Yogyapos.com (BANTUL) - Dosen Institut Sains Teknologi dan Kesehatan Mulia Yogyakarta (ISTEK Mulia), Moh Mursyid SIP MA, menyampaikan berbagai pandangan masyarakat terhadap perpustakaan. Mayoritas beranggapan miring melihat kondisi perpustakaan yang ada dahulu. Perpustakaan dikatakan tidak berdaya menjadi agen perubahan, tidak menarik, kegiatan hanya seputar peminjaman dan pengembalian buku saja, kalah oleh perkembangan teknologi.
“Padahal perpustakaan masa kini telah bertransformasi menjadi salah satu bagian strategis dalam mengentaskan kemiskinan, membangun kemandirian, serta meningkatkan taraf hidup masyarakat,” ujarnya saat memaparkan materi kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Perpustakaan Desa Berbasis Inklusi Sosial di Kalurahan Palbapang, Kapanewon Bantul, Selasa (29/08/2023).
Narasumber Muha Mursyid SIP MA
Untuk mencapai semua itu, lanjut dia, perpustakaan dituntut kreatif inovatif menyelenggarakan kegiatan yang dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat. Menurut Mursyid, Program Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial mampu mengatasi kesenjangan perpustakaan dengan masyarakat.
Perpustakaan mesti menciptakan kondisi ideal yang diharapkan antara lain masyarakat menggunakan perpustakaan sebagai sarana belajar sepanjang hayat. Selanjutnya perpustakaan menjadi tempat pengembangan kapasitas masyarakat, sedangkan koleksi atau informasi di perpustakaan tersedia sesuai kebutuhan.
“Perpustakaan harus bisa memberikan solusi terhadap permasalahan masyarakat di bidang ekonomi, pendidikan, sosial, kesehatan dan lain-lain. Nanti kegiatan-kegiatan literasi terapan di perpustakaan akan berdampak pula terhadap peningkatan ekonomi atau kesejahteraan keluarga,” jelas Mursyid.
Ia menegaskan bahwa perpustakaan desa/kalurahan sebagai garda terdepan penyediaan informasi masyarakat akar rumput guna meningkatkan kualitas hidup mereka. Perpustakaan bukanlah entitas mandiri. Perpustakaan menjalin kerja sama berbagai pihak untuk mewujudkan masyarakat literasi yang berdaya dari kegiatan membaca.
“Perpustakaan berkolaborasi dengan lingkungan akademik (perguruan tinggi), pemerintah, komunitas, media, hingga sektor swasta (bisnis). Istilahnya kolaborasi penta helix,” katanya.
Sebelumnya Lurah Palbapang, Sukirman SH, menguraikan kebijakan Pemerintah Kalurahan terkait pengembangan perpustakaan desa. Mulai penyediaan ruang, penganggaran, perencanaan kegiatan, pengelola perpustakaan, hingga program-program ke depan. Perpustakaan Pelita Ilmu telah mengalami banyak perkembangan.

“Kini perpustakaan sudah menempati gedung baru dianggarkan dari dana desa. Ini wujud komitmen Pemerintah Kalurahan terhadap pengelolaan dan pelayanan perpustakaan,” terangnya.
Selain itu Perpustakaan Pelita Ilmu pun sudah bekerja sama dengan lembaga lain seperti Perpustakaan Daerah Bantul dan SD di sekitar kalurahan. Banyak siswa sering berkunjung dan membaca di perpustakaan. Mereka memanfaatkan fasilitas yang tersedia, termasuk gazebo di halaman depan kalurahan.
“Perpustakaan nanti akan kami kembangkan sesuai kebutuhan masyarakat sesuai arahan Perpustakaan Daerah,” pungkasnya.
Soalisasi diwarnai diskusi dan tanya jawab seputar pengembangan perpustakaan. Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga siang hari tersebut dihadiri perangkat kalurahan dan pedukuhan perwakilan dari unsur PKK, karang taruna, kelompok wanita tani, dan kader kesehatan. (Mufti AM)
