PANGERAN Diponegoro identik dengan perjuangan rakyat. Kesediaan untuk keluar istana dan menanggalkan kemewahan lalu berjuang mengangkat senjata bersama rakyat, menjadi awal mula bangkrutnya pemerintahan kolonial Belanda. Bergerak dan bergerilya dari satu wilayah ke wilayah lain tidak saja membuat pertahanan Belanda keteteran, tetapi juga mampu membangkitkan solidaritas bangsa. Itu menjadi monumen perjuangan abadi yang berdiri sejak akhir abad XIX.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-pemkabbnn-sleman-bersinergi-canangkan-kalurahan-bersinar--9359
Perang Diponegoro yang dikenal sebagai Java Oorlog atau Perang Jawa berlangsung antara 1825-1830. Dalam durasi lima tahun itu strategi perang gerilya terbukti efektif menguras kas Belanda hingga membuatnya bangkrut dan mengalami krisis ekonomi dalam sejarahnya.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-tni-al-kirim-bantuan-bbm-dan-sembako-untuk-masyarakat-karimun-jawa-9363
Perang Diponegoro menjadi perang terbesar dan terlama yang dihadapi Belanda di luar benua Eropa. Dalam perspektif Indonesia, perang itu menjadi simbol atas membaranya keyakinan menang perang melawan Belanda.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-aliansi-aksi-sejuta-buruh-minta-presiden-cabut-perppu-cipta-kerja-9361
Jejak Diponegoro pun ditemukan di berbagai sudut desa hingga penjara dan benteng pertahanan di kota. Terekam dalam beragam narasi, melibatkan beragam tokoh, dan menyisakan situs, peninggalan sejarah serta memori kolektif yang tersimpan di benak masyarakat. Satu diantaranya seperti yang ada di Dusun Gancahan, Sidomulyo, Godean, Sleman.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-warga-sendangadi-sleman-salurkan-bantuan-untuk-korban-gempa-cianjur-9356
Tak banyak yang tahu bahwa salah satu episode Perang Diponegoro itu meletus di wilayah dusun Gancahan. Berbatas Kali Gagak Suro, prajurit Diponegoro bertempur melawan pasukan Belanda. Bukan sebuah kebetulan jika di kawasan itu terdapat makam Kyai Wirajamba, satu dari empat abdi dalem terpercaya Pangeran Mangkubumi (HB I).
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-dua-pembobol-rumah-jaksa-diringkus-di-jakarta-9341
Saat tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang (1756), Pangeran Mangkubumi yang suka berkelana pernah singgah di Gancahan dan bertemu dengan Kyai Wirajamba. Itulah yang membuka selubung sejarah yang menyelimuti masa lalu kawasan Sleman bagian barat.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-tni-al-kirim-bantuan-bbm-dan-sembako-untuk-masyarakat-karimun-jawa-9363
Itulah yang melatar belakangi pemerintah Kalurahan Sidomulyo, Godean, Sleman menggelar Haul ke-168 Pangeran Diponegoro. Sosok ksatria Jawa itu wafat di Makassar Sulawesi Selatan pada 8 Januari 1855. Bekerjasama dengan Pengurus Kalurahan Budaya Sidomulyo dan Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), Haul 168 Sang Pangeran digelar Sabtu 7 Januari 2023 di area parkir timur Embung Gagak Suro.
Siti Maghfirotin Na'im akan baca puisi Kancah Gagak Suro || YP - Wahjudi Djaja
Acara yang digelar mulai pukul 19.30 WIB antara lain dimeriahkan dengan Hadrah PP Mambaul Ulum Gancahan VI asuhan Kyai Ahmad Hamzah, pembacaan puisi oleh generasi muda Gancahan (‘Diponegoro’ karya Chairil Anwar oleh Laras Rahmawati) dan (‘Kancah Gagak Suro’ karya Wahjudi Djaja oleh Siti Maghfirotin Na'im).
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-pasca-nataru-harga-sembako-belum-mengalami-penurunan-9353
Selain itu juga diadakan pengukuhan Pengurus Kalurahan Budaya Sidomulyo serta Umbul Donga dan Sarasehan Sejarah ‘Kancah Perang Diponegoro di Kali Gagak Suro’ dengan Narasumber Ki Roni Sodewo (Trah Pangeran Diponegoro) dan Moderator Wahjudi Djaja SS MPd (Ketum Kasagama).
Pada bagian akhir acara akan diadakan pemutaran film berjudul ‘Titi Mangsa’ dengan aktor utama Ki Roni Sodewo yang berkisah tentang akhir masa perjuangan Pangeran Diponegoro pada 1830 yang bersumber dari Babad Diponegoro yang ditulis langsung oleh Sang Pangeran.
Pemerintah Kalurahan Sidomulyo berharap dengan mengangkat peristiwa Perang Diponegoro bisa menjadi generator yang mampu mengoptimalkan potensi Sidomulyo.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-ppk-di-sleman-terbentuk-kuota-30-persen-perempuan-terpenuhi-9351
"Kami berharap momentum itu bisa menggerakkan potensi yang dimiliki Sidomulyo. Selain aspek kesejarahan, ada peluang besar untuk memperkenalkan potensi seni budaya, kuliner, kerajinan, UMKM, perikanan, dan pariwisata. Harapan kami, itu berdampak pada peningkatan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat,” kata Lurah Sidomulyo Rustho Busono.
Sedangkan Ketum Kasagama Wahjudi Djaja menyampaikan, menarik benang merah jejak sejarah lalu merangkainya menjadi kisah merupakan tugas kesejarahan. "Mengangkat kisah yang hidup di dalam memori kolektif masyarakat ke dalam berbagai kegiatan yang positif, berfungsi menghidupkan sejarah. Dari situlah masyarakat dan bangsa ini bisa mengambil makna dan keteladanan,” ujarnya.
Sementara itu Masrokhim Imam selaku Ketua Pengelola Kalurahan Budaya Sidomulyo berharap agar upaya untuk mengangkat sejarah akan menjadi narasi yang penting bagi generasi penerus.
“Mereka akan memiliki kebanggaan tersendiri bahwa di wilayahnya pernah menjadi kancah peperangan yang begitu berarti bagi nasib bangsa. Kami berharap generasi muda meneladani semangat juang Pangeran Diponegoro untuk melanjutkan perjuangan,” tandasnya. (Iud)
