantuk dan tertidur.  Sedangkan mengakses ponsel orang akan lebih betah dan tidak mengantuk. Namun, ia berharap warga Wukirsari setidaknya tahu bahwa Pustaka Desa Wukirsari memiliki banyak koleksi buku dan berbagai fasilitas tersedia.

Emi Masruroh mengikuti pelatihan membatik

“Dari buku hingga perangkat teknologi informasi. Buku membatik dan pengetahuan umum ada. Fasilitas komputer, printer, internet tersedia. Pelatihan pun sering diselenggarakan seperti desain grafis sering ada lomba-lomba. Bahkan, kalau warga menginginkan pertemuan bertempat di Pustaka Desa Wukirsari dipersilahkan. Kelompok PKK, komunitas, sekolah dan lain-lain monggo, dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ungkap Agus.

Di sesi praktis pelatihan membatik, Ketua Paguyuban Batik Giriloyo, Nur Rahmadi, menerangkan bahwa batik warisan budaya sejak Kerajaan Mataram dan ditetapkan UNESCO menjadi warisan budaya dunia. Ada banyak peralatan membatik.  Begitu pun proses pengerjaan batik membutuhkan proses panjang sampai terlihat hasilnya.

“Membatik tidak bisa secara instan sehingga perlu kesabaran bila sudah memulai prosesnya. Setiap tahap membutuhkan waktu. Kita akan mulai praktik langsung ke canting biar mempersingkat proses. Para pembimbing sudah membantu menggambarkan polanya, bapak ibu tinggal meneruskan saja,” jelas Nur Rahmadi kepada peserta pelatihan

Para peserta selanjutnya diarahkan ke gazebo batik. Mereka dibimbing bagaimana membatik mulai proses canting, pewarnaan, dan pengeringan, termasuk pembersihan kotoran dari sisa-sisa pekerjaan. Bunda literasi dan Kepala Dispusip Bantul berkenan mendampingi sekaligus mengikuti proses pelatihan tersebut.

Pada Pelatihan Membatik Bersama Bunda Literasi Bantul ini pula diserahkan Surat Keputusan (SK) Bupati Bantul tentang penunjukan Pustaka Desa Wukirsari sebagai Perpustakaan Kalurahan Berbasis Inklusi Sosial. SK diserahkan oleh Kepala Dispusip kepada Lurah Wukirsari, Susilo Hapsoro SE. Pustaka Desa Wukirsari menjadi perpustakaan kalurahan berbasis inklusi sosial pertama di Bantul yang ditetapkan berdasarkan SK Bupati. (Mufti)

 


share on: