Peringatan 12 Tahun Keistimewaan Yogyakarta, Sleman Perkuat Pendidikan

share on:
Wahjudi Djaja memaparkan refleksi 12 tahun keistimewaan Yogyakarta || YP-Ist

Yogyapos.com (SLEMAN) - Ada relasi antara keistimewaan Yogyakarta dengan peran Sleman di dalamnya. Karakter pendidikan yang melekat dalam diri Yogyakarta menemukan konsteksnya di Kabupaten Sleman. Ada 47 perguruan tinggi yang ada di Sleman yang memberikan dampak pagi dinamika kehidupan masyarakat Sleman. 

Bupati Sleman Dra H Kustini Sri Purnomo mengatakan hal itu saat hadir dalam acara rutin Macapatan malam Setu Legi di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Jumat (30/8/2024) malam. Acara dibuka Ketua Sekar Manunggal Sleman Sembada Drs H Panggih. 

Lebih jauh disampaikan Kustini, pemerintah Kabupaten Sleman berusaha keras mewujudkan cita-cita para pendahulu. "Alhamdulillah, Kabupaten Sleman meraih predikat sebagai kabupaten dengan sumber daya manusia paling maju di Indonesia. Kami membangun kerjasama dengan kampus Amikom dan Unissa yang telah mendidik 700 anak di kedua kampus", tandasnya.

Sementara itu budayawan Sleman Wahjudi Djaja SS MPd dalam Refleksi 12 Tahun Keistimewaan Yogyakarta menyampaikan peran kesejarahan Sleman dari waktu ke waktu.

Bupati Kustini Sri Purnomo saat Macapatan Sekar Manunggal Sleman Sembada || YP-Ist

“Disahkannya UU Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Yogyakarta pada 31 Agustus 2012 bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ada rangkaian peristiwa yang bisa dijadikan latar belakang dan faktor sejarah. Bukanlah sebuah kebetulan jika Yogyakarta menjadi fondasi berdirinya Kerajaan Mataram dan kemudian menjadi Kasultanan Yogyakarta yang menjadi perisai Indonesia saat masih belia,” tandasnya.

Lebih jauh disampaikan Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama) ini, Sleman telah lama berperan dalam sejarah Yogyakarta. Pusat peradaban klasik saat periode Hindu Budha berada di Sleman.

“Berkembang saat Pangeran Mangkubumi mesanggrah di Kraton Ambarketawang (Gamping Sleman), sampai kemudian masa revolusi kemerdekaan dan mengisi keistimewaan Yogyakarta. Sejarah memang kisah tentang masa lalu. Tetapi dari kisah itu kita bisa bercermin bagaimana perjuangan, pengabdian dan dedikasi para pendahulu dalam mengisi kehidupan dan kebudayaan sebagai bekal mendidik generasi penerus bangsa,” tandas peraih Anugerah Kebudayaan Sleman 2023 Kategori Budayawan ini.

Kepada Bidang Bahasa, Sastra, Sejarah dan Permuseuman Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Sleman Anas Mubakkir kepada yogyapos.com menjelaskan macapat ini merupakan acara rutin yang digelar selapan sekali (35 hari) untuk menjaga bara budaya agar tetap menyala.

“Pada 5 September 2024 digelar Lomba Macapat untuk memberi ruang dan apresiasi kepada warga Sleman yang dengan tekun mencintai budaya Jawa. Yang hadir malam ini perwakilan dari semua kapanewon yang ada di Sleman. Tiap kapanewon kami undang lima wakil,”  jelasnya.

Hadir dalam acara tersebut Kasie Bahasa dan Sastra Ita Kurniawati SIP MPA, jajaran Kundha Kabudayan Sleman, dan para pemerhati budaya. (Iud)

 

 

 

 

 


share on: