Yogyapos.com (YOGYA) - Berbagai cara ditempuh agar perekonomian masyarakat terus bergerak di tengah pandemi Covid-19, terutama sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM). Salah satunya menggelar pasar barter, sebuah sistem transaksi pertukaran barang yang pernah diterapkan Rasulullah Saw dan para sahabat. Barter sesungguhnya merupakan konsep perdagangan yang valid sepanjang zaman, bahkan ketika uang sudah digunakan untuk jual beli.
Ketua Umum Pasar Barter Indonesia, Bayu Gunawan, dalam acara grand opening peluncuran Pasar Barter Yogyakarta, Sabtu (15/8/2020), menjelaskan spirit utama dari pasar barter adalah pasar muslim pertama di Madinah. Tatkala hijrah dari Makkah ke Madinah, terdapat dua hal fundamental dibangun Rasulullah waktu itu, yaitu masjid Quba dan pasar. Pasar barter boleh dikatakan sebagai pasar sunah akhir zaman.
“Barter dilakukan Rasulullah bersama para sahabat saat panen gandum, kurma, atau hasil perkebunan lainnya yang kemudian saling barter sesuai kebutuhan. Dulu belum ada uang sehingga barter barang pun terjadi,” tutur Bayu kepada yogyapos.com usai acara seremoni peluncuran di Hotel Olympic, Jalan Sisingamangaraja, Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta.
Bayu menyampaikan, pasar yang digagas Yayasan Senang Sedekah Indonesia bekerja sama dengan Manajemen Hotel Olympic ini direncanakan istiqomah setiap Sabtu, pukul 07.00-12.00 WIB. Hotel Olympic tak hanya menjadi tempat transaksi barter, namun bisa pula dipakai tempat janjian, bertemu, atau cash on delivery (COD) setiap hari. Hal itu mengingat para pedagang di pasar barter juga mempromosikan dagangannya secara online.
“Selain dari Yogyakarta, para pedagang ada yang berasal dari Bantul, Kulonprogo. Kemudian rombongan UMKM Gunungkidul dikomandoi Bunda Umi, bahkan dari Salatiga Jawa Tengah turut hadir. Mereka berkumpul dan bersatu (berjamaah) pada peluncuran pasar barter ini,” ungkap Bayu.
Menurut Bayu, respon pedagang muslim di opening Pasar Barter Yogyakarta cukup bagus mencapai kurang lebih 70 orang pedagang menggelar lapaknya. Pihaknya telah menyediakan tempat di basement Hotel Olympic. Apabila dimaksimalkan tempat itu mampu memuat 100 lapak bahkan lebih. Pasar bersifat terbuka bagi semua kalangan baik muslim maupun non muslim.
“Responnya cukup luar biasa. Untuk selanjutnya, pekan depan akan kami tingkatkan tidak hanya pedagangnya saja, tetapi kami siap menjaring konsumennya juga. Sementara ini, publikasi yang kami lakukan belumlah maksimal, masih terbatas melalui media sosial dan Youtube” ujarnya.
Bayu memaparkan ada tiga sistem transaksi berlaku di Pasar Barter Yogyakarta yaitu: barang ditukar barang, barang ditukar jasa atau sebaliknya, dan barang dibayar dengan uang. Konsep berlaku umum memang masih berupa uang. Itu semua dikembalikan lagi kepada para pelaku pasar menyesuaikan kesepakatan transaksi diantara mereka.
Lima poin action (Lima eS) perlu digarisbawahi dalam Pasar Barter Yogyakarta. Pertama, SYARAT: Bismillah, niat bisnis langsung bersama Allah dan hanya mengharap ridho Allah semata. Kedua, SIAP: Siap berjamaah, jihad dalam rangka memperkuat ekonomi umat, Ketiga, SLOGAN: Sunah berjamaah sampai surga. Keempat, SOP: tanpa sewa, tanpa pajak, tanpa riba, ditambah sedekah. Dan poin kelima, SEDEKAH: Sempurnakan muamalah jual beli dengan bersedekah.
“Kami berharap kelima poin tersebut dapat menjadi panduan di Pasar Barter Yogyakarta sehingga proses barter atau ijol-ijolannya diridhoi Allah, sukses dan selamat dunia akhirat,” ucap Bayu.
Peluncuran ditandai penandatanganan Deklarasi Pasar Barter Yogyakarta – Siap Berjamaah Jihad Ekonomi Umat, Sunah berjamaah sampai surga. Di samping itu, diisi pula kegiatan demo masak nasi arab instan oleh owner Laa Raiba Food & HalalMart, H Supri Sugiarto. Masyarakat yang tertarik berpartisipasi dapat menghubungi Pasar Barter Yogyakarta di nomor WA 089603055777. (Muf)
