Pendidikan Revolusi Mental Butuh Praktik

share on:
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram (UWM Dr Jumadi SE MM || YP-Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Metode pendidikan revolusi mental tidak efektif hanya dengan metode klasikal sepertri ceramah, diskusi, seminar. Mendorong sikap mental yang ideal perlu pengajaran praktik atau praksis, dengan menggunakan pengalaman langsung yang bisa menggerakkan mental atau hati peserta yang terlibat di dalamnya.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram (UWM Dr Jumadi SE MM menyatakan, pendidikan praksis itu menjadikan peserta didik sebagai subyekdalam kegiatan nyata atau kegiatan yang melibatkan komunitas atau masyarakat.

“Tujuan kegiatan nyata untuk menyentuh dan menggerakkan hati peserta,” kata dia, Minggu (26/6/2022).

Menurut Wakil Rektor I UWM, dalam mencapai tujuan revolusi mental diperlukan beberapa tahapan, dari tahap membentuk kesadaran dalam membangun konsep diri, menanamkan kesadaran bekerjasama, meningkatkan kemampuan kepemimpinan yang meliputi kecakapan berkomunikasi, memecahkan masalah, serta membangun kepemimpinan sosial dengan target menciptakan social skills, entrepreneurship, networking.

Adapun level pendidikan revolusi mental, menurut Ketua Ikatan Dosen Republik Indonesia DIY (IDRI DIY), dari tingkat terendah sampai tertinggi, yang dimulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), pendidikan menengah pertama, pendidikan menengah(SMP dan SMA) serta pendidikan tinggi.

“Jadi, metode pendidikan revolusi mental perlu subyek dan metode yang berkesinambungan atau tidak terputus dari level terbawah sampai tertinggi. Dengan demikian, dalam mencapai Generasi Emas Indonesia 2045 tidak dapat dilakukan secara instan, sedang materinya mengintegrasikan nilai-nilai atau teori dan praktik nyata atau dikenal “leaning by doing,” ujardia,

Dengan pendidikan mental yang berjenjang dan berkelanjutan, sistematis, disertai materi praktis, menurutdia, pesertadidik dapat memiliki mental dankarakter yang kuat. Sampai pada saatnya peserta didik revolusi mental itubermasyarakat dan bekerja, mereka mau mengemban amanahnya secara bertanggung jawab penuh (profesional). (*)

 


share on: